Topics Covered: Sinner samai rekor Djokovic di Roma
Sinner Samai Rekor Djokovic di Roma
Jannik Sinner Kembali Meraih Kemenangan Beruntun di Level Masters 1000
Topics Covered – Roma, Italia menjadi tempat dimana Jannik Sinner mengukir sejarah baru dalam dunia tenis profesional. Petenis berusia 24 tahun itu berhasil menorehkan hasil yang menggembirakan saat menaklukkan Alexei Popyrin dengan skor telak 6-2, 6-0 dalam pertandingan babak ketiga Internazionali BNL d’Italia 2026. Kemenangan ini tidak hanya memperkuat posisinya di babak keempat, tetapi juga memperpanjang rekor kemenangan beruntunnya dalam seri Masters 1000 menjadi 30 pertandingan. Kini, Sinner berada di ambang menyamai prestasi Novak Djokovic, yang dulu mencatatkan 31 kemenangan beruntun di babak serupa pada 2011.
“Saya merasa angin bertiup searah,” kata Sinner, yang hanya membuat satu kesalahan sendiri dalam pukulan backhand, seperti yang dilaporkan oleh laman ATP. Petenis asal Italia ini menunjukkan dominasi luar biasa dalam pertandingan kedua di Roma, dengan teknik drop shot dan pukulan keras yang membuat penonton tuan rumah terkesan. Dalam empat pertemuan dengan Popyrin, Sinner berhasil mengungguli lawannya dengan skor 3-1, menegaskan ketajaman mental dan fisiknya di level ini.
Kemenangan beruntun Sinner menciptakan gelombang optimisme bagi penggemar tenis, terutama karena ia hampir saja meraih gelar Career Golden Masters. Rekor ini menandai pencapaian di mana seorang petenis berhasil memenangkan sembilan turnamen Masters 1000 secara berkelanjutan. Jika ia mampu mengangkat trofi pada akhir pekan ini, Sinner akan menjadi petenis putra kedua setelah Djokovic yang berhasil mencapai ambisi tersebut sejak seri dimulai pada 1990. Capaian ini sekaligus mengingatkan kembali akan kehebatan Djokovic, yang masih memegang rekor kemenangan beruntun 31 pertandingan dalam babak Masters 1000 di Indian Wells hingga Cincinnati 2011.
Sinner telah menyusun keberhasilan luar biasa sejak mengikuti turnamen Masters 1000 di Paris 2025. Dalam tiga bulan terakhir, ia mencatatkan 30 kemenangan beruntun, menyamai prestasi Djokovic yang dulu dicapai pada 2014-2015. Ini juga menjadikannya petenis pertama yang mengantarkan lima gelar Masters 1000 secara berturut-turut, mulai dari Madrid Open awal bulan ini hingga pertandingan Monte-Carlo enam bulan silam. Kini, Sinner bersiap menghadapi Andrea Pellegrino, petenis peringkat 155 dunia, di babak 16 besar. Pertandingan terhadap Popyrin berlangsung dalam waktu 65 menit, menunjukkan kecepatan dan ketepatan taktik yang luar biasa.
Sebelumnya, Sinner pernah mengalami kekalahan telak dalam final Italian Open 2024 di tangan Carlos Alcaraz. Meski begitu, kemenangan di Roma menegaskan bahwa ia sudah memperbaiki performa, terutama dalam keadaan yang dianggap lebih menantang. Dalam pertandingan ini, Sinner menunjukkan adaptasi yang baik ketika melawan angin, dengan menekankan pukulan datar yang mengurangi kecepatan bola. Strategi ini berjalan lancar, sehingga membawanya ke depan dalam pertandingan tanpa mengalami kesulitan signifikan.
Sejak mundur dalam babak ketiga di Shanghai pada Oktober lalu, Sinner belum pernah kalah dalam level Masters 1000. Kini, dia berada dalam fase yang sangat positif, dengan catatan 30 kemenangan beruntun yang memperlihatkan ketangguhan mental dan fisiknya. Jika berlanjut, rekor ini bisa menembus lebih jauh, bahkan menyamai pencapaian legenda seperti Roger Federer, yang dulu mencatatkan 29 kemenangan beruntun di Hamburg 2025 hingga Monte-Carlo 2006. Namun, Sinner tetap memegang rekor lebih baik daripada Federer saat ini.
Pertandingan di Roma menjadi babak baru dalam perjalanan Sinner menuju puncak dunia tenis. Dengan kemenangan atas Popyrin, ia semakin dekat dengan mimpi memperpanjang rekor kemenangan beruntun menjadi 31, seperti yang dicapai Djokovic sebelumnya. Selain itu, Sinner juga menunjukkan kemampuan adaptasi, terutama saat berhadapan dengan para pemain yang berbeda gaya bermainnya. Sejak mengakhiri pertandingan di Shanghai, konsistensinya di level Masters 1000 menjadi sangat mengesankan, dengan skor yang menggambarkan dominasi tajam.
Rekor ini tidak hanya mengukir nama Sinner dalam sejarah tenis, tetapi juga memberikan gambaran bagaimana ia mengisi celah yang ditinggalkan oleh Djokovic. Sinner kini berada dalam posisi yang sangat strategis, karena jika ia mampu melangkah lebih jauh, maka dia akan menjadi bagian dari klub petenis yang sangat langka—mereka yang berhasil menyelesaikan Career Golden Masters. Apakah dia mampu mengulangi pencapaian Djokovic? Pertanyaan ini akan terjawab dalam beberapa hari mendatang, seiring persiapan untuk menghadapi Andrea Pellegrino.
Sebagai penutup, keberhasilan Sinner di Roma adalah bukti kuat bahwa dia tidak hanya mampu menyaingi Djokovic, tetapi juga berpotensi mengalahkannya di masa depan. Catatan kemenangan beruntun 30 dalam Masters 1000 adalah prestasi luar biasa, dan dengan level pertandingan yang semakin meningkat, Sinner menjadi ancaman serius bagi para juara lama. Kemenangan telak atas Popyrin menegaskan bahwa ia mampu menekan waktu, bahkan di tengah tantangan teknis yang berbeda. Ini akan menjadi langkah penting dalam perjalanan menuju gelar yang lebih besar, serta membawa mimpi jadi nyata di level tertinggi tenis profesional.
