Rencana Khusus: Rusia Pemegang Kunci Damai AS-Israel-Iran, Saatnya Putin Bertindak?

Rusia Pemegang Kunci Damai AS-Israel-Iran, Saatnya Putin Bertindak?

Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik di wilayah Timur Tengah kini berpotensi berubah dari operasi militer terbatas menjadi perang terbuka yang tak terkendali. Menurut analisis Murad Sadygzade, seorang Pakar di Pusat Studi Timur Tengah serta Profesor Tamu di HSE University Moskow, eskalasi ini dianggap sebagai hasil dari strategi terencana oleh Iran. Dalam tulisannya di Russia Today, Jumat (6/3/2026), ia menegaskan bahwa keterlibatan langsung AS dalam bentuk serangan, dukungan intelijen, atau penyediaan basis militer telah memicu status Washington sebagai pihak aktif dalam perang.

Perluasan Medan Tempur

Menurut Murad, perluasan konflik tidak hanya terbatas pada wilayah udara Iran atau wilayah Israel. Jaringan pendukung kekuatan Amerika, termasuk pusat logistik, fasilitas komando, serta jalur transportasi di negara-negara tetangga, menjadi target utama. “Medan perang kini mencakup seluruh infrastruktur yang memungkinkan proyeksi kekuatan AS, seperti pangkalan, simpul logistik, dan ekosistem pendukung yang menjaga operasional mereka,” jelas Murad dalam penjelasannya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Jika AS terlibat langsung, infrastruktur militer mereka menjadi target yang sah,” kata Murad Sadygzade.

Krisis Ekonomi Global

Konflik ini memicu ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global. Dengan posisi negara-negara Teluk sebagai poros pasar energi internasional, kerentanan pada jalur maritim dan jalur produksi minyak bisa langsung memengaruhi harga minyak, asuransi pelayaran, serta kepercayaan investor. “Perang di Teluk bukan sekadar konflik lokal; ia menjadi tekanan ekonomi terhadap sistem global,” ujarnya.

Monarki Arab dan Ketergantungan pada AS

Krisis juga mengguncang asumsi bahwa AS bisa menjamin keamanan mitra Arab. Murad menyatakan bahwa strategi pembalasan modern dirancang untuk menyebarkan ketidakpastian ekonomi, bukan sekadar mengambil wilayah. “Monarki Teluk lebih mengutamakan deeskalasi daripada terlibat langsung dalam konflik regional, karena biaya perang jauh lebih besar dari manfaatnya,” tambahnya.

Rusia sebagai Mediator Utama

Dalam kekosongan jaminan keamanan, Rusia muncul sebagai pihak kritis yang mampu menjadi perekat. Murad menyoroti upaya Presiden Vladimir Putin dalam melakukan komunikasi intensif dengan para pemimpin Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi sebagai tindakan diplomatik yang strategis. “Moskow memiliki kemampuan unik dalam menghubungkan Iran dengan monarki Arab, serta memainkan peran penting dalam mengendalikan ketegangan,” tulisnya.