Latest Program: Pakar: Indonesia dapat menjadi penengah perdamaian antara Iran dan AS

WhatsApp-Image-2025-12-14-at-17.04.36

Pakar: Indonesia Dapat Menjadi Penengah Perdamaian Antara Iran dan AS

Latest Program – Jakarta, ANTARA – Ahli hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk berperan sebagai mediator dalam proses perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menyoroti bahwa dalam situasi global yang penuh ketegangan, posisi RI bisa menjadi batu loncatan untuk mendorong kesepakatan yang lebih stabil antara dua negara besar tersebut.

Perkembangan Perundingan dan Hambatan Global

Dalam wawancara dengan ANTARA, Kamis, Rezasyah mengungkapkan bahwa hambatan utama dalam mencapai perjanjian damai saat ini adalah sikap AS dan Iran yang sama-sama mempertahankan posisi awal mereka. Meski terdapat upaya untuk meredam konflik, keengganan kedua belah pihak untuk berkompromi membuat jalannya perundingan memperlambat. Hal ini semakin diperparah oleh aksi Israel, sekutu AS, yang secara terus-menerus melakukan serangan terhadap wilayah Gaza dan Lebanon selatan. Rezasyah menegaskan bahwa keberadaan Israel menjadi penghalang besar bagi keberhasilan perundingan.

“Kalaupun AS dan Iran mendekati kesepakatan sekecil apa pun, Israel merusaknya melalui berbagai aksi bersenjata di Gaza dan Lebanon selatan,” kata Rezasyah.

Kehadiran Israel juga berdampak pada dinamika diplomasi global, terutama dalam konteks hubungan antara AS dan Iran. Rezasyah menambahkan bahwa tekanan yang diberikan AS kepada Israel terhadap kemauan untuk melunak sering kali tidak mendapat respons yang memadai. Menurutnya, Donald Trump dinilai sebagai Presiden AS yang paling berpengaruh secara psikologis, sehingga kebijakannya cenderung lebih mendukung kepentingan Israel.

Peran PBB dan Peneguhan Kebijakan Internasional

Rezasyah mengusulkan bahwa ada peluang untuk memperkuat proses perundingan jika Sekretaris Jenderal PBB memainkan perannya secara lebih aktif. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah menugaskan ahli internasional di bidang hukum laut dan nuklir untuk mendukung upaya diplomasi. Ia menekankan bahwa mekanisme ini bisa menjadi alat untuk menciptakan suasana yang lebih adil dan terukur dalam perundingan.

Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, AS dan Iran dapat diberi ruang untuk saling menghargai aspirasi masing-masing. Rezasyah menjelaskan bahwa ini bisa dilakukan melalui mekanisme yang berbasis hukum, sehingga proses negosiasi tidak hanya dipandu oleh tekanan politik tetapi juga prinsip internasional yang jelas.

Strategi Indonesia untuk Mendorong Perdamaian

Menurut Rezasyah, keberhasilan Indonesia dalam memainkan peran penengah memerlukan dukungan dari komunitas internasional. Ia menyoroti bahwa absennya hubungan diplomatik resmi antara Jakarta dan Tel Aviv justru memberi keuntungan kepada RI, karena posisi tersebut dianggap lebih netral dan terhormat di mata Israel. Namun, untuk mengoptimalkan daya tawar diplomatik, Indonesia harus menggalang kekuatan bersama global.

Rezasyah menyarankan agar negara-negara seperti ASEAN, D8, OKI, Gerakan Non-Blok (GNB), BRICS, Liga Arab, MIKTA, dan Kerja Sama Selatan-Selatan menjadi mitra utama dalam upaya ini. “Dengan kerja sama yang lebih erat, Indonesia bisa menggandeng negara-negara lain untuk menekan pihak-pihak yang masih bersikeras pada posisi awalnya,” ujarnya.

Langkah Strategis untuk Perdamaian Jangka Panjang

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Rezasyah menyarankan Indonesia untuk mereplikasi pengalaman yang berhasil diterapkan oleh ASEAN di wilayah Timur Tengah. Ia menekankan pentingnya merancang mekanisme khusus yang menuju Kawasan Damai, Bebas, dan Netral (ZOPFAN) serta Kawasan Bebas Senjata Nuklir (NWFZ). Kedua mekanisme ini, menurutnya, bisa menjadi dasar untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan stabil di wilayah tersebut.

Rezasyah juga menyebutkan bahwa keberhasilan Indonesia dalam peran penengah tidak hanya bergantung pada kekuatan luar, tetapi juga pada kemampuan dalam mengelola kebijakan internasional secara konsisten. Ia mengatakan bahwa kepercayaan global terhadap Indonesia akan meningkat jika negara ini mampu menunjukkan keseriusan dalam menyelesaikan isu-isu regional maupun internasional.

Penguatan Internal Sebagai Prasyarat Diplomasi Global

Menanggapi pandangan bahwa suara diplomatik Indonesia selama ini dinilai kurang dominan, Rezasyah menekankan pentingnya penguatan internal terlebih dahulu. “Indonesia harus membuktikan bahwa ia mampu mengelola dalam negerinya agar lebih sejahtera, stabil, dan terhormat,” ujarnya.

Rezasyah menjelaskan bahwa indikator keberhasilan dalam penguatan internal mencakup implementasi program Asta Cita, pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) secara progresif, peningkatan kesejahteraan umum, serta tata kelola pemerintahan yang berbasis hukum. Dengan menunjukkan kemajuan tersebut, Indonesia akan lebih mampu menarik dukungan dari negara-negara lain dalam upaya menengahi konflik antara AS dan Iran.

Dalam konteks global, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan yang mendorong proses perdamaian. Rezasyah optimis bahwa dengan kebijakan yang konsisten dan dukungan solidaritas internasional, negara ini bisa memainkan peran yang signifikan dalam mengurangi ketegangan antara dua pihak yang berseberangan. Ia menegaskan bahwa kesuksesan ini tidak terlepas dari kemampuan Indonesia dalam membangun hubungan yang kuat dan kredibel di tingkat internasional.