Topics Covered: Dari AI Enabled Menuju AI First, Perusahaan Indonesia Didorong Bersiap Memasuki Era Agentic Enterprise
Dari AI Enabled Menuju AI First, Perusahaan Indonesia Didorong Bersiap Memasuki Era Agentic Enterprise
Topics Covered –
Jakarta, 11 Juni 2026 – Transformasi digital di Indonesia memerlukan perusahaan-perusahaan untuk beralih dari sekadar memanfaatkan kecerdasan buatan (AI-enabled) menjadi menjadikan AI sebagai inti operasional bisnis (AI-first). Langkah ini dianggap penting untuk menghadapi era baru yang dikenal sebagai Agentic AI, di mana agen-agen digital mampu menjalankan tugas, mengambil keputusan, dan bekerja secara lebih mandiri serta proaktif dengan manusia. Pemikiran ini diungkapkan dalam AI Leadership Exchange 2026 bertema “The Agentic Leap: Empowering Indonesia’s Digital Leadership and Winning the Enterprise AI Race” yang digelar pada Kamis (11/6). Acara hasil kolaborasi antara IBM Indonesia (https://www.ibm.com/id-id?utm_source=chatgpt.com) dan CIO Insight Indonesia ini mengundang para pemimpin teknologi, pelaku industri, serta regulator untuk mendiskusikan strategi pemanfaatan AI demi meningkatkan daya saing organisasi dan memenangkan persaingan bisnis di era digital.
Ekosistem AI Nasional Perlu Diperkuat
Pembicara utama, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nezar Patria, menekankan pentingnya membangun kemampuan nasional untuk mengembangkan teknologi AI secara mandiri. Menurutnya, pemerintah sedang mendorong penguatan ekosistem AI melalui kerangka 5A, yang mencakup Availability, Affordability, Awareness, Ability, dan Agency. “Tujuannya adalah agar organisasi di Indonesia dapat memperoleh manfaat maksimal dari pemanfaatan AI,” kata Nezar. Kerangka ini diharapkan menciptakan lingkungan yang mendukung penggunaan AI secara luas dan berkelanjutan, baik dalam segi aksesibilitas teknologi maupun kesadaran masyarakat industri tentang potensi AI.
Kesenjangan Antara Pendekatan AI Enabled dan AI First
Dalam sesi diskusi, Hans A.T. Dekkers mengungkapkan adanya perbedaan signifikan antara perusahaan yang hanya mengandalkan AI sebagai alat bantu dan perusahaan yang menjadikan AI sebagai fondasi utama operasional. Menurut Hans, kelompok pertama biasanya menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi kerja, sementara kelompok kedua mengutamakan pengembangan model bisnis baru yang lebih adaptif. “Perusahaan yang membangun AI sebagai inti operasional akan memiliki keunggulan kompetitif jauh lebih besar,” jelasnya.
Dekkers menambahkan bahwa saat ini, dunia sedang memasuki fase Agentic AI, di mana agen-agen digital tidak hanya memproses data tetapi juga mampu berinteraksi dengan manusia, membuat rekomendasi, serta mengambil tindakan tanpa intervensi langsung. Hal ini memerlukan perusahaan untuk tidak hanya mengadopsi teknologi tetapi juga mengubah cara kerja dan struktur organisasi agar sesuai dengan kebutuhan AI.
Transformasi AI Tidak Hanya Tentang Teknologi
Sementara itu, Jerry Zhu menegaskan bahwa masa depan bisnis tidak lagi sekadar memanfaatkan AI sebagai pendukung aktivitas. “Perusahaan pemenang adalah mereka yang mengutamakan AI atau AI-first, bukan hanya AI-enabled,” ujarnya. Zhu menyebut bahwa pendekatan AI-first memungkinkan bisnis menerapkan inovasi berkelanjutan, seperti otomatisasi proses, pengambilan keputusan berbasis data, dan pengembangan layanan yang lebih personal.
