Key Discussion: LLDIKTI VII dorong kampus berdampak lewat program Kakak Tangguh

1171836

LLDIKTI VII Dorong Kampus Berdampak Melalui Program Kakak Tangguh

Key Discussion – Surabaya menjadi tempat pengumuman strategi baru dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur. Institusi ini berkomitmen untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan yang mampu memberikan dampak nyata terhadap masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui program unggulan bernama Kakak Tangguh, yang dianggap sebagai fondasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan berkontribusi langsung bagi pembangunan nasional.

Program Kakak Tangguh sebagai Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan

Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof Dyah Sawitri, menjelaskan bahwa program Kakak Tangguh dirancang untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di wilayah tersebut. Dalam Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Perguruan Tinggi dan Anugerah Kampus Unggul Tahun 2026, ia menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan mencetak SDM unggul yang siap membangun bangsa. “Kakak Tangguh menjadi strategi utama untuk memastikan perguruan tinggi tidak hanya menekankan peningkatan jumlah lulusan, tetapi juga dampak yang dihasilkan terhadap masyarakat,” kata Dyah.

“Kami berharap Rakerpim dengan tema Peranan Strategis Indikator Kinerja Utama untuk Kampus Berdampak benar-benar mewujudkan visi ini melalui program yang telah kami susun,” ujar Dyah. Ia menjelaskan bahwa program ini mempertimbangkan karakteristik wilayah serta kebutuhan masyarakat lokal untuk mengoptimalkan kontribusi kampus. “Dengan pemetaan yang tepat, kampus bisa menjadi motor penggerak pembangunan daerah dan bukan hanya tempat penyimpanan pengetahuan,” tambahnya.

Dyah menambahkan bahwa program Kakak Tangguh menekankan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Tujuannya adalah memastikan lulusan tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata di lingkungan sekitar. “Kampus harus menjadi garda terdepan dalam menghasilkan SDM yang mampu mendukung kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat,” tegasnya.

Kawasan Pengembangan Berdasarkan Karakteristik Wilayah

Dalam mewujudkan program ini, LLDIKTI Wilayah VII membagi Jawa Timur menjadi empat kawasan pengembangan. Wilayah-wilayah tersebut, yaitu Pantura, Arek, Mataraman, dan Pesisir, dipilih karena memiliki keunikan yang bisa dimanfaatkan sebagai dasar untuk menyusun strategi. “Karakteristik masing-masing kawasan menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun kampus yang berdampak,” kata Dyah.

Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan perguruan tinggi menyesuaikan program studi dan kegiatan akademik dengan kebutuhan spesifik wilayah. “Dengan memahami kondisi lokal, kampus bisa berperan aktif dalam mengatasi masalah masyarakat, seperti pengentasan kemiskinan, penguatan ekonomi lokal, atau peningkatan kesehatan dan lingkungan,” jelasnya. Pendekatan terkait ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keahlian praktis yang bisa langsung digunakan.

Komitmen Menteri Pendidikan Tinggi Terhadap Kualitas Pendidikan

Plt. Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof Dr Eng Sandro Mihradi, memberikan dukungan terhadap inisiatif LLDIKTI VII. Ia menyebutkan bahwa peningkatan mutu pendidikan tinggi di Jawa Timur menjadi prioritas penting. “Kami mendukung target Jawa Timur untuk meningkatkan jumlah kampus dengan akreditasi unggul hingga dua kali lipat,” ujarnya.

“Peningkatan akses pendidikan harus diiringi oleh peningkatan kualitas, sehingga program bantuan seperti KIP Kuliah dapat menciptakan lulusan yang kompeten dan berdaya saing,” kata Sandro. Ia menekankan bahwa hasil pendidikan tinggi harus diukur berdasarkan kontribusi lulusan terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. “Tujuan akhir adalah munculnya sarjana yang mampu menjadi pilar pembangunan dan memberikan solusi nyata bagi kebutuhan nasional,” tambahnya.

Sandro juga meminta perguruan tinggi di Jawa Timur untuk bersinergi dalam meningkatkan kualitas. “Kampus harus menjadi tempat pembelajaran yang bermutu, karena mahasiswa yang menerima bantuan pendidikan harus siap memimpin perubahan di masa depan,” ujarnya. Ia berharap para lulusan bisa menjadi agen inovasi yang mampu menggerakkan perekonomian dan mendorong kemajuan teknologi di wilayah masing-masing.

Kriteria Keberhasilan Kampus Berdampak

Dyah Sawitri menegaskan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari dampak yang mereka hasilkan. “Tiga indikator utama yang kami fokuskan adalah: siap kerja, mampu menciptakan lapangan kerja, serta memiliki kemampuan berkontribusi bagi kepentingan nasional,” katanya. Ia menilai, indikator ini mendorong kampus untuk berpikir lebih jauh tentang peran mereka di masyarakat.

Menurut Dyah, program Kakak Tangguh dirancang untuk mengukur efektivitas kampus secara holistik. “Lulusan yang dihasilkan harus mampu memenuhi kebutuhan industri, menciptakan peluang ekonomi, dan terlibat langsung dalam program pengembangan wilayah,” ujarnya. Hal ini berarti perguruan tinggi tidak hanya memproduksi SDM, tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan mitra lainnya. “Dengan sinergi yang kuat, kita bisa memastikan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya menjadi pilihan bagi sebagian kecil masyarakat, tetapi juga akses yang merata dan berdampak luas,” jelas Dyah. Ia menilai, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi contoh keberhasilan ini jika semua pihak bekerja sama secara konsisten.

Komitmen terhadap program Kakak Tangguh diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan kampus yang tidak hanya berfokus pada akreditasi, tetapi juga pada keberlanjutan pembangunan. “Kami yakin, jika semua pihak berkomitmen, Jawa Timur bisa menjadi pusat pendidikan tinggi yang mampu menjawab tantangan nasional,” tegasnya. Ini menunjukkan bahwa inisiatif ini bukan hanya tentang meningkatkan kualitas, tetapi juga tentang membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Dengan menekankan dampak nyata dari setiap kegiatan akademik, program Kakak Tangguh diharapkan mampu mengubah paradigma pendidikan tinggi di Jawa Timur. “Kampus tidak boleh menjadi tempat isolasi, tetapi menjadi bagian