Rencana Khusus: Trump Mau Ambil Minyak Iran lewat Pulau Kharg, Apa Risikonya?

Trump Berencana Mengambil Kontrol Minyak Iran Melalui Pulau Kharg, Potensi Risikonya?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan niatnya untuk mengambil alih Pulau Kharg, wilayah yang berada di bawah penguasaan Iran. Ia menyatakan langkah tersebut bisa menjadi pilihan untuk memperkuat pengaruh AS terhadap industri minyak Iran, terutama setelah menangkap pemimpin negara tersebut, Nicolas Maduro, di awal tahun 2026. Dalam wawancara dengan Financial Times pada hari Minggu (29/3/2026), Trump menegaskan keinginannya sambil membandingkan situasi dengan Venezuela, tempat AS ingin tetap mengontrol sektor energi tanpa batasan waktu.

Kontrol Energi dan Strategi Geografis

Pulau Kharg berlokasi sekitar 126 km dari wilayah pesisir Iran di bagian utara Teluk Persia, serta 3.483 km dari Selat Hormuz. Wilayah ini memiliki kedalaman air yang memungkinkan kapal tanker besar berlabuh, berbeda dengan daerah pesisir yang lebih dangkal. Dengan menguasai Kharg, AS diharapkan bisa mengganggu distribusi minyak Iran dan menguntungkan negosiasi di masa depan. Sebagai produsen minyak ketiga terbesar di OPEC, Iran sangat bergantung pada ekspor energi sebagai tulang punggung perekonomian.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Sebelumnya, militer AS melakukan serangan terhadap pulau tersebut pada pertengahan Maret 2026. Trump menyebut operasi itu sukses menghancurkan target militer, sementara rencana berikutnya akan fokus pada infrastruktur minyak. Pemerintahan Trump juga sedang mempertimbangkan penugasan pasukan darat untuk memperkuat keberadaan mereka di lokasi tersebut.

Risiko Perang dan Dukungan Logistik

Menurut analis Ryan Brobst dan Cameron McMillan dari Foundation for Defence of Democracies, tindakan merebut Kharg bisa memperpanjang konflik dengan Iran. Mereka mengingatkan bahwa serangan rudal dan drone, termasuk jenis kecil yang menggunakan kamera “first-person view” seperti di Ukraina, bisa menjadi ancaman serius bagi pasukan AS. “Perebutan dan pendudukan Kharg lebih mungkin memperluas serta memperpanjang perang daripada menghasilkan kemenangan definitif,” kata mereka, melalui Reuters pada hari Sabtu (28/3/2026).

“Setelah serangan berhasil, rezim Iran diperkirakan akan merilis video serangan tersebut secara online, menggunakan kematian prajurit AS sebagai propaganda,” tambah para pakar tersebut.

Mantan komandan Komando Pusat AS, Joseph Votel, menyoroti kebutuhan logistik yang signifikan untuk mempertahankan keberadaan pasukan di pulau tersebut. Meski hanya sekitar 800 hingga 1.000 tentara yang berada di Kharg, mereka harus bergantung pada suplai yang juga rentan serangan. “Langkah itu akan agak aneh, tetapi kita bisa melakukan jika harus,” ujarnya.

Dilansir Times of India pada hari Senin (30/3/2026), Pentagon telah mengirim sekitar 10.000 personel terlatih untuk operasi darat, termasuk 3.500 anggota yang telah tiba pada hari Jumat (27/3/2026). Dari jumlah tersebut, sekitar 2.200 merupakan anggota Marinir, sementara 2.200 lainnya masih dalam perjalanan, didampingi ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Trump berharap penguasaan Kharg dapat memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus memberi AS keuntungan tawar dalam diplomasi. Namun, Teheran bisa menanggapi dengan memasang ranjau di perairan, termasuk ranjau terapung yang akan meningkatkan risiko bagi kapal-kapal yang melintas. Hal ini berpotensi memperburuk krisis navigasi di wilayah yang sudah tertekan akibat ketegangan saat ini.