Dalam diskusi yang sama, Setiaji mengingatkan bahwa investasi AI harus memiliki tujuan bisnis yang jelas agar mampu menghasilkan nilai tambah terukur. Menurutnya, banyak perusahaan cenderung mengadopsi AI hanya karena tren atau ketakutan akan ketinggalan (FOMO), sehingga kurang memperhatikan dampak jangka panjang. “AI bukan sekadar alat, tetapi juga strategi yang harus terintegrasi dengan kebutuhan organisasi,” tegasnya.
Peran Data dan Budaya Organisasi
Pembahasan tentang implementasi AI juga menyoroti peran data dalam mempercepat transformasi. Hans dan Jerry menyebutkan bahwa hambatan utama yang dihadapi perusahaan adalah masalah ketersediaan dan kualitas data. Banyak data masih terpencil di sistem yang tidak terintegrasi, sehingga menyulitkan AI untuk memberikan rekomendasi yang akurat. “Jika data tidak terstruktur, AI akan sulit beroperasi secara mandiri,” papar Hans.
Karena itu, perusahaan harus membangun fondasi data yang kuat, termasuk sistem pengelolaan data yang terpusat, keamanan informasi, serta kemampuan untuk menghasilkan konteks yang relevan. Selain itu, Toto Prasetio menegaskan bahwa kesiapan sumber daya manusia dan budaya organisasi juga menjadi faktor kritis. “Transformasi AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang keterlibatan karyawan dan perubahan cara berpikir organisasi,” jelas Toto.
Strategi Implementasi AI yang Berkelanjutan
Patrick Bruinsma memberikan saran agar perusahaan menghindari pendekatan implementasi AI yang bersifat parsial atau berbasis proyek. Menurutnya, organisasi perlu membangun satu fondasi operasional yang solid, sehingga inisiatif AI di masa depan dapat diterapkan secara lebih cepat, aman, dan efisien. “Fondasi ini akan memastikan bahwa AI tidak hanya menjadi alat sementara tetapi menjadi bagian integral dari operasional,” kata Bruinsma.
Pembahasan tentang AI juga menyoroti aspek kedaulatan teknologi nasional. Ricardo Irwan Rei menekankan bahwa Indonesia harus mulai mengembangkan model AI sendiri, sebagaimana dilakukan oleh sejumlah negara lain. Menurutnya, langkah ini penting untuk memperkuat daya saing nasional serta mendukung kemandirian teknologi di masa depan. “Pada akhirnya, tujuan kita adalah menuju sovereignty atau kedaulatan teknologi,” tambah Ricardo.
Langkah Kritis Menuju Era Agentic Enterprise
Menurut para pembicara, kesuksesan implementasi AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada strategi yang tepat. Nezar Patria menyoroti bahwa kerangka 5A akan menjadi panduan utama dalam mengoptimalkan potensi AI. Di sisi lain, Hans A.T. Dekkers menekankan perlunya transformasi mendalam dalam struktur organisasi, sementara Jerry Zhu mengingatkan tentang pentingnya kesadaran akan perubahan yang diakui oleh pasar.
Setiaji menambahkan bahwa perusahaan harus melihat AI sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar tren. “Kita perlu berpikir strategis dan memastikan bahwa setiap penerapan AI memberikan dampak yang berkelanjutan,” katanya. Dengan pendekatan yang lebih holistik, Indonesia diharapkan mampu menjadi salah satu pionir dalam pemanfaatan AI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital.
Dalam kesimpulan, event AI Leadership Exchange 2026 menegaskan bahwa Indonesia sedang berada di tengah pergeseran besar menuju era Agentic AI. Perusahaan-perusahaan diharapkan tidak hanya mengadopsi teknologi tetapi juga mengubah cara kerja, struktur, dan visi bisnis agar selaras dengan tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh AI. Dengan langkah-langkah yang terencana dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, serta akademisi, transisi ke era AI-first di Indonesia dianggap mungkin tercapai dalam waktu dekat.
