Pembahasan Penting: Puasa & Lebaran Serentak Tanpa Rukyat dan Hisab, Mungkinkah Terjadi?

Puasa & Lebaran Serentak Tanpa Rukyat dan Hisab, Mungkinkah Terjadi?

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebelum memasuki bulan suci Ramadan atau Hari Raya Idul Fitri, isu penentuan awal bulan Hijriah sering menjadi perbincangan hangat. Metode seperti hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung hilal) kerap menimbulkan perbedaan tanggal puasa di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di tengah perdebatan klasik ini, muncul konsep baru yang dinilai lebih inovatif: Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Konsep KHGT

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah sistem kalender Islam berbasis perhitungan astronomi internasional yang bertujuan menyelaraskan hari puasa dan lebaran di seluruh dunia. Dengan KHGT, jika satu negara menetapkan tanggal tertentu sebagai 1 Ramadan, maka semua umat Muslim di wilayah lain akan merayakannya pada hari yang sama. Sistem ini tidak mempertimbangkan hasil pengamatan hilal lokal.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Baca: Dalam 25 Tahun, Berapa Kali NU & Muhammadiyah Merayakan Lebaran Beda?

Beda dengan pendekatan tradisional yang memperhatikan visibilitas hilal per wilayah, KHGT menggunakan metode hisab dengan parameter global. Kalendernya bisa dirancang jauh ke depan, mirip dengan kalender Masehi. Ini memungkinkan prediksi jauh lebih akurat dan menghindari ketidakselarasan akibat perbedaan kondisi geografis.

Kemungkinan Implementasi KHGT

KHGT dianggap revolusioner karena menggabungkan tradisi hisab dengan pendekatan modern yang lebih menyeluruh. Meski sebagian ulama dan lembaga keagamaan masih mengandalkan rukyat lokal, penerapan KHGT tidak mustahil. Dalam era globalisasi dengan mobilitas tinggi dan komunikasi lintas batas, sistem kalender seragam menjadi semakin relevan. KHGT diharapkan bisa mempercepat kesepakatan internasional mengenai tanggal puasa dan lebaran.

Seiring kemajuan teknologi dan kebutuhan integrasi sistem, KHGT mungkin menjadi solusi untuk mengatasi polemik selama ini. Namun, penerimaan sistem ini masih bergantung pada dialog antarulama dan kepercayaan terhadap keakuratan perhitungan astronomi global.

(mae/mae) Add as a preferred source on Google