Rencana Khusus: Konflik Timur Tengah & Pergeseran Keseimbangan Pasar Minyak
Konflik Timur Tengah & Pergeseran Keseimbangan Pasar Minyak
Konflik Timur Tengah, khususnya antara AS, Israel, dan Iran, telah menyebabkan perubahan signifikan dalam dinamika pasar minyak global. Dalam skenario di mana ketegangan ini tidak memicu gangguan, pasokan minyak global pada tahun 2026 diperkirakan akan berada dalam kondisi kelebihan. Data dari US Energy Information Administration (EIA) tahun 2025 menunjukkan bahwa pasokan global akan mencapai sekitar 107,4 juta barel per hari (bph), meningkat dari 106,2 juta bph pada tahun sebelumnya.
Perubahan Pasokan & Permintaan
Kenaikan pasokan utamanya berasal dari produsen non-OPEC, yang memperlihatkan peningkatan produksi dari 72,5 juta bph menjadi 73,7 juta bph. Negara-negara seperti AS, Brasil, Guyana, dan Kanada menjadi pendorong utama dari pertumbuhan ini. Di sisi lain, OPEC+ juga memperkirakan peningkatan pasokan dari 33,6 juta bph menjadi 33,8 juta bph.
Permintaan minyak global pada 2026 diperkirakan sekitar 105,2 juta bph, naik dari 103,9 juta bph pada 2025. Pertumbuhan ini terutama diakui dari negara-negara non-OECD di Asia, terutama China (+300 ribu bph) dan India (+170 ribu bph). Selain itu, wilayah Timur Tengah dan Afrika juga menambah konsumsi sekitar 100 ribu bph dan 150 ribu bph, masing-masing.
Diskon Pasokan di Selat Hormuz
Konflik mengubah kondisi keseimbangan pasar secara drastis. Disrupsi pasokan melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting energi global, menjadi faktor utama. Sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia melewati area ini, menjadikannya chokepoint strategis. Negara-negara Teluk mengirimkan sekitar 20 juta bph ke pasar global, tetapi hilangnya pasokan bisa mencapai 17,5 juta bph, terdiri dari 13,4 juta bph minyak mentah dan 4,1 juta bph produk minyak.
“Tidak mengherankan jika harga minyak Brent naik dari sekitar USD 65 per barel sebelum krisis menjadi di atas USD 100 per barel, dan fluktuasinya bahkan sudah sempat melampaui USD 115 per barel saat tulisan ini dibuat.”
Upaya Penyesuaian Pasokan
Untuk meredam gejolak, International Energy Agency (IEA) dan AS berkolaborasi melepaskan cadangan strategis minyak, masing-masing sebanyak 400 juta barel dan 172 juta barel. Ini merupakan pelepasan terbesar dalam sejarah, jauh lebih besar dibandingkan 182 juta barel yang dilepaskan setelah invasi Rusia ke Ukraina 2022 lalu.
Namun, jika distribusi dilakukan selama dua bulan, jumlahnya hanya sekitar 6,6 juta bph, yang jauh lebih kecil dari kehilangan pasokan sebesar 17,5 juta bph. Disrupsi ini mendorong penggunaan jalur pipa melalui Hormuz, penarikan stok komersial minyak Rusia dan Iran, serta peningkatan ekspor dari produsen di luar wilayah Teluk, masing-masing sekitar 2 juta bph.
Mekanisme Penyesuaian
Pada periode short run, keseimbangan pasar disesuaikan melalui empat mekanisme: (1) cadangan minyak strategis (SPR), (2) penyimpanan komersial, (3) penyimpanan kilang, dan (4) persediaan industri yang diperintahkan pemerintah. Kombinasi keempat sumber ini berfungsi sebagai penyangga harga sementara.
Meski langkah-langkah ini berhasil menutupi sebagian kehilangan pasokan, durasi penyesuaian terbatas, sehingga tidak menjadi solusi permanen. Dalam kondisi shock pasokan besar, pasar menyesuaikan diri melalui beberapa mekanisme secara bersamaan, termasuk penurunan permintaan. EIA memperkirakan penyesuaian ini dapat mencapai sekitar 1,7 juta bph.

