Special Plan: KLH kerahkan drone thermal bantu deteksi titik api di TPA Jatiwaringin

1000402298

KLH Berencana Gunakan Drone Thermal untuk Deteksi Titik Api di TPA Jatiwaringin

Special Plan – Kabupaten Tangerang menjadi fokus perhatian Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) karena terjadi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin sejak Selasa (30/6). Untuk meningkatkan efektivitas pemantauan, KLH berencana memanfaatkan teknologi drone thermal, yang diklaim mampu membantu mengidentifikasi sumber api di area yang sulit dijangkau. Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menjelaskan bahwa rencana ini bertujuan mempermudah tim lapangan dalam mengontrol api yang terus mengancam kawasan TPA tersebut.

Collaboration dengan Tim Penegak Hukum dan Pihak Bandara

Dalam kunjungan ke lokasi kebakaran di Tangerang, Sabtu siang, Wamen Diaz menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta koordinasi dengan Tim Penegak Hukum (Gakkum) serta instansi terkait seperti bandara dan TNI AU. “Kita mendorong penggunaan drone thermal secara berkala untuk monitoring dan analisis api,” ujarnya. Langkah ini dianggap sebagai inovasi dalam mengatasi masalah kebakaran yang berlangsung selama lima hari, sejak Selasa lalu.

“Ada beberapa tantangan dalam menangani kebakaran di TPA Jatiwaringin yang kita diskusikan dan coba pecahkan melalui metode ini,” kata Wamen Diaz.

TPA Jatiwaringin, yang terletak di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, menjadi lokasi yang rentan kebakaran karena kumpulan sampah yang menumpuk cukup tinggi. Api dari gas metan sering kali bersembunyi di bawah lapisan tumpukan, membuatnya sulit terdeteksi dengan metode tradisional. Dengan drone thermal, kemampuan untuk memantau dan mengidentifikasi sumber api dari jarak jauh meningkat signifikan, terutama saat kondisi cuaca gelap atau hujan.

Tim Gabungan dari Berbagai Instansi

Kebakaran di TPA Jatiwaringin saat ini diatasi oleh tim gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), KLH, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), dan pemerintah daerah setempat. Wamen Diaz menegaskan bahwa pengerahan drone thermal akan menjadi bagian dari upaya penanggulangan tersebut. “Dengan teknologi ini, kita bisa mempercepat proses deteksi dan respons terhadap titik api,” tambahnya.

Metode ini dipilih karena masalah utama yang dihadapi petugas adalah keterbatasan visual dalam mengamati api yang tersembunyi di antara tumpukan sampah. Drone thermal, yang dilengkapi sensor inframerah, dapat mendeteksi panas meski dalam kondisi yang gelap atau terkunci oleh material padat. Selain itu, teknologi ini juga diharapkan mampu mengurangi risiko keselamatan bagi petugas yang terpaksa masuk ke area berbahaya.

Penggunaan Helikopter Water Bombing dan Persyaratan Izin Terbang

Untuk mendukung penanganan kebakaran, KLH juga berkoordinasi dengan bandara dan TNI AU guna memastikan izin terbang drone dapat dikeluarkan tanpa hambatan. “Koordinasi ini penting agar proses pemadaman melalui helikopter water bombing tidak terganggu,” jelas Wamen Diaz. Meski begitu, area TPA Jatiwaringin yang dekat dengan bandara membuat pemantauan hanya bisa dilakukan pada jam tertentu, yakni saat lalu lintas udara tidak terlalu padat.

Proses pemadaman melalui udara melibatkan helikopter yang melepaskan air atau bahan kimia untuk memadamkan api. Dengan drone thermal, kemungkinan lokasi titik api bisa lebih akurat, sehingga penggunaan sumber daya udara lebih efisien. “Koordinasi dengan bandara dan TNI AU membantu memastikan drone dapat bekerja optimal di area yang strategis,” tambahnya.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin telah memengaruhi lingkungan sekitar, termasuk udara dan tanah. KLH menyebutkan bahwa pemanfaatan teknologi ini bukan hanya solusi sementara, tetapi juga langkah awal dalam mencegah kejadian serupa di masa depan. “Kita ingin menciptakan sistem pemantauan yang lebih cepat dan tepat,” kata Wamen Diaz.

Analisis Dampak dan Strategi Jangka Panjang

Menurut Wamen Diaz, kebakaran TPA Jatiwaringin menunjukkan pentingnya integrasi teknologi modern dalam penanggulangan bencana. Ia menekankan bahwa masalah kebakaran di TPA tidak hanya diatasi dengan ekstinguisher atau truk pemadam, tetapi juga perlu disertai dengan analisis data yang mendukung keputusan taktis. “Dengan drone thermal, kita bisa mendapatkan informasi real-time untuk menentukan titik api yang paling kritis,” ujarnya.

Selain itu, KLH juga mempertimbangkan keberlanjutan strategi pengelolaan sampah di TPA Jatiwaringin. “Kita harus mengurangi risiko kebakaran dari akar masalah, yaitu dengan mengoptimalkan sistem pembuangan dan pemrosesan sampah,” katanya. Upaya ini diharapkan bisa mengurangi frekuensi kejadian kebakaran di masa mendatang.

TPA Jatiwaringin merupakan salah satu dari beberapa fasilitas pengelolaan sampah di wilayah Banten yang terus menjadi perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran di TPA sering terjadi karena tumpukan sampah yang tidak dikelola secara baik. KLH berharap teknologi drone thermal akan menjadi alat yang membantu mengawasi kondisi secara lebih intensif, terutama di saat situasi memburuk.

Penanganan Darurat dan Masa Depan

Dalam situasi darurat, tim gabungan yang terlibat terus berupaya menangani kebakaran dengan cepat. Wamen Diaz menambahkan bahwa koordinasi antarinstansi menjadi kunci keberhasilan upaya penanganan tersebut. “Kita butuh kerja sama yang solid antara KLH, BNPB, Kemenhut, dan pemerintah daerah,” katanya. Teknologi drone thermal diperkirakan akan mulai diterapkan dalam beberapa hari ke depan, setelah selesai proses persiapan dan pemeriksaan izin terbang.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin juga memberikan pelajaran bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan pengawasan terhadap keberadaan api di tempat-tempat yang rawan. “Ini menjadi contoh bagaimana teknologi bisa digunakan untuk memperkuat keberhasilan operasi darurat