Special Plan: Pemprov Kepri perbanyak program penguatan SDM untuk kerja luar negeri

Facebook_creation_09F41F43-CE50-4C58-BBFF-86749356011F

Pemprov Kepri Tingkatkan Program Penguatan SDM untuk Pekerjaan di Luar Negeri

Special Plan – Tanjungpinang, 15 Mei 2025 – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) guna mendukung ekspor tenaga kerja ke luar negeri. Kolaborasi dengan Badan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3MI) menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan SDM daerah mampu bersaing di pasar kerja internasional. Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengungkapkan, program ini bertujuan memperkuat kompetensi lulusan lembaga pendidikan vokasi sesuai kebutuhan global.

Target Pengiriman Tenaga Kerja di Tahun 2025 dan 2026

Ansar Ahmad menyampaikan, pada tahun 2025, jumlah tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri sebanyak 2.305 orang. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, seiring percepatan program penguatan SDM. Di tahun 2026, hingga bulan Mei, jumlah yang telah terkirim mencapai 1.236 orang dari target total 3.000. “Kami menargetkan peningkatan signifikan karena Pemprov Kepri terus berkomitmen mengembangkan SDM yang berkualitas,” jelas Ansar dalam jumpa pers di Tanjungpinang.

“Dari tahun ke tahun, pengiriman tenaga kerja luar negeri dari Kepri menunjukkan tren positif. Kami bekerja sama dengan pemerintah pusat dan BP3MI untuk menyiapkan SDM yang siap berkiprah di level internasional,” ujar Ansar.

Program Pendidikan Vokasi untuk Meningkatkan Daya Saing

Salah satu upaya konkret yang dilakukan Pemprov Kepri adalah alokasi dana untuk pendidikan vokasi. Setiap tahun, provinsi ini menyisihkan anggaran Rp1 miliar guna mendukung kelas internasional di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Kota Tanjungpinang. Anggaran ini bertujuan memastikan lulusan institusi tersebut memiliki kemampuan spesifik untuk memenuhi standar kerja di luar negeri. Selain itu, dana tambahan sebesar Rp2 miliar dialokasikan untuk program uji kompetensi dan sertifikasi bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan industri global.

Ansar menegaskan, program ini memberikan kesempatan bagi pemuda Kepri untuk mendapatkan pengalaman kerja di luar negeri. “Dengan pendidikan vokasi yang terarah, lulusan dapat langsung mengisi posisi di sektor yang diminati, seperti manufaktur, perikanan, hingga teknik khusus seperti welder,” papar dia.

Kemitraan dengan Institusi Asing untuk Mempermudah Proses Kerja

Pemprov Kepri juga berupaya memperluas jaringan kerja sama dengan lembaga pendidikan di luar negeri. Salah satunya adalah kerja sama dengan Sahid Bintan Tourism Institute, yang fokus pada pelatihan bidang pariwisata dan perhotelan. Lembaga ini telah menjalin kerja sama dengan organisasi terkait dari Australia guna memfasilitasi proses perekrutan tenaga kerja. “Kerja sama ini membantu calon pekerja lebih mudah diterima di negara tujuan, terutama karena kami menyediakan sertifikasi yang sesuai standar internasional,” tambah Ansar.

Transformasi SLTA untuk Meningkatkan Kualifikasi SDM

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemprov Kepri mempercepat pengembangan program pendidikan vokasi di tingkat SLTA. Ansar mengungkapkan, ke depan jumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) akan berkurang seiring peningkatan jumlah SMK yang menawarkan jurusan spesialisasi. “SMA hanya akan menyumbang 30 persen dari total sekolah menengah, sedangkan 70 persen akan menjadi SMK dengan kurikulum berbasis kejuruan,” terang dia.

Perubahan ini didorong oleh kebutuhan pasar kerja yang semakin kompetitif. “Lulusan SMK yang kita siapkan memang lebih dipersiapkan untuk langsung masuk dunia kerja, berbeda dengan SMA yang lebih fokus pada pendidikan umum,” tambah Ansar. Ia menambahkan, kondisi geografis Kepri yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura memberikan peluang besar bagi tenaga kerja lokal untuk bekerja di negeri jiran.

Statistik Lowongan Kerja Luar Negeri Menurut P2MI

Berdasarkan data Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), saat ini terdapat sekitar 320 ribu lowongan kerja luar negeri yang tersedia bagi warga Indonesia. Namun, hingga saat ini, hanya sekitar 75.378 orang yang berhasil memenuhi peluang tersebut, atau sekitar 24 persen dari total lowongan. “Kita perlu meningkatkan kapasitas SDM agar bisa mengisi posisi yang tersedia di luar negeri,” ujar Ansar.

Menurut data P2MI, sektor-sektor dengan peluang kerja luar negeri cukup luas, seperti kesehatan, manufaktur, perikanan, pertanian, perkebunan, konstruksi, dan teknik khusus seperti welder. Ansar optimis dengan program yang dijalankan, Kepri bisa meningkatkan kontribusi dalam mengisi kebutuhan tenaga kerja di tingkat global. “Kami berharap SDM Kepri tidak hanya mampu bekerja di luar negeri, tetapi juga bisa bersaing di pasar lokal,” tambahnya.

Dalam menjalankan program ini, Pemprov Kepri mengutamakan kolaborasi dengan berbagai pihak. Selain BP3MI, instansi seperti Sahid Bintan Tourism Institute juga menjadi mitra strategis. Ansar menekankan pentingnya pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan dunia kerja. “Kita ingin setiap lulusan memiliki keterampilan spesifik yang bisa langsung diaplikasikan di lapangan,” ujarnya.

Kebijakan ini sejalan dengan