Special Plan: Pelaku wisata Lembang sambut reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

436350

Pelaku Pariwisata Lembang Antusias Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Special Plan – Bandung Barat, Jawa Barat – Para pelaku industri pariwisata di wilayah Lembang, Bandung Barat, memberikan sambutan positif terhadap rencana reaktivasi penerbangan komersial di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Mereka berharap keputusan ini mampu meningkatkan jumlah pengunjung, terutama wisatawan internasional, serta memperkuat sektor pariwisata setempat. Sebagai pengelola Floating Market Lembang, Intania Setiati, Public Relations dari destinasi wisata tersebut, mengungkapkan bahwa akses langsung ke Bandung akan memberi kemudahan bagi wisatawan asing yang ingin mengunjungi kawasan Lembang.

“Kami berharap dengan adanya penerbangan langsung ke Bandara Husein Sastranegara, minat wisatawan mancanegara terhadap Lembang bisa kembali meningkat karena akses menjadi lebih efisien,” ujarnya di Bandung, Sabtu.

Intania menjelaskan bahwa sebelum penerbangan komersial dipindahkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati pada 2023, wisatawan asing dari Malaysia, Singapura, Jepang, Tiongkok, serta negara lainnya sudah menjadi bagian penting dari kunjungan wisatawan ke kawasan Lembang. Mereka menyumbang sekitar 10 persen dari total pengunjung, terutama selama musim liburan atau acara besar.

“Wisatawan mancanegara sejak awal sudah menjadi andalan bagi Lembang. Tidak hanya dari Malaysia, Singapura, Jepang, dan Tiongkok, tapi juga negara lain yang memiliki keterhubungan kuat dengan daerah ini,” tambah Intania.

Menurut Intania, keberadaan Bandara Husein Sastranegara sebelumnya menjadi faktor penentu dalam mengoptimalkan pariwisata daerah. Selama penerbangan komersial beroperasi dari bandara tersebut, akses ke destinasi wisata seperti Lembang, Parongpong, dan Cisarua lebih mudah dijangkau. Namun, setelah pindah ke Kertajati, jumlah pengunjung asing sempat berkurang karena jarak yang lebih jauh dari Bandung.

Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara, yang akan dimulai September 2026, dianggap sebagai momentum penting untuk memulihkan kegiatan pariwisata. Pemulihan ini juga diharapkan mampu mendorong perekonomian Bandung Raya, khususnya bagi pengusaha lokal yang bergantung pada sektor wisata. Intania menyatakan, pembukaan kembali penerbangan di bandara tersebut diperkirakan akan mengurangi waktu dan biaya perjalanan, sehingga menarik lebih banyak wisatawan.

“Pengunjung berpotensi meningkat jika ada akses langsung ke Bandung. Tidak hanya memangkas waktu, tetapi juga biaya transportasi, yang berdampak langsung pada minat wisatawan untuk berkunjung,” katanya.

Menyambut reaktivasi bandara, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat sedang mempersiapkan strategi pengembangan destinasi wisata. Salah satu langkahnya adalah penerapan Sapta Pesona, prinsip pengelolaan destinasi yang menekankan kebersihan, keamanan, kenyamanan, keamanan, kesopanan, keselamatan, dan keaslian. Selain itu, dinas juga melakukan pemetaan potensi dan karakteristik objek wisata untuk memperkuat promosi daerah.

Data dari dinas pariwisata menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan di kawasan Lembang mulai membaik dalam beberapa bulan terakhir. Pada Mei 2026 saja, tercatat sebanyak 83.014 pengunjung mengakses 15 objek wisata utama, dengan mayoritas kunjungan berasal dari area Lembang, Parongpong, dan Cisarua. Angka ini menunjukkan keinginan wisatawan untuk mengunjungi daerah tersebut, yang berpotensi lebih besar lagi dengan akses udara yang lebih cepat.

Reaktivasi sebagai Respons Kebijakan Pemerintah

Rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan perlunya memperkuat konektivitas transportasi di wilayah Bandung Raya. Langkah ini diharapkan mampu menyelaraskan kebutuhan industri pariwisata dengan kemudahan akses bagi pengunjung, termasuk wisatawan internasional. Dengan jadwal penerbangan komersial yang kembali dioperasikan mulai September 2026, diharapkan bisa mempercepat pergerakan ekonomi dan memperluas pasar wisata.

Intania menilai, pembukaan kembali penerbangan domestik dan internasional di bandara tersebut akan memberi dampak positif terhadap sektor pariwisata. Ia menambahkan, angka kunjungan wisatawan internasional sedang meningkat, terutama saat momentum libur panjang seperti bulan Mei menjadi titik balik.

“Kunjungan wisatawan mancanegara mulai pulih, terutama saat ada agenda libur panjang. Ini menjadi momentum yang baik untuk menarik lebih banyak pengunjung,” kata Intania.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung juga menyiapkan dukungan untuk memastikan reaktivasi bandara berjalan optimal. Mereka melakukan koordinasi lintas instansi, termasuk dengan dinas pariwisata dan pihak pengelola bandara, untuk menyiapkan infrastruktur pendukung seperti fasilitas penumpang, jadwal penerbangan, serta sistem keamanan. Langkah ini bertujuan agar operasional penerbangan komersial tidak mengalami hambatan ketika dimulai.

Menurut Intania, reaktivasi bandara bukan hanya tentang meningkatkan jumlah pengunjung, tetapi juga mengembalikan peran Bandara Husein Sastranegara sebagai pintu masuk utama ke daerah pariwisata Bandung Raya. Ia berharap, dalam jangka panjang, bandara ini bisa menjadi bagian dari jaringan transportasi yang terpadu, memperkuat keterhubungan antara destinasi wisata lokal dan nasional.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat juga memperkuat strategi promosi, termasuk kerja sama dengan pihak swasta dan media. Mereka menargetkan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, dengan memanfaatkan potensi objek wisata alam, budaya, dan edukasi yang ada di kawasan Lembang. Selain itu, pihak dinas juga mendorong pengembangan usaha kecil menengah (UKM) yang terkait dengan pariwisata, seperti restoran, penginapan, dan pusat oleh-oleh.

Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara diharapkan mampu mempercepat pergerakan pariwisata di wilayah Bandung Barat, yang merupakan salah satu daerah strategis di Jawa Barat. Dengan akses udara yang lebih dekat, destinasi wisata di sini bisa menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan dari kota-kota besar di Indonesia dan luar negeri. Hal ini akan berdampak signifikan pada perekonomian sekitar, khususnya bagi warga lokal yang bekerja di sektor pariwisata.

Menurut Intania, pengunjung internasional sebelumnya seringkali mengalami kesulitan karena jarak bandara utama ke Lembang yang cukup jauh. Dengan adanya penerbangan langsung, mereka bisa lebih mudah menjangkau destinasi wisata ini. “Ini bisa mempercepat proses perjalanan wisatawan, sehingga mereka lebih nyaman dan puas,” katanya.

Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara juga menjadi harapan besar bagi pengelola destinasi wisata yang ingin memperluas pasar. Dengan ketersediaan fasilitas bandara, pengunjung bisa lebih cepat menemukan layanan wisata, seperti penginapan, transportasi, dan aktivitas menarik di kawasan Lembang. Pemulihan kinerja bandara ini dianggap sebagai langkah penting untuk meningkatkan keberlanjutan pariwisata daerah, seiring peningkatan minat wisatawan di era pasca-pandemi.