Walk For Peace 2026 tempuh jarak 660 kilometer menuju Borobudur
Walk For Peace 2026: Perjalanan 660 Kilometer Menuju Borobudur
Walk For Peace 2026 tempuh jarak 660 – Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2560 BE pada 31 Mei 2026, sekelompok bhikkhu dari berbagai negara melakukan perjalanan suci yang memakan waktu selama 660 kilometer. Mereka berangkat dari Bali ke Candi Borobudur, Jawa Timur, dengan membawa pesan tentang toleransi, kedamaian universal, dan harmoni sosial. Perjalanan ini diadakan di Banyuwangi, yang menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian acara Walk For Peace 2026. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc.
Acara Walk For Peace 2026 menarik perhatian warga setempat, yang turut serta memberikan salam dan dukungan kepada para bhikkhu yang sedang melakukan perjalanan. Sebanyak 56 pendeta Buddha dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Laos terlibat dalam perjalanan ini. Mereka berjalan kaki dengan tujuan untuk menyampaikan semangat perdamaian kepada masyarakat, sekaligus memperkuat kemitraan antaragama di wilayah Indonesia bagian timur. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc.
Sebelum memulai perjalanan, para bhikkhu melakukan doa bersama di Vihara Jaya Manggala, TITD Tik Liong Tian, Rogojampi, Banyuwangi. Aktivitas ini bertujuan untuk menyelaraskan semangat keagamaan dan keharmonisan antarumat beragama. Perjalanan dari Bali ke Borobudur bukan hanya simbol perjalanan fisik, tetapi juga representasi perjuangan menciptakan dunia yang lebih damai. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc.
Kemitraan Antaragama dan Makna Perjalanan
Perjalanan 660 kilometer ini dirancang sebagai upaya memperkuat hubungan antara umat Buddha dan komunitas lainnya. Para bhikkhu membawa pesan yang menginspirasi masyarakat untuk menjaga persatuan dan kerja sama. Dalam sejarah perjalanan suci, Borobudur dianggap sebagai tempat suci yang menggambarkan kehidupan spiritual dan keharmonisan. Dengan mendarat di Banyuwangi, para peserta menekankan pentingnya rasa syukur serta penghormatan terhadap kebudayaan lokal.
Perjalanan ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan yang universal. Para bhikkhu yang berasal dari empat negara tersebut membawa pesan tentang pentingnya perdamaian di tengah tantangan global. Dengan mengambil jalur melalui Banyuwangi, mereka menyoroti peran wilayah ini sebagai jembatan antara Jawa Timur dan Bali, dua daerah yang memiliki tradisi keagamaan yang kaya.
Proses dan Harapan dari Acara
Para bhikkhu membagi perjalanan mereka menjadi beberapa etape, dengan titik pemberhentian di beberapa kota strategis. Proses persiapan mengambil waktu cukup panjang, termasuk pelatihan fisik dan spiritual untuk menghadapi jarak yang cukup jauh. Dengan langkah perlahan, mereka ingin menunjukkan bahwa perdamaian bisa dicapai melalui usaha yang konsisten dan penuh kepercayaan.
Kegiatan ini juga diharapkan mampu menciptakan kesadaran akan pentingnya kerukunan antarumat beragama. Borobudur, sebagai simbol kebudayaan dan keagamaan, menjadi destinasi akhir yang menggambarkan keterbukaan dan toleransi. Dengan mengakhiri perjalanan di sana, para bhikkhu ingin memperkuat simbolisasi keharmonisan antarbangsa dan agama.
Respon Masyarakat dan Dampak Sosial
Dalam perjalanan mereka, para bhikkhu mendapat sambutan hangat dari warga Banyuwangi. Masyarakat lokal menilai kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap isu perdamaian. Acara ini juga menjadi ajang edukasi tentang sejarah dan nilai-nilai spiritual yang diwakili oleh Candi Borobudur. Dengan melalui jalanan yang dipenuhi antusiasme, pesan perdamaian diharapkan dapat mencapai hati lebih banyak orang.
Sejumlah warga mengungkapkan kekaguman terhadap keberanian para bhikkhu yang menjalani perjalanan tersebut. Mereka menilai bahwa tindakan ini lebih dari sekadar simbol, tetapi juga bentuk komitmen nyata untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih sejuk. Dengan mengakhiri perjalanan di Borobudur, para peserta menegaskan bahwa perdamaian adalah tujuan bersama yang perlu dipertahankan.
Penutup: Harapan dan Langkah Selanjutnya
Walk For Peace 2026 tidak hanya mengukir jejak spiritual, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam dalam masyarakat. Perjalanan ini menjadi contoh bagaimana kegiatan keagamaan bisa menginspirasi perubahan sosial. Dengan pesan yang diperkuat oleh keberagaman partisipan, harapan besar tertuang dalam perjalanan tersebut: dunia yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang.
“Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa perdamaian tidak bisa dicapai dalam sehari, tetapi membutuhkan usaha terus-menerus. Setiap langkah kecil bisa menjadi awal perubahan besar,” kata seorang bhikkhu yang turut serta dalam acara tersebut.
Kegiatan ini diharapkan menjadi referensi bagi perayaan Waisak tahunan, serta menjadi awal dari upaya-upaya lain untuk mendorong perdamaian di Indonesia dan sekitarnya. Dengan mengajak masyarakat berpartisipasi, para bhikkhu ingin menunjukkan bahwa perdamaian adalah nilai yang bisa diwujudkan melalui kebersamaan dan kepercayaan.
Menurut peneliti keagamaan, keberhasilan acara ini tergantung pada kemampuan peserta menyampaikan pes
