Menghadapi Tantangan: Di Kupang, Wapres Gibran puji hasil tani untuk suplai MBG

Di Kupang, Wapres Gibran puji hasil tani untuk suplai MBG

Kunjungan Wapres Gibran ke Desa Mata Air

Jakarta – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan pujian kepada sejumlah kelompok tani di Desa Mata Air, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, setelah mendengar laporan bahwa hasil panen mereka digunakan sebagai bahan baku Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut. Pada kunjungan kerjanya Senin (6/4), Gibran bertemu langsung dengan para petani, termasuk anggota Komunitas Petani Millenial seperti Kelompok Tani Pemuda Sulamanda dan Kelompok Wanita Tani Cinta Kasih di Agroeduwisata GMIT Tarus.

“Tadi saya melihat hasil panen sudah dialokasikan untuk MBG. Jadi, pihak pembeli tetap sudah jelas, nanti digunakan untuk program makan bergizi gratis, termasuk hasil perikanan yang juga sudah disuplai,” ujar Gibran saat berdialog dengan sejumlah petani, sebagaimana dikutip dari siaran resmi Sekretariat Wapres yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Dalam kesempatan itu, Gibran meminta Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena untuk bersama mencari solusi permasalahan yang dihadapi petani. “PR kita, Pak Gubernur, adalah meningkatkan ketersediaan alat sesuai kebutuhan,” tambahnya.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Kendala yang Dikemukakan Petani

Salah satu petani, Nathalie Marlinche, mengungkapkan beberapa hambatan yang dihadapi masyarakat desa. “Yang pertama, penyediaan air untuk penyiraman masih menjadi masalah. Kami harus memikul air sendiri, lalu yang kedua, pengelolaan lahan masih menggunakan alat sederhana seperti pacul,” jelas Nathalie.

“Bapak, Ibu, saat ini fokus Presiden adalah swasembada pangan dan energi. Jadi, Presiden meminta kita meningkatkan produksi pertanian secara signifikan,” tegas Gibran setelah mendengar keluhan para petani.

Pada akhirnya, Gibran menekankan bahwa pemerintah sedang berupaya mengoptimalkan seluruh proses produksi pertanian, dari awal hingga akhir, termasuk pemanfaatan teknologi modern. “Kita akan memikirkan dari A sampai Z. Masalah air, benih, pupuk, serta alat modern harus diperhatikan agar tenaga manual tidak lagi diperlukan,” katanya.