Latest Program: Film Mania Dunia Nia ikut final Inspiring Asia Micro Film Festival
Karya Film Mania Dunia Nia Tembus Final Pemilihan Film Pendek Asia
Latest Program – Jakarta, 2025 – Film pendek berjudul “Mania Dunia Nia” karya Januar David Ciu dan Yosafat Prasetya menjadi pemenang pertama dalam ajang Inspiring Asia Micro Film Festival #InspiringIndonesia 2025. Karya tersebut akan mewakili Indonesia di babak final festival yang diadakan di Singapura. Selain meraih penghargaan, film ini juga mencuri perhatian karena mengangkat isu-isu relevan dalam kehidupan mahasiswa kontemporer.
Isu Kesehatan Mental dan Tekanan Sosial Dibahas dalam Film
Januar David Ciu, salah satu sutradara, menjelaskan latar belakang kreativitas film ini melalui keterangan resmi di Jakarta. “Saya pernah dengar cerita dari teman-teman yang ingin berkonseling dengan psikolog kampus, tapi jadwalnya selalu penuh hingga satu atau dua bulan. Dari situ, saya menyadari bahwa banyak orang mengalami masalah psikologis, meski sering kali tidak terlihat oleh mata,” ujarnya. Cerita tersebut dirancang untuk menggambarkan realitas yang tersembunyi di sekitar mahasiswa, seperti rasa lelah, tekanan sosial, dan kesepian yang semakin sering dialami di tengah kehidupan digital yang cepat dan intens.
“Tidak perlu memaksakan tema yang jauh dari diri kita. Cari isu yang dekat dan spesifik, lalu temukan cara visual yang unik untuk menyampaikannya,” tambah Yosafat Prasetya, rekan kreator film ini. Ia menekankan bahwa kejujuran dalam narasi menjadi kekuatan utama sebuah karya. “Kadang kita merasa cerita kita terlalu kecil. Padahal, cerita yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari sering kali paling mudah dipahami oleh orang lain,” imbuhnya.
Yosafat, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa film ini didasari pengalaman sehari-hari mereka sebagai mahasiswa. “Kita justru bisa menemukan fenomena yang sering terlewat, seperti ketidaknyamanan akibat kebiasaan berinteraksi melalui media sosial yang terus-menerus mengubah pola komunikasi dan kebutuhan emosional manusia,” jelas Yosafat. Dengan memadukan emosi dan alur cerita, karya ini diharapkan mampu memicu refleksi dari penonton.
Gerakan Kolaboratif dalam Pemilihan Film Asia
Event Inspiring Asia Micro Film Festival tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga gerakan kolaboratif yang mempertemukan seni, aksi sosial, dan partisipasi publik. Festival ini mencakup berbagai karya dari komunitas lokal hingga internasional, sekaligus mendukung inisiatif kecil yang memiliki dampak besar. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian festival film tingkat Asia yang memberikan ruang bagi kisah perubahan yang relevan dengan isu sosial saat ini.
Yosafat menjelaskan bahwa cerita “Mania Dunia Nia” dirancang agar bisa mencerminkan kehidupan anak muda dalam konteks modern. “Kita sering melupakan bahwa kisah kecil yang terjadi di sekitar kita justru mampu menyentuh hati orang banyak,” kata pria berusia 22 tahun itu. Dengan memanfaatkan teknik visual dan narasi yang menarik, film ini diharapkan mampu menembus hati penonton, terlepas dari seberapa besar kejutan yang ditawarkan.
Pelaku Seni dan Komunitas Bergabung dalam Festival
Acara Inspiring Asia Micro Film Festival didukung oleh organisasi seperti Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good. Kehadiran mitra strategis ini memastikan festival dapat berjalan secara profesional, sambil tetap mengedepankan keberagaman cerita yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. “Tidak hanya menilai kualitas sinematik, kami juga memperhatikan keterlibatan publik dan dampak sosial dari setiap karya yang dipilih,” ujarnya.
Festival ini menjadi platform bagi sineas muda, pelajar, dan kreator independen untuk mengungkapkan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Dengan pendekatan community vetting, masyarakat aktif terlibat dalam menilai dan mendukung karya-karya yang paling sesuai dengan isu yang sedang mendesak. “Kami ingin mendorong kreativitas yang mampu menjadi jembatan antara eksperimen seni dan kebutuhan masyarakat,” kata Yosafat.
Penghargaan dan Perjalanan ke Final Regional
Total hadiah yang diperebutkan dalam ajang nasional mencapai Rp325 juta. Karya-karya terpilih akan melaju ke babak regional, lalu berkompetisi dalam Grand Final yang diadakan di Manila, Filipina. Januar dan Yosafat menyatakan bahwa mereka berharap film ini bisa menjadi wadah untuk menyampaikan pesan tentang kesehatan mental yang sering terabaikan.
“Mania Dunia Nia” tidak hanya menceritakan kisah individu, tetapi juga menggambarkan fenomena sosial yang melibatkan seluruh masyarakat. Dalam kisah ini, penonton diundang untuk melihat ketidakseimbangan antara kehidupan digital dan kesehatan mental. Januar menambahkan bahwa film ini menjadi representasi dari aspirasi para mahasiswa yang ingin berkontribusi pada perubahan melalui seni.
Menurut Yosafat, pendekatan kreatif dalam film ini menggabungkan realitas sehari-hari dengan cara yang tidak biasa. “Saya percaya bahwa cerita yang sederhana, jika diceritakan dengan baik, bisa menjadi pengingat bagi banyak orang,” ujarnya. Ia juga menyebut bahwa inspirasi dari film ini berasal dari pengalaman pribadi, yang kemudian dirangkai menjadi karya bersama.
Sebagai bagian dari Inspiring Asia Micro Film Festival, film ini akan bersaing dengan karya-karya dari negara lain di Asia. Januar dan Yosafat berharap, keikutsertaan mereka di final akan memperkuat komitmen untuk menyampaikan isu-isu penting melalui media film. “Kami ingin menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang perjuangan emosional yang sering luput dari perhatian,” pungkas Januar.
Dengan berbagai langkah kolaboratif dan pendekatan yang inovatif, Inspiring Asia Micro Film Festival menjadi wadah yang unik untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap isu sosial. Film “Mania Dunia Nia” diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana karya kecil bisa menyentuh hati dan merangsang perubahan di tingkat lokal maupun global.
