BPOM gelar IGCRN bangun kolaborasi global dukung ekosistem kosmetik
Daftar Isi
Menggalangkebaikan.com – BPOM gelar IGCRN bangun kolaborasi global untuk memperkuat ekosistem industri kosmetik yang inovatif, aman, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar internasional. Forum bertajuk The Initiation of Global Cosmetic Regulatory Network tersebut menjadi ruang pertemuan bagi regulator, akademisi, peneliti, pelaku usaha, mahasiswa, serta pemangku kepentingan lain yang terlibat dalam pengembangan kosmetik.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa setiap negara memiliki kerangka regulasi kosmetik yang berbeda. Meski demikian, berbagai negara menghadapi tantangan serupa, terutama dalam memastikan keamanan produk, mengikuti perkembangan teknologi, dan mendorong inovasi tanpa mengabaikan perlindungan masyarakat.
“Setiap negara memiliki cosmetic regulatory framework yang berbeda, namun menghadapi tantangan yang serupa. Perbedaan ini menjadi peluang dalam membangun kerja sama internasional untuk saling belajar, berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas, dan membangun solusi bersama,” ujar Taruna Ikrar.
Kolaborasi global untuk ekosistem kosmetik yang kuat
Melalui forum ini, BPOM gelar IGCRN bangun kolaborasi dengan regulator dan pemangku kepentingan dari berbagai negara. Pertukaran pengalaman regulatori dinilai penting agar pengawasan produk kosmetik dapat terus berkembang sejalan dengan kebutuhan industri dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Taruna menekankan bahwa pertumbuhan industri kosmetik perlu ditopang kerja sama yang erat antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Pendekatan academia-business-government atau ABG dapat membantu mempertemukan temuan riset dengan kebutuhan pasar, sekaligus memastikan setiap inovasi dikembangkan sesuai dengan persyaratan regulatori yang berlaku.
Sinergi tersebut juga dibutuhkan untuk mempercepat lahirnya produk kosmetik yang memiliki nilai tambah. Riset tidak berhenti pada tahap pengembangan pengetahuan, melainkan dapat diarahkan menuju hilirisasi, pengujian, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan dapat memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian.
Platform Bridge dorong hilirisasi penelitian kosmetik
Salah satu langkah BPOM dalam memperkuat hubungan antara riset dan industri adalah melalui platform Bersinergi dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar atau Bridge. Platform ini mempertemukan peneliti dengan mitra industri untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian, termasuk pada sektor kosmetik.
Hingga saat ini, terdapat 13 proposal penelitian produk kosmetik yang diajukan melalui platform Bridge. Kehadiran platform tersebut diharapkan memudahkan peneliti menemukan mitra industri yang tepat, sementara pelaku usaha memperoleh akses terhadap gagasan dan hasil riset yang berpotensi dikembangkan menjadi produk.
“Bridge merupakan salah satu inovasi BPOM untuk menghubungkan peneliti secara langsung dengan industri. Melalui kolaborasi ini, hasil penelitian diharapkan dapat lebih cepat didorong menuju tahap hilirisasi dan pengembangan produk,” kata Taruna.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendiktisaintek, I Ketut Adnyana, juga menyoroti pentingnya orkestrasi riset yang melibatkan banyak pihak. Menurutnya, industri perlu mengambil bagian dalam kegiatan riset dan pengembangan agar peluang pertumbuhan sektor kosmetik dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Ia berharap sains, ekologi, dan inovasi menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan serta pemerataan ekonomi Indonesia. Keterlibatan industri sejak tahap riset dinilai dapat memperkuat relevansi penelitian terhadap kebutuhan nyata dan memperbesar peluang penerapannya dalam pengembangan produk.
Sains dan regulasi harus berjalan bersama
President of SICS, Sutriyo, menyatakan bahwa sains dan regulasi tidak dapat dipisahkan dalam mendorong inovasi kosmetik. Pengembangan produk membutuhkan bukti ilmiah yang memadai, sementara kerangka regulasi dibutuhkan untuk mengelola risiko dan menjaga keamanan konsumen di tengah perubahan teknologi yang cepat.
“Sains dan regulasi bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya merupakan dua tangan dari tubuh yang sama. Sains tanpa regulasi tidak akan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara optimal, sementara regulasi tanpa dukungan sains tidak akan mampu mengelola risiko sekaligus mendorong inovasi,” ungkap Sutriyo.
Kegiatan BPOM gelar IGCRN bangun kolaborasi ini merupakan hasil kerja sama BPOM dengan Society of Indonesian Cosmetic Scientists (SICS) dan Cosmobeauté Indonesia. Forum tersebut mempertemukan sekitar 160 peserta, yang terdiri atas regulator, pelaku industri, akademisi, mahasiswa, serta perwakilan BPOM.
Delegasi regulator yang hadir berasal dari Lao PDR Food and Drug Department, Ministry of Health, serta Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) Republik Korea. Sementara itu, peserta industri dari luar negeri datang dari Lao Phanthamit Group Company, Cosmetics Europe, dan perwakilan industri Swiss.
Melalui IGCRN, BPOM membuka ruang dialog dan kerja sama yang lebih luas dengan regulator global serta pelaku industri. Upaya ini diharapkan memperkuat ekosistem kosmetik nasional yang sehat, transparan, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing produk kosmetik Indonesia di pasar global.
FAQ seputar forum IGCRN BPOM
Apa tujuan utama IGCRN?
IGCRN bertujuan membangun kerja sama internasional dalam bidang regulasi kosmetik. Forum ini menjadi sarana untuk berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas regulator dan pemangku kepentingan, serta mencari solusi bersama atas tantangan industri kosmetik.
Siapa saja yang terlibat dalam forum ini?
Peserta IGCRN mencakup regulator, pelaku industri, akademisi, peneliti, mahasiswa, dan perwakilan BPOM. Forum ini juga dihadiri delegasi regulator dari Lao PDR dan Republik Korea, serta peserta industri dari sejumlah negara.
Bagaimana Bridge mendukung industri kosmetik Indonesia?
Bridge menghubungkan peneliti dengan mitra industri agar hasil penelitian dapat lebih cepat memasuki tahap hilirisasi dan pengembangan produk. Dalam konteks kosmetik, kolaborasi ini berpotensi memperkuat inovasi yang didukung riset serta memenuhi kebutuhan regulatori.