Key Strategy: Rustini Muhaimin bekali santri kemampuan menjahit
Rustini Muhaimin Latih Santri Kemampuan Menjahit untuk Penguasaan Keterampilan
Key Strategy – Jakarta, Rabu – Dharma Wanita Persatuan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (DWP Kemenko PM) Rustini Muhaimin berinisiatif memberikan pelatihan menjahit kepada sejumlah santri di Pondok Pesantren Al Madrasatul Qur’an, Jakarta. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkaya kemampuan para santri, selain menghafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama. Dalam keterangan yang diterima, Rustini menekankan pentingnya keterampilan praktis yang bisa mendukung kemandirian ekonomi dan kesuksesan masa depan.
Santri Tidak Bisa Memenuhi Tuntutan Zaman Tanpa Keterampilan Tambahan
Rustini menjelaskan bahwa keberhasilan seorang santri tidak hanya bergantung pada pengetahuan agama, tetapi juga pada kemampuan teknis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. “Santri harus mampu bersaing di era yang semakin dinamis, termasuk memiliki keterampilan seperti menjahit yang bisa menjadi fondasi untuk pengembangan diri,” tuturnya. Ia menyoroti bahwa kemampuan menjahit tidak hanya berguna dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga bisa diubah menjadi peluang usaha yang produktif.
“Kemandirian ekonomi harus dibangun sejak dini agar para santri mampu berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa ketika mereka kembali ke tengah masyarakat,” kata Rustini.
Menurut Rustini, keterampilan menjahit memiliki potensi besar dalam dunia ekonomi. Karena permintaan terhadap produk tekstil terus meningkat, baik di pasar lokal maupun internasional, santri yang memiliki kemampuan ini bisa menjadi bagian dari solusi ekonomi yang inovatif. Ia berharap, melalui program seperti ini, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga tempat pembentukan generasi yang mandiri, kreatif, dan mampu memenuhi tuntutan era digital.
Pelatihan Menjahit sebagai Katalis Penguatan Ekonomi
Dalam rangkaian pelatihan, para santri diberikan pengenalan teknik dasar menjahit, mulai dari penggunaan mesin jahit hingga desain bahan kain. “Tujuan utama adalah membekali mereka dengan kompetensi yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Rustini. Ia juga menambahkan bahwa pelatihan ini bisa menjadi langkah awal dalam mengembangkan usaha kecil, seperti membuat pakaian khusus atau aksesori tekstil yang diminati masyarakat.
Rustini berharap, pesantren menjadi tempat lahirnya inovasi yang tidak melupakan nilai-nilai keislaman. “Kita perlu menciptakan lingkungan belajar yang menggabungkan keagamaan dan keterampilan modern,” katanya. Dengan demikian, santri tidak hanya memiliki keahlian dalam menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga bisa berkontribusi secara ekonomi dan sosial.
“Kemandirian ekonomi harus dibangun sejak dini agar para santri mampu berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa ketika mereka kembali ke tengah masyarakat,” katanya.
Program ini juga diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup santri, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dengan memiliki keterampilan tambahan, mereka bisa menghasilkan pendapatan sebelum memasuki dunia kerja atau mencari peluang bisnis sendiri. “Pendidikan pesantren tidak boleh hanya menghasilkan santri yang berilmu, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi,” tegas Rustini.
Santri Antusias Ikuti Pelatihan Menjahit
Para santri yang mengikuti pelatihan tersebut menunjukkan respons positif dan antusiasme yang tinggi. Mereka tidak hanya menyerap teknik dasar menjahit, tetapi juga terlihat termotivasi untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan tersebut. “Kami sangat senang mengikuti pelatihan ini, karena bisa menggabungkan ilmu agama dengan keahlian praktis,” ujar salah satu peserta.
Rustini menyebut bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan. Ia menambahkan bahwa keterampilan menjahit bisa menjadi bagian dari upaya memperkuat keberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren. “Kami ingin pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat,” imbuhnya.
Dalam konteks penguatan ekonomi, Rustini menekankan bahwa keterampilan menjahit bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Misalnya, produk tekstil yang dibuat santri bisa diperjualbelikan secara lokal maupun melalui media digital. “Dengan adanya pelatihan ini, santri bisa menjadi pengusaha muda yang mandiri dan bermartabat,” katanya.
Pesantren Sebagai Platform Penguasaan Keterampilan yang Berkelanjutan
Rustini juga menginginkan pesantren menjadi pusat pembelajaran yang tidak statis. Ia berpendapat bahwa pendidikan harus selalu berkembang sesuai dengan dinamika zaman. “Kita perlu menciptakan pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga kemampuan teknis yang relevan,” tuturnya. Dengan demikian, santri bisa memiliki bekal yang lengkap, baik secara spiritual maupun material.
Menurut Rustini, keterampilan menjahit bisa menjadi salah satu contoh dari upaya ini. “Kami berharap lebih banyak program pemberdayaan yang dirancang untuk pesantren, agar mereka bisa bersaing dalam era yang semakin kompetitif,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat pesantren adalah langkah penting dalam meningkatkan kualitas hidup seluruh lapisan masyarakat.
Program seperti ini, menurut Rustini, juga membantu mengurangi angka pengangguran di kalangan pemuda pesantren. “Santri yang mampu menjahit bisa memperoleh penghasilan tambahan, bahkan membuka usaha sendiri,” katanya. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat memperdalam ilmu agama, tetapi juga sebagai tempat menumbuhkan kemandirian ekonomi.
Harapan untuk Perluasan Program Pemberdayaan
Dalam pernyataannya, Rustini mengharapkan adanya kolaborasi lebih luas antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemberdayaan lainnya. “Kami ingin program seperti ini bisa diterapkan di pesantren-pesantren lain, agar lebih banyak santri terbantu,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa keterampilan menjahit bisa menjadi salah satu dari banyak bidang yang dikembangkan, seperti pertanian, keraj
