Topics Covered: IHSG dibuka melemah, saham tambang masih dibayangi sentimen royalti
IHSG Melemah, Saham Tambang Masih Dibayangi Sentimen Royalti
Topics Covered – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin pagi ditutup turun 9,46 poin atau 0,14 persen, mencapai 6.959,94. Analisis pasar menunjukkan bahwa IHSG kemungkinan akan fluktuasi dalam beberapa hari ke depan, terutama karena faktor kebijakan dan dinamika geopolitik global. Pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai kemungkinan akhir perang Ukraina menarik perhatian, meski masih ada kekhawatiran mengenai kebijakan royalti komoditas.
Analisis oleh Hari Rachmansyah
Hari Rachmansyah, Analis Saham PT Indo Premier Sekuritas, mengatakan bahwa kebijakan tarif royalti menjadi penghalang utama bagi kinerja saham sektor pertambangan. Di sisi lain, wabah hantavirus masih menggantung, walaupun data Kalshi menunjukkan risiko penyakit tersebut hanya 21 persen, sehingga belum memberi dampak signifikan pada pasar. “Kebijakan royalti yang akan berlaku bulan depan akan menjadi fokus utama,” tambah Hari.
Dampak Kebijakan Tarif Royalti pada Sektor Pertambangan
“Pernyataan Presiden Putin yang optimis mengenai perang Ukraina memberi tekanan pada harga saham, tetapi kebijakan royalti yang diperkirakan berlaku di Juni 2026 justru memberi sentimen negatif,” tutur Hari dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Menurut Hari, tarif royalti akan berdampak beragam tergantung jenis komoditas. Emas mengalami kenaikan royalti terbesar, 100 persen, sedangkan timah terpukul lebih parah karena penyesuaian tarif di dua sisi. Kebijakan ini bisa meningkatkan tekanan pada harga global emas, sementara timah mungkin menjadi komoditas yang paling terkena secara menyeluruh.
Di samping itu, wacana windfall tax dan bea ekspor yang diusulkan Kementerian Keuangan menambah kompleksitas bagi sektor minerba. Hari menekankan bahwa IHSG masih tergantung pada aliran dana asing dan kinerja saham big caps di luar sektor tambang. “Investor asing terus melakukan aksi net sell, sehingga penguatan IHSG perlu didukung oleh peningkatan eksposur di luar pertambangan,” jelas Hari.
Dalam pergerakan pasar minggu ini, dinamika ekonomi global tetap menjadi faktor utama. Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping diharapkan menyelesaikan isu perang Iran, namun masih berpotensi menimbulkan ketidakpastian. Hari menilai volatilitas di sektor energi dan industri mungkin bertahan hingga akhir Mei 2026.
Kebijakan royalti juga menjadi topik utama dalam analisis Topics Covered. Hari mengingatkan bahwa IHSG pada 11-13 Mei 2026 mungkin bergerak tidak teratur karena kombinasi sentimen politik dan kebijakan tarif. “Pergerakan IHSG akan tergantung pada bagaimana perusahaan tambang mengelola eksposur di tengah tekanan royalti,” lanjut Hari.
Sebagai penutup, Hari menggarisbawahi pentingnya strategi selektif dalam investasi. “Dengan IHSG tetap terpantau, Topics Covered mengingatkan investor untuk fokus pada saham yang memiliki potensi kuat, tetapi tetap disiplin dalam mengelola risiko,” pungkasnya.
