Berita Penting: 3 Skenario Akhir Perang di Arab, Iran Bisa Menang Lawan AS-Israel?

Krisis Iran Berpotensi Berlanjut, Tiga Skenario Akhir Perang Jadi Perhatian

Jakarta, CNBC Indonesia – Krisis yang melanda Iran kini semakin memperumit dinamika hubungan dengan AS dan Israel. Kondisi ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan akhir perang yang akan terjadi, terutama berdasarkan keputusan para pemimpin yang sulit diprediksi. Dua tokoh utama, Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menjadi fokus analisis.

Skenario Pertama: Iran yang Terkendali

Dalam skenario pertama, dengan probabilitas sebesar 60%, Iran diperkirakan akan tetap utuh secara politik meski kapasitas militer dan industri pertahanannya terdegradasi. Menurut laporan CNN International, Trump memberikan waktu bagi pasukan militer untuk mencapai tujuan melumpuhkan kekuatan Iran. Namun, AS dan mitranya akan tetap berusaha meminimalkan dampak ekonomi.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Skenario ini mengasumsikan bahwa kapasitas proyeksi kekuatan dan basis industri Iran berkurang secara signifikan, tetapi struktur politiknya masih utuh. Kampanye militer akan dihentikan setelah target tercapai, tanpa janji perubahan rezim di Teheran,” jelas Brett H. McGurk.

Skenario Kedua: Kemenangan AS yang Prematur

Skenario kedua, dengan peluang 30%, menggambarkan situasi di mana AS menyatakan kemenangan sebelum misi militer selesai. Hal ini bisa terjadi jika tekanan ekonomi di AS meningkat. McGurk menyoroti risiko ini: “Penghentian dini kampanye akan meningkatkan kepercayaan diri rezim Iran, membuatnya lebih berani dan mengancam stabilitas kawasan serta dunia.”

Skenario Ketiga: Munculnya Iran Baru

Skenario ketiga, dengan probabilitas 10%, mengisahkan kemungkinan keruntuhan rezim Iran yang akan memicu perubahan politik dan struktur kekuasaan. Meski tekanan militer eksternal bisa melemahkan sistem pemerintahan, sejarah menunjukkan bahwa hasil seperti ini jarang terjadi tanpa dukungan oposisi internal yang kuat.

“Tekanan militer eksternal jarang menghasilkan kejatuhan rezim secara cepat tanpa perlawanan dari dalam. Iran pun menunjukkan tanda-tanda seperti itu,” kata McGurk.

Di sisi lain, penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menjadi pertanyaan tersendiri. Ia diyakini hanya akan berperan sebagai simbol formalitas, sementara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap menguasai kekuasaan. Belum jelas apakah Khamenei mampu memperkuat kontrol politik atau justru memicu persaingan baru di puncak kekuasaan.

McGurk menegaskan bahwa keterlibatan AS dalam konflik ini, baik melalui pencegahan, penahanan, maupun tindakan militer, kemungkinan besar akan terus berlangsung hingga akhir krisis. Meski skenario paling mungkin adalah kemenangan AS yang terbatas, situasi Iran di bawah kepemimpinan Khamenei tetap menjadi variabel utama dalam dinamika perang ini.