Key Strategy: Kemendikdasmen: Revitalisasi sekolah tingkatkan pendapatan warung
Kemendikdasmen: Revitalisasi Sekolah Tingkatkan Pendapatan Warung
Key Strategy – Dari Jakarta, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan bahwa program revitalisasi satuan pendidikan telah berhasil meningkatkan pendapatan warung-warung di sekitar lingkungan sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kebijakan ini menjadi komitmen pemerintah untuk menyediakan sarana pendidikan yang aman dan layak. “Kualitas pendidikan secara umum juga ditentukan oleh fasilitas yang memadai dan mendukung,” kata Mu’ti dalam pernyataan tertulis yang dibagikan pada Jumat.
Kemitraan Lokal dan Swakelola
Menurut Mu’ti, pendekatan swakelola dalam revitalisasi sekolah memberikan manfaat yang signifikan. Model ini, katanya, tidak hanya mempercepat pelaksanaan program, tetapi juga lebih efisien dalam penggunaan dana. Selain itu, metode tersebut berdampak positif terhadap perekonomian lokal karena memastikan kebutuhan tenaga kerja dan pembangunan diisi oleh masyarakat setempat. “Dengan membangun fasilitas pendidikan secara mandiri, kita bisa menciptakan lapangan kerja yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari warga sekitar,” ujarnya.
“Kami membentuk tim P2SP yang melibatkan masyarakat sekitar untuk ketua, keamanan, hingga pelaksana teknis, serta didukung tim perencanaan yang memiliki keahlian di bidangnya. Alhamdulillah dengan adanya kegiatan revitalisasi ini membantu juga untuk perekonomian masyarakat sekitar,”
Kepala SMP Negeri 9, Ahmat Yamani, menjelaskan bahwa sekolah tersebut menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp2,6 miliar. Dana tersebut digunakan untuk merehabilitasi delapan ruang kelas beserta peralatannya, ruang administrasi, ruang komputer, membangun tiga unit toilet, serta merehabilitasi satu toilet yang sebelumnya mengalami kerusakan. “Dengan kegiatan ini, lingkungan sekolah menjadi lebih nyaman dan layak untuk menunjang proses belajar mengajar,” katanya.
Revitalisasi ini juga memberikan peran penting kepada masyarakat sekitar. Seluruh tahapan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan melibatkan partisipasi aktif warga. Dengan adanya peluang kerja, para pekerja lokal bisa mendapatkan penghasilan tambahan, yang kemudian dialihkan ke usaha-usaha kecil seperti warung. “Masyarakat terlibat langsung dalam proyek ini, sehingga mereka bisa menikmati manfaat secara langsung,” ujar Yamani.
Contoh Lain dari Bangka Tengah
Selain SMP Negeri 9, SLB Negeri Koba di Kabupaten Bangka Tengah juga merasakan manfaat dari program revitalisasi. Sekolah tersebut menerima bantuan senilai Rp1,43 miliar untuk membangun enam ruang kelas baru, merehabilitasi tiga ruang kelas, aula, serta asrama yang sebelumnya sering tergenang air karena kebocoran. “Pembangunan ini tidak hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi juga meningkatkan akses pendidikan bagi siswa,” kata Kepala SLB Negeri Koba, Musdiyanto.
“Program ini sangat berdampak pada perekonomian warga sekitar yang terlibat menjadi tukang karena mereka bisa bekerja dan memperoleh pendapatan dari proyek pembangunan sekolah ini sehingga bisa membelanjakan uangnya di warung-warung,”
Musdiyanto menambahkan bahwa keberhasilan revitalisasi tidak hanya terlihat dari perbaikan infrastruktur, tetapi juga dari peningkatan kualitas layanan pendidikan. “Siswa kini memiliki ruang belajar yang lebih memadai, sehingga aktivitas belajar dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya. Selain itu, penggunaan tenaga kerja lokal dalam proyek ini membantu mengurangi ketergantungan pada tenaga luar daerah, sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat sekitar.
Perbaikan Ruang Belajar dan Kondisi Sekitar
Program revitalisasi sekolah juga menjadi solusi atas keterbatasan ruang belajar yang selama ini menghambat proses pendidikan. Sebelum menerima bantuan, beberapa ruangan seperti musala, ruang tata boga, dan kantor guru harus dialihfungsikan menjadi ruang kelas karena tidak cukupnya jumlah ruangan. “Dengan adanya bantuan ini, sekolah bisa menambah ruang belajar yang sesuai dengan kebutuhan pengajaran,” jelas Yamani.
Di sisi lain, Mu’ti menekankan bahwa revitalisasi sekolah bukan hanya fokus pada perbaikan fisik, tetapi juga pada keselamatan dan kenyamanan lingkungan belajar. “Kita ingin memastikan bahwa anak-anak memiliki tempat yang layak untuk berkembang secara optimal,” ujarnya. Pemerintah, menurutnya, terus berupaya memperkuat kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan pihak terkait untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik.
Program ini juga mendukung pengembangan keberlanjutan dalam pembangunan daerah. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses revitalisasi, muncul rasa memiliki terhadap sekolah, sehingga perawatan dan pengelolaannya bisa lebih baik. Selain itu, perusahaan kontraktor lokal yang terlibat dalam proyek ini pun mengalami peningkatan kinerja, sekaligus mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di sekitar area sekolah.
Revitalisasi sekolah juga menjadi kegiatan yang menginspirasi warga lainnya untuk berpartisipasi dalam proyek serupa. “Dengan adanya contoh nyata seperti di SMP Negeri 9 dan SLB Negeri Koba, masyarakat mulai sadar bahwa kontribusi mereka terhadap pendidikan sangat berarti,” kata Mu’ti. Ia berharap program ini bisa terus diperluas ke lebih banyak sekolah, khususnya di daerah-daerah yang masih membutuhkan dukungan infrastruktur pendidikan.
Menurut Mu’ti, inisiatif revitalisasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara holistik. “Selain memperbaiki sarana, program ini juga memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat,” ujarnya. Ia menilai bahwa kolaborasi tersebut tidak hanya membangun fasilitas pendidikan, tetapi juga membangun tali silaturahmi yang kuat antara para pemangku kepentingan.
