Visit Agenda: Mayoritas warga Prancis pesimistis terhadap ekonomi nasional, global
Masyarakat Prancis Memperkirakan Perburukan Ekonomi Nasional dan Global
Visit Agenda – Survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga Ipsos dan sekolah teknik CESI menunjukkan bahwa kebanyakan warga Prancis mengalami ketakutan terhadap kinerja ekonomi nasional serta kondisi ekonomi global. Hasil jajak pendapat ini, yang diterbitkan oleh surat kabar Tribune Dimanche pada hari Minggu (10/5), menyebutkan bahwa sebanyak 91 persen responden merasa tidak optimis tentang masa depan ekonomi Prancis. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan keresahan di tengah masyarakat, dengan hanya 9 persen yang masih percaya bahwa ekonomi negara akan membaik.
Secara bersamaan, survei tersebut juga menemukan bahwa 88 persen warga Prancis melihat situasi ekonomi global dengan nada negatif. Hanya 12 persen responden yang berpandangan optimis tentang dampak ekonomi dunia terhadap negara-negara lain. Masa krisis ini berlangsung dalam kondisi yang memburuk, terutama pada sektor-sektor vital seperti daya beli, inflasi, dan utang publik.
Kondisi Ekonomi Pribadi: Dua Tiga Perilaku Pessimis
Kemudian, ketika ditanya tentang kondisi keuangan pribadi, 69 persen responden mengungkapkan bahwa mereka mengalami ketidakpuasan terhadap pengelolaan keuangan. Sebaliknya, hanya 31 persen yang masih memiliki harapan positif. Persentase ini mencerminkan kecemasan yang terus-menerus terhadap kestabilan finansial individu, terutama di tengah tekanan inflasi dan peningkatan biaya hidup.
Mengenai proyeksi kondisi ekonomi di masa depan, sebagian besar masyarakat Prancis memperkirakan bahwa berbagai aspek akan semakin memburuk. Dari hasil survei, 84 persen memprediksi daya beli akan menurun, 83 persen khawatir akan kenaikan inflasi, 82 persen yakin utang publik akan meningkat, dan 73 persen merasa tekanan perpajakan akan bertambah. Sementara itu, hanya 6 persen responden yang percaya lapangan kerja akan tumbuh dalam beberapa bulan mendatang. Persentase optimis pada sektor ini sangat rendah, menunjukkan ketidakpastian terhadap pertumbuhan ekonomi.
Konteks Survei: Metodologi dan Partisipan
Survei ini diadakan terhadap 1.000 orang dewasa Prancis pada 5–6 Mei 2026, dengan metode kuota berdasarkan faktor seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan wilayah. Teknik ini memastikan representasi yang seimbang antar kelompok demografis, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai gambaran umum mengenai kepercayaan masyarakat.
Menariknya, survei juga memberikan gambaran mengenai perubahan inflasi yang terjadi di Prancis. Menurut data dari badan statistik nasional Insee, angka inflasi konsumen tahunan mencapai 2,2 persen pada April 2026, meningkat dari 1,7 persen di bulan Maret. Ini menunjukkan bahwa tekanan harga terus berlangsung, memperkuat persepsi pesimis masyarakat terhadap ekonomi nasional.
Peran Konflik Timur Tengah dalam Meningkatkan Inflasi
Selain itu, survei Elabe yang dirilis bulan lalu mengungkapkan bahwa 94 persen warga Prancis merasa khawatir konflik di Timur Tengah akan mendorong kenaikan inflasi. Hal ini tidak hanya terkait dengan harga bahan bakar, tetapi juga harga barang dan jasa secara keseluruhan. Escalasi perang di kawasan tersebut telah mengganggu alur lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global. Dampaknya, pasokan energi terhambat, menyebabkan kenaikan harga energi yang signifikan.
Perkembangan ini memicu ketegangan di tingkat global, terutama dalam bidang perdagangan energi. Selat Hormuz, yang menjadi koridor penting untuk pasokan minyak dan gas, menjadi sasaran konflik, sehingga mengganggu stabilitas harga. Survei Elabe menekankan bahwa pengaruh konflik ini tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari warga Prancis melalui kenaikan biaya kebutuhan pokok.
Perspektif Global: Kecemasan Terhadap Kenaikan Harga
Dalam konteks global, kekhawatiran terhadap inflasi terus mengemuka. Data menunjukkan bahwa 83 persen responden Prancis memperkirakan kenaikan inflasi akan terus berlangsung, sementara 4 persen optimis bahwa keadaan ini akan berubah. Dari segi perpajakan, 73 persen menganggap tarif pajak akan meningkat, sehingga memperparah beban masyarakat.
Selain itu, kenaikan utang publik juga menjadi perhatian. Hanya 3 persen warga Prancis yang percaya utang pemerintah akan berkurang, sementara 82 persen mengira kondisi ini akan terus memburuk. Hal ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah dalam mengelola defisit anggaran. Pertanyaan tentang lapangan kerja menunjukkan bahwa 66 persen mengharapkan keadaan akan semakin sulit, dengan hanya 6 persen yang percaya pertumbuhan tenaga kerja akan meningkat.
Hasil survei ini menggambarkan keterbukaan masyarakat Prancis terhadap isu ekonomi. Kesadaran akan peran global dalam memengaruhi kondisi ekonomi nasional semakin jelas. Dengan adanya konflik di Timur Tengah dan tekanan inflasi, warga Prancis terus mengalami ketidaknyamanan, baik dalam keuangan pribadi maupun kestabilan ekonomi negara.
Kebutuhan untuk Kebijakan Ekonomi yang Lebih Efektif
Angka-angka ini menekankan perlunya pemerintah Prancis mengambil langkah-langkah konkrit untuk menangani krisis ekonomi. Dengan 91 persen masyarakat yang memperkirakan ekonomi nasional akan memburuk, kebijakan stimulus atau pengurangan biaya hidup menjadi prioritas. Selain itu, pengaruh konflik global harus dipertimbangkan dalam perencanaan jangka panjang.
Survei juga menunjukkan bahwa warga Prancis lebih sensitif terhadap perubahan harga energi dibandingkan se
