Program Terbaru: Karir Militer Try Sutrisno, Sempat Gagal di Tes Fisik hingga Menarik Perhatian Mayjen GPH Djatikusumo & Ajudan Soeharto

Kabar Meninggalnya Try Sutrisno

Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno, tokoh militer Indonesia yang dihormati, wafat pada usia 90 tahun. Meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama sekitar dua minggu di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, akibat kondisi dehidrasi. Meninggal Senin (2/3) pukul 06.58 WIB. Rencananya, jenazah akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Jejak Pengabdian dan Warisan

Try Sutrisno, mantan Panglima ABRI, meninggalkan jejak luar biasa dalam sejarah TNI dan perjalanan bangsa Indonesia. Sebelum menjabat Wapres RI ke-6, ia memulai karir militer dari dasar, melewati berbagai tantangan hingga mencapai posisi tertinggi. Dalam masa kepemimpinannya sebagai Kadis Kodam, ia juga aktif dalam kampanye konservasi gajah Sumatra serta menindak penyelundupan timah.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Perjalanan Karier Militer Try Sutrisno

LaTeX dari sejumlah sumber, karier Try Sutrisno di militer mengalami kebangkitan setelah ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) pada 1959. Sebelumnya, ia sempat gagal dalam tes fisik saat mendaftar, tetapi nasib mengubah arah. Sosoknya menarik perhatian Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, yang ketika itu menjadi Kasad pertama. Djatikusumo memanggil Try untuk mengikuti ujian psikologis di Bandung, Jawa Barat, yang akhirnya membuka jalan bagi masuknya ke ATEKAD.

Setelah lulus, Try mulai mengemban tugas di berbagai wilayah seperti Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur. Pada tahun 1972, ia dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) untuk melatih keterampilan strategis. Tahun 1974, ia menjadi ajudan Presiden Soeharto, posisi yang memperkuat kredibilitasnya dalam lingkaran kekuasaan. Setelah 4 tahun mengabdikan diri sebagai ajudan, Try naik ke jenjang lebih tinggi, menjabat Panglima Kodam XVI/Udayana pada 1978.

Karir Mengarah ke Puncak

Kemudian, ia diangkat sebagai Panglima Kodam IV/Sriwijaya. Dalam beberapa tahun, karirnya terus berkembang, hingga pada 1986 menjabat Kadis Kodam. Tahun berikutnya, ia dipercaya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dan setahun kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Dalam masa jabatannya, Try membentuk Ban Tabungan Wajib Perumahan TNI AD untuk memudahkan prajurit membeli rumah.

Puncak karier militer Try Sutrisno tercapai ketika ia menjabat Panglima ABRI pada periode 1988-1993. Meski pernah menyatakan tidak berniat menjadi wapres, nasib dan peluang membawanya ke posisi tersebut. Setelah pensiun, ia berusaha fokus pada keluarga, tetapi sepanjang hidupnya, Try tetap aktif dalam berbagai upaya pengabdian. Salah satu kenangan istimewa adalah kisahnya mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena tidak memiliki dana tunai.

Warisan dan Kekeluargaan

Try Sutrisno meninggalkan dua anak, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo. Saat kepergianannya, ia berdiri tersenyum di samping Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD), Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan kembali peran Try dalam sejarah bangsa Indonesia.

“Jejak pengabdian Try Sutrisno akan selalu dikenang, karena ia berdiri dari bawah hingga mencapai puncak karier militer sebagai bentuk dedikasi yang luar biasa.”