Hasil Pertemuan: Dirut Jasa Raharja: Kecelakaan ubah tatanan sosial-ekonomi keluarga

Dirut Jasa Raharja: Kecelakaan Ubah Tatanan Sosial-Ekonomi Keluarga

Jakarta – Muhammad Awaluddin, Direktur Utama Jasa Raharja, menjelaskan bahwa kecelakaan lalu lintas tidak hanya berdampak pada kehilangan nyawa, tetapi juga mengakibatkan perubahan struktur sosial-ekonomi keluarga. Ia mengungkapkan, korban kecelakaan sering kali berusia produktif atau menjadi tulang punggung ekonomi, sehingga keluarga yang ditinggalkan mengalami pergeseran kondisi keuangan dan sosial.

Pendekatan Preventif Diperlukan

Awaluddin menekankan perlunya pergeseran dari pendekatan responsif ke preventif, dengan memperkuat sistem terintegrasi untuk mengurangi insiden kecelakaan secara berkelanjutan. “Kecelakaan terus berulang, dan saat ini kita masih fokus pada penanganan daripada pencegahan,” ujarnya. Ia menyatakan bahwa Jasa Raharja berperan aktif dalam ekosistem pencegahan, termasuk pemetaan titik rawan kecelakaan, edukasi khusus, dan peningkatan kinerja respons pertama di lapangan.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Pendekatan keselamatan transportasi harus berubah dari reaktif menjadi proaktif, menggunakan data untuk mencegah kejadian serupa,” tambah Awaluddin.

Data Lokal Sulawesi Selatan

Dalam diskusi di Makassar, data Triwulan I 2026 menunjukkan peningkatan santunan di Sulawesi Selatan sebesar 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah kasus kecelakaan juga naik sekitar 8 persen, mencapai lebih dari 2.000 insiden. Meski demikian, Awaluddin tidak merinci angka tersebut.

Kinerja Nasional dan Lokal

Berdasarkan data dari Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Korlantas Polri, angka kecelakaan nasional mencapai lebih dari 151.000 per tahun, dengan korban meninggal lebih dari 217.000 orang. Tren ini terus meningkat setiap tahun. Sementara itu, di Sulawesi Selatan, Polda setempat telah mengidentifikasi area rawan kecelakaan, seperti Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep.

Hasil Forum Kolaborasi

Kombes Pol. Pria Budi, Dirlantas Polda Sulsel, menyampaikan bahwa meski kasus kecelakaan naik 8 persen, angka korban meninggal justru turun 24 persen—dari 234 orang pada Triwulan I 2025 menjadi 179 orang pada periode yang sama tahun 2026. Dari data tersebut, sebanyak 74 persen kecelakaan bersifat tunggal, dengan 78 persen kendaraan yang terlibat adalah sepeda motor. Kecelakaan paling sering terjadi pada pukul 15.00–18.00 Wita, di kondisi cuaca dan jalan yang baik.

“Keselamatan tidak hanya berhenti pada pencegahan, tetapi juga pada kualitas penanganan segera setelah kecelakaan terjadi,” kata Pria Budi.

Forum juga merumuskan beberapa kesepakatan, seperti penguatan edukasi berkendara di titik rawan kecelakaan dan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) untuk komunitas pengemudi sebagai petugas tanggap awal. Upaya ini diharapkan dapat menekan fatalitas korban secara lebih efektif.

Ditempat yang sama, forum menghadirkan perwakilan dari berbagai lembaga, termasuk Dinas Pendidikan, Perhubungan, Kesehatan, BPTD Kelas II Prov. Sulsel, BBPJN Sulsel, Dinas Bina Marga, serta organisasi transportasi lainnya.