What Happened During: Bulan Bung Karno, Hasto soroti kritik sosial dalam “Ghost in the Cell”

IMG_4662

Bulan Bung Karno, Hasto Soroti Kritik Sosial dalam “Ghost in the Cell”

What Happened During – Di tengah perayaan Bulan Bung Karno tahun 2026, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyoroti pesan sosial yang terkandung dalam film horor komedi “Ghost in the Cell” karya sutradara Joko Anwar. Film ini, yang telah dibeli oleh 148 negara, menjadi bahan pembicaraan dalam acara nonton bareng yang digelar di Jakarta. Usai kegiatan tersebut, Hasto mengungkapkan bahwa kisah dalam film ini menggambarkan semangat perjuangan Soekarno, Bapak Proklamasi, dalam melawan kapitalisme dan imperialisme. “Bung Karno di dalam film ini menunjukkan bagaimana ia memperjuangkan nilai-nilai nasionalisme meskipun menghadapi tekanan dari sistem ekonomi global yang terus berubah,” ujar Hasto.

Analisis Hasto Kristiyanto

Menurut Hasto, film tersebut tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menyampaikan kritik tajam terhadap keinginan kekuasaan yang selalu mencari keuntungan. “Film ini menggambarkan bagaimana individu yang tamak, seperti tokoh Prakasa Kitabuming, mampu merusak kepercayaan masyarakat meskipun sudah dikenai hukuman,” kata Hasto. Ia menjelaskan bahwa karakter Prakasa Kitabuming, yang diperankan oleh Arswendy Bening Swara, memiliki makna simbolik. “Nomor registrasinya, 2106 1961, menunjukkan keterkaitan dengan kehidupan politik dan sosial Indonesia pada masa lalu, sehingga film ini menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda,” tambahnya.

“Ada pengusaha yang sangat tamak sehingga ketika dia ditangkap dipenjara pun karena kasus korupsi, pengusaha yang namanya Prakasa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa,” ujarnya.

Menurut Hasto, film ini juga menggambarkan bagaimana Soekarno membangun perlawanan terhadap dominasi eksternal. “Dalam konteks modern, film ini mencerminkan tuntutan masyarakat terhadap pemerintah yang belum sepenuhnya mengatasi masalah korupsi dan ketimpangan sosial,” katanya. Ia menambahkan bahwa genre horor komedi yang digunakan memperkuat pesan film ini, karena menarik perhatian penonton sambil menyampaikan kritik yang mendalam. “Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong pemikiran kritis tentang kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Hasto.

Pandangan Ganjar Pranowo

Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo turut memberikan tanggapan terhadap film “Ghost in the Cell”. Ia menyatakan bahwa film ini mengandung sindiran terhadap berbagai aspek kehidupan sosial yang terjadi di Indonesia. “Sindirannya lumayan nyelekit, meskipun horornya juga, wow, ngeri. Pesan-pesannya sampai bahwa kondisi republik seperti ini,” ucap Ganjar usai mengikuti acara nonton bareng. Ganjar menekankan bahwa film ini menjadi media untuk mengungkapkan kegelisahan masyarakat terkait masalah korupsi, ketidakadilan, dan dominasi kapitalisme.

“Meskipun nampak ada kengerian, tetapi itulah kalau negara tidak dikelola dengan baik. Apa yang disampaikan di dalam film dengan berbagai kritik sosial, politik, dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu bisa terjadi,” kata Hasto.

Ganjar juga mengungkapkan bahwa Bulan Bung Karno menjadi momentum penting untuk mendengarkan aspirasi rakyat melalui seni. “Film ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah dan menantikan perubahan yang lebih baik,” katanya. Ia menyoroti bahwa film ini memadukan elemen horor dan komedi, yang dianggap efektif dalam menyampaikan pesan-pesan yang berdampak luas.

Seleksi oleh Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan

Nonton bareng film “Ghost in the Cell” diadakan oleh Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seni lokal. Dalam konferensi pers, Ketua BKN PDI Perjuangan Once Mekel menjelaskan bahwa film ini dipilih karena mengandung ruang ekspresi kritis yang relevan dengan isu-isu nasional. “Ruang ekspresi ini penting buat kita karena memungkinkan penonton memahami realitas sosial melalui narasi yang menarik,” katanya.

“Film ini dipilih karena mengandung ruang ekspresi kritis serta didukung sinematografi dan skenario ciamik,” kata Once dalam konferensi pers.

Once juga menekankan bahwa film ini menunjukkan peningkatan kualitas produksi film dalam negeri. “Dengan menggabungkan genre horor dan komedi, film ini mampu menyampaikan kritik sosial yang menarik perhatian penonton tanpa kehilangan kesan dramatisnya,” ujarnya. Ia berharap film ini dapat menjadi referensi bagi pembuatan karya-karya seni lain yang menggabungkan alur cerita dan pesan politik.

Menurut Once, “Ghost in the Cell” tidak hanya mengeksplorasi masalah korupsi, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan politik dan kebangsaan. “Karakter Prakasa Kitabuming mewakili sikap pengusaha yang terus berusaha mengendalikan kekuasaan, bahkan di tengah konflik internal dan eksternal,” kata Once. Ia menambahkan bahwa film ini menjadi sarana untuk menyampaikan kritik terhadap sistem pemerintahan yang terkadang tidak transparan.

Hasto Kristiyanto mengakui bahwa film ini memperlihatkan kekuatan seni dalam menyampaikan pesan politik. “Masyarakat kini lebih terbuka terhadap kritik melalui media, terutama film, yang bisa menjangkau audiens luas,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa film ini menjadi pengingat bagi banyak pihak, termasuk pemimpin negara, tentang pentingnya integritas dalam pengelolaan kekuasaan. “Dengan semangat gotong royong, kita bisa mengubah keadaan yang tidak sehat menjadi lebih baik,” katanya.

Dalam keseluruhan rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno, film “Ghost in the Cell” dianggap sebagai contoh karya yang menggabungkan hiburan dan kritik. “Film ini mencerminkan keinginan rakyat untuk melihat perubahan dan menjaga semangat perjuangan Bung Karno,” ujar Ganjar Pranowo. Ia berharap kritik yang disampaikan dalam