Program Terbaru: Memasuki Musim Kemarau, Ini Kata Dosen UGM Soal Pencegahan Karhutla

Memasuki Musim Kemarau, Ini Kata Dosen UGM Soal Pencegahan Karhutla

Dengan tiba nya musim kemarau, Fiqri Ardiansyah, dosen Fakultas Kehutanan UGM, memberikan peringatan tentang perlunya persiapan untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan. Ia menekankan bahwa strategi mitigasi harus lebih diperkuat, terutama melalui anggaran yang berfokus pada manajemen darurat berkelanjutan.

Prediksi BMKG: Musim Kemarau Tiba Lebih Awal dan Lebih Panjang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa mulai April 2026, sejumlah wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau. Dari data BMKG, sekitar 57,2 persen wilayah akan mengalami kemarau yang lebih lama, sedangkan 46,5 persen wilayah lainnya diperkirakan menghadapi musim kemarau lebih dini dari biasanya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

BMKG juga mencatat, 114 zona musim atau 16,3 persen total wilayah Indonesia akan masuk ke fase kemarau pada bulan tersebut. Perubahan arah angin dari Monsun Asia (angin barat) ke Monsun Australia (angin timur) menjadi tanda dimulainya musim kemarau. Wilayah yang terdampak lebih cepat antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.

Dalam laporan BMKG, sifat kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan lebih kering dari biasanya. Hal ini memperbesar kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Dalam konteks itu, Fiqri menggarisbawahi pentingnya tindakan proaktif untuk menghindari dampak serius.

Strategi Mitigasi: Infrastuktur dan Kolaborasi yang Berkelanjutan

Fiqri menyarankan penggunaan anggaran yang lebih adaptif, mengintegrasikan konsep manajemen darurat dari berbagai aspek, seperti pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Menurutnya, pendekatan ini akan memastikan keberlanjutan dalam mengatasi ancaman karhutla.

“OMC, sumur bor, sekat kanal masuk sebagai upaya pencegahan dan mitigasi,” ucap Fiqri dilansir dari laman UGM, Senin (30/3).

Ia juga menekankan peran strategis infrastruktur pembasahan gambut, seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sumur bor, dan sekat kanal. Menurut Fiqri, kombinasi alat-alat tersebut dapat menjaga kelembapan ekosistem dan mencegah terjadinya kebakaran.

Selain itu, Fiqri menjelaskan bahwa sekat kanal memiliki efektivitas tinggi dalam mengurangi risiko karhutla. “Gambut yang terbakar umumnya gambut yang terdegradasi sehingga keberadaan sekat kanal diharapkan mampu mengurangi lolosnya air dari ekosistem gambut, sehingga gambut tetap basah,” paparnya.

Peningkatan Kesadaran dan Model Kolaborasi

Fiqri menyoroti perlunya peningkatan kesadaran masyarakat tentang penggunaan api yang tidak terkendali. “Penyadartahuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan api yang tidak terkendali penting untuk dilakukan,” sebutnya.

Dalam rangka menangani karhutla, ia menyarankan model kerja yang permanen antara pemerintah dan pihak swasta. Bukan hanya bersifat sementara saat situasi darurat, tetapi dilakukan secara rutin melalui kegiatan seperti apel bersama, patroli, pemantauan, dan pendampingan oleh Manggala Agni serta BPBD.

Fiqri juga menyarankan pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB) sebagai alternatif untuk memutus siklus kebakaran yang berulang. “Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar bisa menjadi alternatif,” pungkasnya.