Diumumkan: Trauma, BPBD: Korban gempa Adonara NTT masih pilih tidur di luar rumah

Trauma, BPBD: Korban Gempa Adonara NTT Masih Memilih Tidur di Luar Rumah

Kupang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, melaporkan bahwa warga yang terdampak gempa bumi Adonara hingga kini masih bermalam di tenda. Hal ini disebabkan oleh serangkaian gempa susulan yang terus berlangsung, membuat sebagian penduduk merasa cemas.

“Warga masih trauma, sehingga beberapa di antara mereka memilih untuk bermalam di luar rumah dengan menggunakan tenda,” kata Maria Goretty Nebo Tukan, yang menjabat sebagai Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, saat diwawancara dari Kupang, Senin.

Gempa tersebut terjadi pada Jumat (9/4) pukul 00.30 WITA dengan magnitudo 4,7. Episenter berada di koordinat 8,36 derajat lintang selatan dan 123,15 derajat bujur timur, tepatnya di darat, 21 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman lima kilometer.

Selain itu, Maria Goretty menambahkan bahwa BPBD tidak mengatur satu titik tenda khusus untuk para pengungsi. Tenda-tenda dibangun di berbagai lokasi dekat tempat tinggal warga. “Kita tidak menetapkan tenda di satu titik, melainkan menyebar ke beberapa area yang dekat dengan rumah warga. Karena memang warga tidak kehilangan pekerjaan seperti saat erupsi Lewotobi,” jelasnya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Dalam rangka penanganan darurat, bantuan logistik telah didistribusikan kepada pengungsi, termasuk beras yang diberikan sebagai dukungan.

Josep, warga Desa Baniona, Kecamatan Wotan Ulumado, yang berdekatan dengan Desa Terong dan Lamahala Jaya, mengatakan bahwa ia telah tidur di teras rumah selama empat malam berturut-turut. “Meski di desa kami tidak ada rumah yang rusak, saya dan sebagian warga sekitar tetap memilih bermalam di luar rumah untuk berjaga-jaga, menghindari kemungkinan gempa susulan yang lebih besar,” ujarnya.

Korban gempa yang tinggal di dua desa tersebut, Terong dan Lamahala Jaya, mencapai total 1.383 jiwa. Mereka tersebar di berbagai titik pengungsian di sekitar area bencana.