Strategi Penting: Bali Mulai ‘Berdarah’ Efek Perang Iran, Jumlah Penerbang Turun Drastis

Bali Mulai ‘Berdarah’ Efek Perang Iran, Jumlah Penerbang Turun Drastis

Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik di wilayah Timur Tengah mulai mengganggu operasional industri penerbangan global, menurut laporan CNBC Indonesia. Maskapai penerbangan kini terpaksa mengubah jalur penerbangan untuk menghindari daerah sensitif di sekitar Iran, yang menyebabkan peningkatan jarak tempuh dan biaya operasional.

Lonjakan Bahan Bakar dan Rute Lebih Panjang

Keadaan ini membuat maskapai harus menempuh rute yang lebih jauh, mengakibatkan konsumsi bahan bakar meningkat, waktu tempuh lebih lama, serta kenaikan biaya operasional. Dampak terbesar dirasakan oleh destinasi wisata utama seperti Thailand dan Bali, menurut sumber dari Nation Thailand.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

…karena sebagian besar wilayah udara di Timur Tengah masih dibatasi secara ketat, puluhan ribu penerbangan telah dibatalkan atau dialihkan sejak konflik meletus pada 28 Februari.

Koridor Asia-Eropa Terganggu

Kondisi ini mengganggu koridor utama Asia-Eropa dan turut berdampak pada sektor pariwisata di Asia Tenggara. Laporan Reuters menyebutkan bahwa maskapai di Asia dan Eropa telah meningkatkan harga tiket, menambahkan biaya bahan bakar tambahan, serta mengatur ulang jadwal penerbangan.

Risiko Penurunan Permintaan

Lonjakan harga bahan bakar jet dan perubahan rute berpotensi menekan permintaan perjalanan jarak jauh, terutama yang bersifat opsional. Analisis industri menyebut Thailand dan Indonesia khususnya Bali sebagai destinasi Asia Tenggara yang paling rentan jika gangguan ini terus berlanjut.

Malaysia Dinilai Lebih Tangguh

Meski terdampak, Malaysia dipandang lebih tahan terhadap efek langsung, karena wisatawan dari Eropa hanya menyumbang sekitar 15% dari total kunjungan. Namun, mereka umumnya memiliki durasi tinggal lebih lama dan pengeluaran lebih besar untuk akomodasi, tur, dan belanja.

…setidaknya 200 penerbangan keluar, terutama menuju Timur Tengah, telah dibatalkan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur sejak konflik berlangsung.

Peluang Strategis Bagi Malaysia

Di tengah gangguan, Malaysia melihat peluang strategis. Kepala penerbangan sipil Malaysia, Norazman Mahmud, mengatakan bahwa bandara di Thailand, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia berpotensi menjadi pusat transit alternatif yang lebih aman dan stabil bagi penumpang menuju Eropa, seiring maskapai mengevaluasi ulang titik transit di kawasan Teluk.

Malaysia Airlines mulai menambah kapasitas penerbangan ke Eropa. Malaysia Aviation Group juga mengungkapkan penerbangan tambahan ke London dan Paris telah disiapkan untuk mendukung kebutuhan perjalanan selama periode gangguan.

Pilihan Redaksi dan Tren Wisata

Pilihan Redaksi Singapore Airline memperpanjang larangan terbang ke Dubai hingga 30 April. Sementara itu, program Visit Malaysia 2026 serta tren peningkatan pariwisata yang terus berlangsung diyakini dapat memperkuat daya tarik Malaysia.

(hsy/hsy) Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article Siap-Siap! Arus Mudik Libur Nataru ke Wilayah RI Ini Bakal Membeludak