Special Plan: KPPPA minta anak berani suarakan gagasan untuk perbaikan kebijakan
KPPPA Dorong Anak-Anak Berperan Aktif dalam Perbaikan Kebijakan
Special Plan – Jakarta – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mendorong serta memfasilitasi anak-anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya dalam rangka meningkatkan kualitas kebijakan pemerintah yang lebih inklusif dan empatik terhadap anak serta perempuan. Hal ini diungkapkan oleh Pelaksana tugas Deputi Pemenuhan Hak Anak KPPPA, Rini Handayani, saat menghadiri Festival Kisah Inspiratif Wahana Visi Indonesia (WVI) di Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Kamis. Menurut Rini, keberhasilan perubahan politik dan sosial tidak terlepas dari kemampuan anak-anak untuk berbicara secara terbuka tentang aspirasi mereka, sekaligus menjadi bagian dari solusi yang dibutuhkan bangsa.
Pentingnya Suara Anak dalam Pembangunan
Rini menekankan bahwa partisipasi anak bukan sekadar simbol, melainkan bagian integral dari proses pengambilan keputusan. “Indonesia Emas tidak akan terwujud jika anak-anak merasa diabaikan atau tidak memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan mereka,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembentukan karakter bangsa harus dimulai sejak tahap awal kehidupan, bahkan dalam kandungan, dengan memperhatikan kondisi anak sejak lahir.
“Perubahan lahir dari suara anak-anak yang berani menyampaikan gagasan. Jika mereka tidak diberi kesempatan, maka kebijakan akan sulit menjadi relevan dan berkelanjutan,” kata Rini dalam kesempatan tersebut.
Peran Komunitas dalam Mendukung Anak
Rini menyebutkan bahwa forum dan organisasi seperti Forum Anak serta Dewan Anak berfungsi sebagai pengayom bagi suara-suara muda. Komunitas ini, menurutnya, berperan penting dalam memperkuat praktik-praktik positif pemenuhan hak anak, seperti program edukasi dan layanan perawatan yang telah berjalan di berbagai daerah. “Mereka tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga agen perubahan yang bisa memberikan masukan langsung ke dalam pembuatan kebijakan,” jelas Rini.
Kebijakan Harus Sesuai dengan Perspektif Anak
Dalam paparannya, Rini juga menyoroti pentingnya pemerintah mengevaluasi apakah kebijakan telah diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. “Terkadang, dari perspektif orang dewasa, kita merasa kebijakan itu sudah inklusif. Namun, dari sudut pandang anak-anak, mungkin masih ada celah,” tambahnya. Ia mencontohkan bahwa melalui Festival seperti ini, anak-anak bisa memperlihatkan keberhasilan program atau menyampaikan kritik yang terbuka.
“Anak-anak punya kekuatan untuk mengingatkan pemerintah bahwa kebijakan harus sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika tidak, maka program yang dijalankan mungkin tidak relevan dengan kehidupan nyata,” ucap Rini.
Penguatan Regulasi dan Kolaborasi
KPPPA, kata Rini, terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat regulasi perlindungan anak. Salah satu contohnya adalah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan (usia 0-2 tahun). “Kebijakan ini memastikan bahwa kebutuhan anak dalam masa pertumbuhan awal diperhatikan secara komprehensif,” terangnya.
Dalam rangka mewujudkan partisipasi anak yang bermakna, KPPPA juga menggencarkan program seperti Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (Kabupaten Layak Anak) dan penguatan relawan serta aktivis yang menjadi pendamping perempuan dan anak. “Mereka memainkan peran kunci dalam menyuarakan hak-hak anak di tingkat lokal hingga nasional,” katanya.
Pendidikan dan Kebiasaan Positif
Menurut Rini, investasi terbaik bagi bangsa adalah membentuk generasi yang berkualitas melalui pendidikan positif. KPPPA aktif mengedukasi masyarakat tentang cara pengasuhan anak yang sehat, termasuk kebijakan sekolah ramah anak dan kolaborasi melalui Ruang Bersama Indonesia di tingkat desa dan kelurahan. “Ini adalah langkah untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki lingkungan yang mendukung pertumbuhan fisik, mental, dan sosialnya,” papar Rini.
Kebijakan yang Ramah dan Berkelanjutan
KPPPA berkomitmen pada penguatan kebijakan yang tidak hanya mencakup perlindungan anak, tetapi juga menjamin keberlanjutan program jangka panjang. “Kita harus terus mengawasi apakah kebijakan itu benar-benar mencerminkan aspirasi anak, atau hanya sekadar slogan,” tegas Rini. Ia menyoroti bahwa anak bukan hanya penerima manfaat, melainkan mitra yang aktif dalam membangun masa depan Indonesia.
“Festival seperti ini tidak hanya memberikan ruang untuk menampilkan program yang sukses, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak menjadi pemimpin perubahan. Mereka bisa berbicara sebagai narasumber, seniman, atau bahkan pengambil kebijakan di masa depan,” ujarnya.
Penekanan pada Partisipasi Nyata
Dalam kesimpulannya, Rini menegaskan bahwa partisipasi anak harus diberikan nilai nyata, bukan sekadar formalitas. “Kita perlu menciptakan ruang di mana anak-anak merasa dihargai dan bisa menyampaikan ide-ide mereka secara bebas,” imbuhnya. Ia juga menekankan bahwa pemerintah harus terus berinovasi dalam memperkuat program-program yang berorientasi pada hak anak, termasuk memperbaiki sistem pendidikan dan perlindungan sosial.
Keberhasilan pembangunan, menurut Rini, bergantung pada keterlibatan anak dalam semua aspek. “Dari dalam kandungan hingga usia remaja, anak harus memiliki akses untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, dan perlindungan yang sama dengan orang dewasa. Ini adalah investasi yang paling berharga bagi masa depan bangsa,” ujarnya. Dengan demikian, KPPPA terus berupaya menciptakan kebijakan yang tidak hanya berpijak pada kebutuhan anak, tetapi juga mencerminkan perspektif mereka secara utuh.
Sebagai bagian dari upaya ini, KPPPA menggandeng berbagai lembaga untuk memastikan bahwa anak-anak terlibat dalam pengambilan keputusan. “Kita perlu melibatkan mereka dalam berbagai forum, agar suara mereka bisa diterima secara formal,” tambah Rini. Dengan partisipasi yang aktif, anak-anak tidak hanya menjadi bagian dari kebijakan, tetapi juga menjadi penentu arah pembangunan yang lebih adil dan inklusif.
Kehadiran Festival Kisah Inspiratif Wahana Visi Indonesia (WVI) diharapkan menjadi wadah untuk menggali potensi anak-anak sebagai agen perubahan. Rini menyatakan bahwa acara seperti ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan kontribusi mereka dalam berbagai bidang, termasuk seni, pendidikan, dan pengambilan kebijakan. “Ini adalah langkah penting untuk menjadikan suara anak tidak hanya terdengar, tetapi juga dianggap sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan,” pungkasnya.
