Special Plan: Eks napi teroris kembangkan usaha makanan hasil binaan lapas

7ef816b2-edcd-4658-aa01-fb352a7f7af6-0

Eks Napi Teroris Kembangkan Usaha Makanan Hasil Binaan Lapas

Special Plan – Jakarta, Minggu — Jamaluddin (49), mantan narapidana kasus terorisme yang kini bebas bersyarat sejak awal tahun 2025, menunjukkan perubahan positif dengan mampu mengelola usaha makanan yang ia pelajari selama menjalani pembinaan di Lapas Khusus Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebagai warga Jakarta Timur, Jamaluddin berhasil meneruskan bisnis Chicken Jepun, produk makanan olahan yang menyerupai nuget dengan ukuran besar seperti katsu, hingga mencapai skala yang signifikan.

Bisnis Berjalan Lancar Pasca Bebas Bersyarat

Bisnis ini telah beroperasi selama satu tahun setelah Jamaluddin diberikan kembali kebebasan bersyarat. Menurutnya, usaha ini menjadi solusi ketika ia masih bingung setelah keluar dari penjara. “Setelah bebas, saya sempat kehabisan uang selama tiga bulan. Tapi, di lapas saya diberi pelatihan tentang cara membuat nuget, jadi akhirnya bisa membuat Chicken Jepun sendiri,” ujar Jamaluddin. Saat ini, produknya diproduksi sebanyak 100 kg per hari dengan omset minimal Rp10 juta setiap harinya.

“Alhamdulillillah, usaha ini sudah berjalan satu tahun sejak saya bebas bersyarat awal tahun 2025,” kata Jamaluddin di Jakarta, Minggu.

Proses Deradikalisasi dan Pelatihan Kewirausahaan

Sejak masuk Lapas Sentul, Jamaluddin mengikuti program deradikalisasi serta pembinaan kewirausahaan. Salah satu pelatihan yang ia terima adalah pembuatan nuget, yang menjadi dasar untuk mengembangkan ide Chicken Jepun. Selama berada di dalam lapas, ia juga menjalani masa pidana selama dua tahun, dua bulan, setelah divonis 4 tahun penjara pada tahun 2022 atas perannya dalam aksi menerobos Istana Negara.

Kini, Jamaluddin tidak lagi berada dalam masa hukuman, tetapi statusnya diubah menjadi klien dari Badan Pemasyarakatan Jakarta Timur/Utara. Ia tetap dibimbing oleh petugas pemasyarakatan untuk memastikan adaptasi ke masyarakat berjalan lancar. “Saya bersyukur bisa mengikuti pelatihan kewirausahaan di lapas, sehingga ilmu yang didapat langsung bermanfaat untuk hidup saya kembali,” lanjutnya.

Perluasan Jaringan dan Pemasaran

Bisnis Chicken Jepun kini telah berkembang dengan mengerahkan 13 orang pekerja, tujuh agen, serta memiliki 50 outlet. Selain itu, produknya juga disuplai ke delapan dapur SPPG (Sentra Pelayanan Paspor dan Pengurusan Kelengkapan Administratif) di berbagai wilayah. Jamaluddin mengatakan, setelah bebas, ia segera memanfaatkan pelatihan yang diterima untuk mengembangkan usaha tersebut. “Di lapas, saya belajar bagaimana mengelola usaha dari awal, termasuk teknik produksi dan strategi pemasaran,” jelasnya.

Untuk menjangkau lebih luas, Jamaluddin juga mengikuti kegiatan Pelayanan Paspor Car Free Day (CFD) yang digelar oleh Direktorat Jenderal Imigrasi. Di acara tersebut, ia diberi kesempatan membuka stand dan memperkenalkan produknya. “Saya ingin menjangkau masyarakat luas, terutama yang belum mengenal Chicken Jepun,” kata pria yang kini berada di Jakarta.

“Usaha ini luar biasa, karena Pak Jamaluddin mampu mengubah kehidupan setelah bebas bersyarat,” kata Juri bicara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), M. Akbar Hadi Prabowo.

