Key Strategy: BPOM dan Kemendukbangga gelar aksi nasional cegah penyalahgunaan OOT

Facebook_creation_CA13D384-F902-46E4-8FA1-C8617B8F4AD6

BPOM dan Kemendukbangga gelar aksi nasional cegah penyalahgunaan OOT

Key Strategy – Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menjadi tempat pelaksanaan aksi nasional pencegahan penyalahgunaan obat-obat tertentu (OOT) yang digelar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga). Acara ini ditandai dengan pembukaan resmi yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Pemerintah Daerah se-Kepri. Kepala BPOM RI Profesor Taruna Ikrar menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan karena berdasarkan data intelijen dan operasi yang dilakukan BPOM, penggunaan OOT di Indonesia terus meningkat, terutama di lingkungan tempat hiburan.

OOT: Obat yang Tidak Bukan Narkotika Tapi Berdampak Serupa

Dalam kesempatan tersebut, Ikrar menegaskan bahwa OOT memiliki perbedaan signifikan dibandingkan narkotika. “Penggunaan narkotika dikenai hukuman yang jelas sesuai UU Narkotika, tapi ada obat-obatan yang bukan termasuk narkotika, namun efeknya sama seperti narkotika. Itu yang disebut obat-obat tertentu,” ujarnya. Menurut Ikrar, jumlah OOT yang beredar semakin luas, bahkan mencapai wilayah seperti Batam, Banten, Bandung, dan Semarang. BPOM mencatat, hingga tahun 2025, telah menindak sekitar enam miliar kapsul OOT yang dianggap ilegal dan berbahaya.

“Bayangkan, kalau sampai kapsul ini terekspos sampai ke anak dan cucu kita, mau dibawa ke mana bangsa ini ke depan. Apalagi berdasarkan data WHO, satu dari tujuh anak usia 14-19 tahun didapati menggunakan OOT,”

Ikrar menambahkan, kegiatan aksi nasional ini bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari penyalahgunaan OOT, terutama di kalangan generasi muda. Ia menyoroti bahwa daerah Kepri dipilih sebagai pusat pelaksanaan karena BPOM menganggap provinsi ini sebagai daerah yang paling rentan dalam hal peredaran dan penggunaan OOT melalui jalur laut. “Kita berharap melalui aksi ini, generasi muda Indonesia dapat terjaga dari bahaya OOT,” tukasnya.

Kemendukbangga dan BPOM Kolaborasi Melawan Penyalahgunaan OOT

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menyambut baik inisiatif aksi nasional yang digelar. Menurut Isyana, Kemendukbangga siap bekerja sama dengan BPOM serta Pemerintah Daerah Kepri untuk mengambil langkah-langkah pencegahan bersama. “Penyalahgunaan OOT tidak hanya melibatkan BPOM, tetapi juga kekuatan kolektif dari berbagai lembaga, termasuk keluarga dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Isyana menjelaskan bahwa Kemendukbangga memiliki berbagai program yang dapat berkontribusi dalam mengatasi masalah OOT. Program-program seperti bina remaja, pusat informasi dan konseling remaja, serta forum duta genre telah dijalankan untuk memberikan wadah bagi remaja dalam mengungkapkan masalah atau keinginan mereka. “Biasanya anak-anak remaja membutuhkan tempat berbagi pengalaman dengan sesama usia mereka, sehingga program-program ini diharapkan mampu menjadi alat efektif dalam melawan penyalahgunaan OOT di Tanah Air,” katanya.

“Tentu kita perlu melakukan upaya pencegahan secara rutin, terutama dari unit terkecil yaitu keluarga,”

Isyana juga menekankan bahwa kolaborasi antara BPOM dan Kemendukbangga adalah kunci dalam memperkuat upaya pencegahan. “Kemendukbangga sudah memiliki program yang bisa digunakan untuk mencegah remaja dari pengaruh obat-obatan tertentu, dan kita akan terus memperluas kolaborasi ini guna menciptakan kesadaran bersama,” imbuhnya.

Program Pemprov Kepri untuk Kesehatan Generasi Muda

Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengungkapkan bahwa aksi nasional ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk media massa yang diharapkan turut memperkuat kampanye pencegahan. “Gerakan ini sangat penting karena menyangkut masa depan bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan kesehatan generasi muda, kita bisa mencegah penyebaran OOT di lingkungan sosial,” ujarnya.

Ansar menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kepri telah memiliki program rutin bernama Kesbangpol Masuk Sekolah (Kemas) yang bertujuan memberikan edukasi tentang berbagai isu kependudukan dan kesejahteraan keluarga. “Nah, ke depan kita akan libatkan BPOM Batam dan pihak terkait lainnya dalam program ini untuk menyampaikan pesan strategis terkait OOT kepada para siswa,” tukasnya.

Menurut Ansar, Pemprov Kepri akan terus berupaya dalam mengintensifkan sosialisasi OOT ke berbagai kalangan, terutama di lingkungan pendidikan. “Kepri sebagai provinsi dengan jumlah populasi yang signifikan, membutuhkan kebijakan yang terpadu untuk memastikan generasi muda tumbuh secara sehat dan terhindar dari dampak negatif OOT,” lanjutnya.

Langkah Konsisten untuk Mencegah Penyalahgunaan OOT

Sebagai bagian dari aksi nasional ini, BPOM dan Kemendukbangga berupaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap OOT. Sejumlah obat yang dianggap berpotensi disalahgunakan termasuk dalam daftar pemantauan, seperti Tramadol, Triheksilfenidil, Amitriptillin, dan yang terbaru gas ketawa atau Nitrus Oxide. Keempat jenis OOT ini dikenal memiliki efek penenang yang kuat, sehingga rentan dijadikan alat untuk menenangkan diri secara berlebihan.

Dalam wawancara tambahan, Ikrar menyoroti bahwa BPOM tetap memantau keberadaan OOT di berbagai wilayah, terutama daerah paling rawan. “Kita perlu merapatkan barisan untuk melawan penyalahgunaan OOT, karena dampaknya bisa merusak masa depan bangsa ini,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa aksi nasional ini bukan hanya sekadar kampanye, tetapi menjadi bagian dari strategi nasional yang terpadu.

Kemendukbangga menambahkan bahwa kolaborasi antarlembaga adalah jalan efektif untuk menciptakan kesadaran masyarakat. “Dengan program yang lebih beragam dan integrasi antar lembaga, kita bisa meningkatkan cakupan pencegahan dan mengurangi angka penyalahgunaan OOT,” ujar Isyana. Ia juga menekankan bahwa penyebaran OOT terutama terjadi di lingkungan remaja, sehingga perlunya pendekatan khusus untuk mengantisipasi masalah ini.

Dengan kegiatan ini, BPOM dan Kemendukbangga berharap masyarakat lebih proaktif dalam mengawasi penggunaan OOT di lingkungan sekitar. “Kita perlu mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk para orang tua, untuk menjadi bagian dari upaya pencegahan ini,” imbuh Ikrar. Ia menuturkan bahwa peran keluarga sangat penting dalam membentuk perilaku sehat terhadap penggunaan obat.

Kepala BPOM RI juga menyoroti bahwa pelaksanaan aksi nasional ini tidak terbatas pada satu kali penyelenggaraan. “Kegiatan seperti ini akan diulang secara berkala untuk memastikan progres yang terus berlanjut. Tidak hanya itu, kita juga akan melibatkan mitra-mitra dari sektor swasta dan organisasi masyarakat,” tuturnya.

Dengan adanya aksi nasional, BPOM dan Kemendukbangga mengharapkan masyarakat lebih memahami