Program Terbaru: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto

Karir Militer Try Sutrisno, Dari Kesulitan Awal hingga Menjadi Figur Penting

Try Sutrisno, mantan jenderal TNI yang meninggal dunia pada usia 90 tahun, wafat setelah dirawat selama dua minggu di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Penyebab kematian almarhum adalah dehidrasi. Meninggal dunia pada Senin (2/3) pukul 06.58 WIB, ia rencananya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Masa Awal dan Kegagalan Pertama

Born pada 15 November 1935, Try Sutrisno memulai karier militer dari pangkalan kecil. Ia lulus dari Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) tahun 1959, setelah menghadapi tantangan berat. Pada masa muda, almarhum pernah gagal dalam ujian fisik saat mendaftar di ATEKAD. Namun, kegagalan itu justru menjadi titik balik.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Pada masa muda, Try Sutrisno pernah mengalami kegagalan dalam tes fisik saat mendaftar di ATEKAD,”

Kegagalan tersebut menarik perhatian Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, yang merupakan Kasad pertama sejak 1948. Djatikusumo memanggil Try untuk mengikuti pemeriksaan psikologis di Bandung, Jawa Barat, hingga akhirnya diterima masuk akademi militer. Di sana, ia bersahabat dengan Benny Moerdani.

Pengabdian dan Jabatan Tinggi

Karir militer Try Sutrisno dianggap moncer. Setelah lulus ATEKAD pada 1959, ia mengemban tugas di Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Tahun 1972, ia dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), yang menjadi pintu masuknya ke level lebih tinggi. Setelah menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1974, Try terus menanjak.

Usai menjalani tugas sebagai ajudan selama empat tahun, ia ditugaskan sebagai Panglima Kodam XVI/Udayana pada 1978. Tahun berikutnya, Try naik jabatan menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya. Di bawah kepemimpinannya, TNI berhasil menghentikan penyelundupan timah dan berpartisipasi dalam upaya konservasi gajah Sumatra.

Puncak Karir dan Jejak Pengabdian

Try Sutrisno mencapai puncak karirnya pada periode 1988–1993 sebagai Panglima ABRI. Meski di awal mengaku tidak berniat menjadi wakil presiden, kehidupannya berubah setelah pensiun dari jabatan tertinggi. Ia meniti karier dari bawah hingga memegang posisi strategis dalam TNI.

“Semasa hidupnya, almarhum meniti karier militer dari bawah hingga mencapai posisi tertinggi,”

Dalam jabatan Kasad 1986–1988, Try mendorong pembentukan Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk membantu prajurit membeli rumah. Pergantian tahun 1982 melihatnya dipercaya mengamankan peristiwa Tanjung Priok di Jakarta. Dua tahun kemudian, ia naik menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, lalu pada 1986 menjabat Kasad.

Kehilangan dan Penghargaan

Kematian Try Sutrisno meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam sejarah TNI dan bangsa Indonesia. Dua anaknya, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, juga menjadi tokoh militer. Rencana pemakaman almarhum di Kalibata diatur oleh Istana, yang meminta RSPAD Gatot Soebroto, Garnisun Jakarta, dan Kemeterian Sekretariat Negara memberikan perhatian penuh.

Jenazah rencananya disalatkan di Masjid Sunda Kelapa, sebelum dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kepergian Try Sutrisno menjadi pengingat akan perjuangan seorang jenderal legendaris yang memulai karier dari nol. Ia bahkan pernah mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena keterbatasan dana, meski saat itu menjabat Panglima ABRI.