Akbar menambahkan, Jamaluddin masih didampingi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam pengurusan BOPM (Bantuan Operasional Pemulihan Masyarakat) untuk usaha Chicken Jepun. Dukungan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan narapidana teroris ke masyarakat. “Napi yang sudah bebas bersyarat tetap dalam masa bimbingan PK (Pemasyarakatan Klien) untuk memastikan mereka tidak kembali ke jalur kejahatan,” ujarnya.

Tantangan Awal dan Tekanan Mental

Menurut Jamaluddin, proses awal memulai usaha ini tidak mudah. Ia mengakui perlu mengatasi rasa percaya diri yang terpuruk setelah keluar dari lapas. “Saat baru bebas, saya merasa tertekan. Tapi, dengan belajar dari pelatihan di lapas, saya bisa menemukan jalan keluar,” katanya. Keberhasilan ini juga dipengaruhi oleh keinginan untuk membuktikan bahwa narapidana teroris bisa berkontribusi positif bagi masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan Jamaluddin bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi, tapi juga sebagai cara membangun kembali hubungan sosial dan meraih pengakuan. “Saya ingin menunjukkan bahwa seorang eks napi teroris bisa menjadi contoh bagi orang lain,” ujarnya. Ia menargetkan peningkatan produksi hingga 500 kg per hari dalam jangka panjang, meski saat ini masih dalam tahap awal.

Kolaborasi Pemasyarakatan dan Kementerian Imigrasi

Sebagai bagian dari program pemasyarakatan, Jamaluddin menjadi contoh nyata kerja sama antara Badan Pemasyarakatan dan Direktorat Jenderal Imigrasi. Pembebasan bersyarat tidak hanya memungkinkan eks napi teroris kembali ke masyarakat, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membangun usaha yang bermanfaat bagi sekitarnya. “Kami sangat bangga karena ada eks napi yang mampu sukses setelah bebas bersyarat,” kata Akbar Hadi Prabowo.

Dalam program binaan, Jamaluddin tidak hanya mendapatkan keahlian memproduksi makanan olahan, tetapi juga pelatihan tentang manajemen waktu, keuangan, dan relasi bisnis. Ia menekankan bahwa pendidikan di dalam lapas menjadi kunci untuk mengubah pola pikir dan tindakan. “Tanpa pelatihan ini, saya mungkin sulit mengembangkan usaha sendiri,” katanya.

Harapan untuk Masa Depan

Keberhasilan Jamaluddin menunjukkan potensi eks napi teroris untuk berkontribusi dalam sektor ekonomi. Ia berharap pengalaman ini bisa menjadi motivasi bagi narapidana lain untuk memulai usaha mereka sendiri. “Saya ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan agar orang lain juga bisa sukses,” ujarnya. Di sisi lain, Jamaluddin juga berharap masyarakat lebih terbuka terhadap eks napi teroris yang berusaha memperbaiki diri.

Dengan usaha yang terus berkembang, Jamaluddin menargetkan peningkatan produksi dan penjangkauan pasar lebih luas. Ia berkomitmen untuk menjaga kualitas produk serta memperluas jaringan distribusi. “Saya akan terus berusaha hingga Chicken Jepun bisa menjadi merek nasional yang dikenal banyak orang,” tegasnya. Keberhasilan ini tidak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga menjadi bukti bahwa program pemasyarakatan dan deradikalisasi bisa memberikan dampak positif yang nyata.

Kemajuan usaha Jamaluddin menjadi sorotan publik, terutama karena produknya menggabungkan inovasi dan tradisi. Dengan menyerupai nuget, Chicken Jepun memperlihatkan kreativitas dalam menghadirkan makanan yang berbeda dari biasanya. Ia juga berharap dapat melibatkan lebih banyak warga masyarakat dalam pembuatan produk ini, sekaligus memberikan peluang kerja bagi sekitarnya.

Sebagai mant