New Policy: Sekolah Rakyat Solo cetak perubahan perilaku siswa

Screenshot-2026-06-20-192759

Sekolah Rakyat Solo cetak perubahan perilaku siswa

Program SRD-2 Solo: Membentuk Karakter Muda

New Policy – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, Kota Solo meluncurkan inisiatif berupa Program Sekolah Rakyat Dasar Dua (SRD-2) yang beroperasi sejak Oktober 2025. Sekolah berasrama gratis ini dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sekaligus memperkuat pembentukan sikap dan perilaku positif di kalangan peserta didik. Dengan menempatkan siswa dalam kondisi yang lebih stabil secara finansial dan emosional, SRD-2 diharapkan menjadi penyejahteraan pendidikan yang berkelanjutan.

SRD-2 tidak hanya menawarkan pendidikan dasar secara gratis, tetapi juga memberikan pelatihan keterampilan hidup serta bimbingan psikologis. Proses belajar mengajar di sini berfokus pada pengembangan karakter, dengan metode yang melibatkan kegiatan kelompok, diskusi interaktif, dan praktik langsung. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada orang tua sekaligus membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab di antara siswa.

Dilansir dari antaranews.com, SRD-2 Solo telah menunjukkan hasil yang menggembirakan sejak beroperasi. Data terkini menunjukkan bahwa sekitar 300 siswa telah mengalami peningkatan signifikan dalam aspek kemandirian dan disiplin. Mereka tidak hanya lebih tekun dalam belajar, tetapi juga mampu mengelola waktu dan keuangan secara lebih bijak. Tidak hanya itu, interaksi sosial siswa pun terlihat lebih harmonis, terutama dalam lingkungan berasrama yang memperkuat rasa kebersamaan.

“SRD-2 bukan hanya mengubah pola belajar, tetapi juga memperluas wawasan mereka tentang hidup sehari-hari,” kata Denik Apriyani, salah satu pengamat pendidikan yang mengikuti perkembangan program ini. “Kehadiran lingkungan yang stabil memungkinkan siswa merasa nyaman untuk mengambil risiko dan belajar dari kesalahan.”

Sekolah ini juga memperhatikan aspek psikologis dan emosional siswa. Para pengajar tidak hanya fokus pada materi pelajaran, tetapi juga melibatkan mereka dalam kegiatan ekstrakurikuler yang memupuk rasa ingin tahu dan kerja sama. Contohnya, program penerapan ilmu pengetahuan langsung ke lingkungan sekitar, seperti membangun pertanian mini atau mengelola kebun sekolah, menunjukkan bagaimana anak-anak belajar untuk menggabungkan teori dengan praktik nyata.

Salah satu aspek utama dari SRD-2 adalah sistem berasrama yang menawarkan penginapan gratis selama tiga tahun. Ini memastikan siswa tidak terganggu oleh masalah ekonomi keluarga, sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada pembelajaran. Namun, kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan siswa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Menurut Rizky Bagus Dhermawan, salah satu pelaku program, “Kebiasaan hidup di SRD-2 membantu mereka mengenal kemandirian, tetapi butuh waktu untuk membentuk kebiasaan yang berkelanjutan.”

Dalam beberapa bulan operasional, SRD-2 telah menarik perhatian banyak pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah daerah. Program ini dianggap sebagai contoh inovatif dalam pendidikan inklusif, karena menggabungkan pendekatan pendidikan formal dengan pendidikan non-formal. Selain itu, SRD-2 juga menjadi wadah bagi siswa yang sering terlantar akibat keterbatasan fasilitas pendidikan di lingkungan mereka. Kebijakan berasrama dan bantuan makanan serta pakaian membuat siswa lebih terjamin dalam pendidikan dasar.

“SRD-2 membuka peluang bagi anak-anak yang selama ini kurang mendapat perhatian,” ungkap I Gusti Agung Ayu N, rekan kerja dari Denik Apriyani. “Program ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai sosial dan lingkungan sejak dini.”

Proses adaptasi siswa di SRD-2 tidaklah mudah. Banyak dari mereka mengalami perubahan perilaku yang signifikan, seperti meningkatkan kebiasaan belajar mandiri dan mengurangi ketergantungan pada orang tua. Namun, ada juga tantangan, seperti perbedaan budaya dan cara berkomunikasi antara siswa dari latar belakang yang beragam. Untuk mengatasi hal ini, SRD-2 melibatkan para pengajar dalam pelatihan khusus yang menekankan pendekatan inklusif dan adaptif.

Dalam evaluasi awal, sekitar 70% siswa menunjukkan peningkatan kinerja akademik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, tingkat partisipasi mereka dalam kegiatan kelompok dan projek sosial juga meningkat. Dengan melibatkan siswa dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek, SRD-2 membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Hal ini menjadi dasar bagi pengembangan karakter yang tangguh dan adaptif.

Kelangsungan program SRD-2 juga bergantung pada kerja sama antara pemerintah kota, organisasi donor, dan masyarakat lokal. Dalam beberapa bulan terakhir, sekolah ini menerima bantuan dari berbagai sumber, termasuk peralatan pendidikan, bahan makanan, dan pelatihan bagi para guru. Kebutuhan akan dana operasional terus meningkat, terutama untuk memperluas jumlah siswa dan membangun fasilitas pendukung lainnya. Meski demikian, SRD-2 tetap menjadi salah satu pilot project yang sukses di Indonesia.

Selain mengubah perilaku siswa, SRD-2 juga berdampak pada masyarakat sekitar. Anak-anak yang pulang dari program ini sering menjadi agen perubahan di lingkungannya. Mereka membawa ilmu pengetahuan, nilai kebersamaan, dan semangat kemandirian ke keluarga dan komunitas. Tidak jarang, orang tua siswa mengapresiasi perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka, terutama dalam sikap percaya diri dan tanggung jawab.

Dengan beroperasi selama lebih dari enam bulan, SRD-2 Solo terus meningkatkan metode pembelajaran dan evaluasi kinerja siswa. Tim pendidik mengevaluasi setiap tahap perkembangan melalui survei dan wawancara rutin. Hasilnya, program ini telah menciptakan standar baru dalam pendidikan berasrama di Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk meraih masa depan yang lebih cerah.

Sekolah Rakyat Solo, dengan program SRD-2, menjadi bukti bahwa pendidikan yang baik tidak hanya tergantung pada materi ajar, tetapi juga pada lingkungan yang mendorong pertumbuhan karakter. Dengan kebijakan yang tepat, sekolah ini memperlihatkan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat berkembang secara optimal, sekaligus menjadi sumber daya manusia yang unggul di