Key Strategy: BBRMP Maluku verifikasi penambahan luas tanam padi gogo di Aru
BBRMP Maluku Lakukan Verifikasi Peningkatan Luas Tanam Padi Gogo di Aru
Key Strategy – Sebagai bagian dari upaya mendukung percepatan swasembada pangan nasional, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Maluku melakukan verifikasi terhadap peningkatan luas tanam (LTT) padi gogo di Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru. Verifikasi ini bertujuan memastikan konsistensi data yang dihimpun dengan kondisi sebenarnya di lapangan, serta memperkuat pelaksanaan Program Strategis Kementerian Pertanian. Kegiatan dilakukan di Ambon, Jumat, dan dipimpin oleh Kepala BBRMP Maluku, Gunawan, yang menjelaskan bahwa proses ini dilakukan untuk mengawal perkembangan pertanaman dan menegaskan akurasi data yang digunakan sebagai dasar penyusunan laporan serta pengambilan kebijakan.
Verifikasi LTT ini juga melibatkan tim Penanggung Jawab (PJ) Swasembada Pangan Kabupaten Kepulauan Aru, Fadhilah Kusumawardhani, serta sejumlah anggota tim pendamping. “Tujuan utama kegiatan ini adalah memastikan bahwa realisasi tanam oleh petani sesuai dengan target yang ditetapkan, sekaligus mengecek konsistensi data lapangan,” kata Gunawan dalam rilis yang diterbitkan. Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi langkah penting dalam memastikan data LTT yang dihasilkan dapat menjadi acuan nyata untuk meningkatkan produksi pangan di daerah tersebut.
“Selain memastikan realisasi tanam oleh petani, monitoring juga dilakukan untuk menjamin akurasi data LTT sebagai dasar penyusunan laporan dan bahan pengambilan kebijakan dalam upaya peningkatan produksi pangan,” ujar Fadhilah Kusumawardhani, yang juga memimpin tim verifikasi. Ia menekankan bahwa data yang akurat sangat penting untuk memudahkan evaluasi kinerja program serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya pertanian.
Hasil verifikasi menunjukkan adanya penambahan luas tanam padi gogo mencapai 217 meter persegi. Penanaman dilakukan pada 29 Juni 2026, dengan menggunakan varietas unggul Mapan P-05. Metode yang diterapkan adalah sistem tanam benih langsung (tabela) berdasarkan pola Jajar Legowo (Jarwo) 4:1. Pola ini dipilih karena disesuaikan dengan kondisi lahan setempat, sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi tanah.
Verifikasi ini tidak hanya fokus pada luas tanam, tetapi juga menguji keberlanjutan pendampingan oleh penyuluh pertanian dan pengelolaan kebun secara terpadu. Gunawan menyatakan bahwa BBRMP Maluku terus berkomitmen untuk mengawasi program peningkatan produksi pangan, terutama melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. “Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh pertanian, dan petani diharapkan dapat mempercepat terwujudnya swasembada pangan,” tambahnya.
Pola tanam Jarwo 4:1 menjadi salah satu inovasi yang diterapkan dalam penanaman padi gogo. Pola ini mengacu pada pengaturan jarak antara tanaman padi dan legowo (tanaman pokok) dengan rasio 4:1, sehingga memungkinkan pertumbuhan tanaman yang lebih optimal. Menurut Fadhilah, metode ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan pertanian di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.
“Dengan verifikasi yang dilakukan secara rutin, BBRMP Maluku berharap setiap penambahan luas tanam dapat terdokumentasi secara akurat dan menjadi indikator nyata peningkatan produksi padi di daerah,” kata Gunawan. Ia menambahkan bahwa langkah ini akan memberikan dampak positif bagi ketersediaan bahan pangan lokal, terutama pada komoditas padi yang menjadi andalan masyarakat Aru.
Kecamatan Pulau-Pulau Aru menjadi salah satu area yang diprioritaskan dalam program peningkatan produksi pangan. Lokasi ini memiliki potensi lahan pertanian yang luas, namun sebelumnya masih terbatas dalam penggunaannya. Dengan penerapan pola tanam Jarwo 4:1 dan varietas Mapan P-05, BBRMP Maluku berupaya memaksimalkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko gagal panen. Fadhilah menyoroti bahwa pengawasan yang terus-menerus dari BBRMP akan memastikan kesinambungan program tersebut.
Verifikasi LTT di Aru juga mencakup pelatihan bagi petani tentang teknik tanam yang lebih modern. Selama kegiatan, tim pendamping memberikan edukasi terkait pengelolaan air, pemupukan, serta pemanfaatan sisa tanaman sebagai bahan organik. “Pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan petani dalam mengelola kebun secara mandiri, sekaligus memastikan teknik yang digunakan sesuai dengan prinsip pertanian berkelanjutan,” jelas Gunawan. Ia menegaskan bahwa partisipasi aktif petani adalah kunci keberhasilan program swasembada pangan.
Berikutnya, BBRMP Maluku menargetkan penguatan sinergi antara berbagai pihak dalam pengelolaan data pertanian. Gunawan menyebutkan bahwa data yang akurat dan up-to-date sangat vital dalam mengambil kebijakan yang tepat. “Kehadiran data LTT yang valid akan memudahkan pemerintah daerah dalam merancang kebijakan peningkatan produksi pangan, termasuk alokasi subsidi atau bantuan teknis,” tambahnya. Kegiatan verifikasi diharapkan menjadi benchmark dalam pengumpulan data pertanian lainnya di wilayah Maluku.
Padi gogo memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Aru, yang secara ekonomi bergantung pada hasil pertanian. Dengan peningkatan luas tanam sebesar 217 meter persegi, BBRMP Maluku berharap dapat mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor. “Kita perlu memastikan bahwa setiap meter persegi lahan pertanian dapat memberikan kontribusi maksimal terhadap produksi pangan nasional,” ujar Fadhilah.
Verifikasi LTT ini juga menjadi langkah awal dalam evaluasi capaian program swasembada pangan. Gunawan menyatakan bahwa BBRMP Maluku akan terus melakukan pengawalan, baik melalui lapangan maupun analisis data. “Dengan pendekatan terstruktur, kita bisa menilai apakah target peningkatan produksi pangan dapat tercapai secara konsisten,” katanya. Ia berharap, program ini tidak hanya meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang signifikan, seperti peningkatan pendapatan petani dan ketersediaan bahan pangan di tingkat lokal.
Kabupaten Kepulauan Aru sendiri merupakan salah satu daerah yang dinilai memiliki potensi besar dalam pertanian. Meski menghadapi tantangan seperti topografi yang beragam dan aksesibilitas yang terbatas, upaya peningkatan produksi padi gogo tetap menjadi fokus utama. Verifikasi yang dilakukan hari ini membuktikan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya
