Special Plan: Anggota polisi alami retak tulang saat kawal demo di depan Gedung DPR
Anggota Polisi Terluka saat Kawal Demo di Gedung DPR
Special Plan – Jakarta, Rabu – Seorang anggota kepolisian dari Polres Metro Jakarta Pusat mengalami cedera serius saat melakukan pengamanan aksi unjuk rasa yang berlangsung di depan Gedung DPR RI pada Senin (22/6). Insiden ini menimpa AKBP Adri Desas Furyanto, yang menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan di satuan tersebut. Menurut informasi yang dihimpun, korban mengalami fraktur patella dextra, atau retak pada tulang lutut kanan, akibat terjatuh saat berusaha memadamkan api yang timbul selama pengamanan.
Menurut Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Reynold Hutagalung, luka yang dialami oleh Adri Desas tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkembang setelah anggota tersebut terlibat dalam upaya mengendalikan kericuhan yang terjadi di lokasi demo. “Diagnosa medis menunjukkan korban mengalami fraktur patella dextra atau adanya keretakan di bagian lutut kanan,” katanya dalam pernyataan resmi di Jakarta, Rabu.
“Kericuhan itu terjadi saat massa aksi membakar replika keranda yang dibawanya ke gerbang utama Gedung DPR RI sementara sejumlah petugas kepolisian berupaya memadamkan api tersebut,” tulis akun Instagram @kejadianesia dalam caption videonya.
Kronologi insiden terungkap melalui penjelasan Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Sumantri. Ia menyebut bahwa Adri Desas sedang menemani aksi unras dari PB PMII saat kejadian terjadi. “Sewaktu PAM (Petugas Pengamanan) menghadapi kericuhan kecil dengan massa aksi untuk tidak membakar ban, yang bersangkutan berusaha memadamkan api dan akhirnya terjatuh,” ujarnya.
Insiden tersebut menjadi sorotan publik setelah video yang memperlihatkan cedera korban beredar di media sosial. Video tersebut diunggah oleh akun @kejadianesia pada Senin (22/6) dan memperlihatkan seorang anggota polisi terluka di bagian kaki saat mengamankan aksi demonstrasi. Rekaman tersebut memperlihatkan momen ketika massa aksi menghadirkan replika keranda sebagai simbol tertentu, sementara petugas kepolisian terus berupaya mengendalikan situasi.
Korban, AKBP Adri Desas, saat ini sedang menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Pihak rumah sakit belum merilis detail lebih lanjut tentang kondisi medisnya, namun diketahui bahwa cedera lutut kanan membutuhkan penanganan intensif. Dalam pernyataannya, Reynold Hutagalung menjelaskan bahwa anggota kepolisian tersebut tetap memperlihatkan dedikasi dalam menjalankan tugas, meski harus mengalami kecelakaan.
Demo yang berlangsung di depan Gedung DPR RI pada Senin (22/6) diketahui menyebabkan beberapa titik kericuhan. Massa aksi menggunakan replika keranda sebagai bagian dari pernyataan mereka, sementara polisi berupaya mencegah kebakaran dan menjaga ketertiban. Menurut keterangan Erlyn Sumantri, insiden terjadi ketika para peserta aksi membakar benda-benda yang dibawa ke gerbang Gedung DPR, terutama replika keranda, yang memicu reaksi dari petugas.
Akibatnya, petugas kepolisian yang berjaga di sekitar area tersebut terpaksa melompat atau mengambil langkah cepat untuk memadamkan api. Dalam upayanya, AKBP Adri Desas terjatuh dan mengalami retak pada tulang lutut kanan. Meski kondisi fisiknya terganggu, ia terus berjuang dalam tugas pengamanan. “Korban menunjukkan semangat luar biasa dalam menjalankan tugas meski harus mengalami cedera,” tambah Reynold Hutagalung.
Peristiwa ini menambah kompleksitas dalam upaya pengamanan aksi unjuk rasa di Jakarta. Selain retak lutut, ada juga laporan tentang kelelahan dan cedera ringan yang dialami oleh sejumlah petugas di lokasi tersebut. Namun, meskipun ada insiden, pihak kepolisian tetap memastikan bahwa aksi berjalan lancar dan tidak terjadi gangguan besar.
Dalam situasi kritis, petugas kepolisian terus berusaha menyeimbangkan antara menjaga ketertiban dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Video dari akun Instagram @kejadianesia menjadi bukti visual tentang upaya mereka untuk mengendalikan situasi. Pemirsa video tersebut memperlihatkan betapa beratnya tugas yang dijalani oleh anggota kepolisian selama pengamanan aksi.
Kasus cedera AKBP Adri Desas juga menimbulkan perhatian dari masyarakat terhadap kesehatan anggota polisi. Banyak warga mengapresiasi dedikasi mereka, tetapi juga mempertanyakan perlindungan yang diberikan selama menjalankan tugas. “Saya rasa anggota polisi sangat bersemangat dalam menjalankan tugas, tetapi mereka juga harus dijaga agar tidak terluka berlebihan,” komentar warganet di media sosial.
Menurut sumber di Polres Metro Jakarta Pusat, selain cedera fisik, ada juga gangguan psikologis yang dialami oleh beberapa anggota selama pengamanan. Peristiwa kericuhan di lokasi demo memicu reaksi emosional, sehingga memengaruhi kinerja petugas. Namun, berkat koordinasi yang baik dan strategi pengamanan yang terencana, situasi akhirnya dapat dikuasai.
Kelancaran pengamanan aksi unjuk rasa di Gedung DPR RI pada Senin (22/6) juga ditunjang oleh persiapan yang matang. Polres Metro Jakarta Pusat telah menyiapkan langkah-langkah preventif sebelum aksi dimulai. Meski ada insiden yang terjadi, keterlibatan anggota kepolisian dalam memastikan keamanan dianggap sebagai bagian dari proses yang normal.
Di sisi lain, insiden ini menjadi momentum untuk merefleksikan tanggung jawab petugas dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan. AKBP Adri Desas, yang sedang menjalani perawatan, dianggap sebagai contoh dari semangat kerja keras anggota kepolisian. Selain itu, keterlibatan media sosial dalam menyebarluaskan informasi tentang insiden tersebut juga memperlihatkan bagaimana teknologi dapat menjadi alat untuk memperjelas situasi.
Kombes Pol. Reynold Hutagalung menegaskan bahwa kejadian retak lutut AKBP Adri Desas adalah hasil dari upaya berlebihan selama pengamanan. “Korban menunjukkan ketekunan dan loyalitas yang luar biasa, meski harus mengalami cedera,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa proses penyembuhan akan berjalan stabil, dan pihak kepolisian akan terus mendukung kesehatannya selama masa perawatan.
Dengan adanya laporan tersebut, masyarakat diharapkan lebih memahami tantangan yang dihadapi petugas kepolisian saat menjalankan tugas di tengah keramaian. Selain itu, insiden ini juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan persiapan pengamanan di masa depan. “Kami akan evaluasi kembali prosedur pengamanan agar lebih aman untuk semua pihak,” pungkas Reynold Hutagalung.
