Agenda Utama: Ribuan Pasukan Elite AS Tiba, Invasi Darat ke Iran Tinggal “Sejengkal”

Ribuan Prajurit Elit Amerika Serikat Kini Berada di Wilayah Timur Tengah

Dalam upaya memperkuat posisi militer di wilayah Timur Tengah, ribuan prajurit elit Amerika Serikat mulai tiba di kawasan tersebut. Langkah ini mengindikasikan kemungkinan eskalasi konflik dengan Iran, terutama jika Washington memutuskan untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Pemerintahan Donald Trump sedang mengevaluasi berbagai skenario, termasuk operasi darat yang bisa melibatkan penempatan pasukan di dalam wilayah Iran.

Pasukan Lintas Udara dan Dukungan Logistik

Dua sumber dari pemerintahan AS mengungkapkan kepada Reuters bahwa ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat telah mulai beroperasi di Timur Tengah. Unit ini dikenal sebagai pasukan penerjun payung yang bisa diaktifkan dengan cepat untuk misi tempur intensif. Selain itu, tambahan pasukan mencakup elemen markas divisi, dukungan logistik, serta satu brigade tempur.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Langkah ini sudah diprediksi, meski lokasi penempatan pasukan belum diumumkan secara spesifik,” kata salah satu sumber yang berbicara secara anonim.

Selama akhir pekan, sekitar 2.500 anggota Marinir juga tiba di kawasan tersebut. Mereka bergabung dengan ribuan pelaut dan pasukan khusus yang telah dikirim sebelumnya. Strategi ini diharapkan meningkatkan kemampuan militer AS untuk mempersiapkan operasi skala besar jika diperlukan.

Kemungkinan Target Strategis di Iran

Pembahasan internal pemerintahan Trump mencakup beberapa opsi, termasuk merebut Pulau Kharg, yang menjadi pusat ekspor sekitar 90% minyak Iran. Rudal dan drone Iran bisa mencapai pulau tersebut, tetapi pasukan darat AS berpotensi mengambil alih pengendalian wilayah ini.

Selain itu, ada pertimbangan untuk menempatkan pasukan AS di Iran guna melindungi jalur aman kapal tanker melalui Selat Hormuz. Misinya akan dominan menggunakan kekuatan udara dan laut, namun bisa melibatkan pasukan darat di garis pantai Iran jika situasi membutuhkan.

“Pemerintah AS sedang berdiskusi dengan ‘rezim yang lebih masuk akal’ untuk mengakhiri perang di Iran,” tutur Trump pada Senin. “Namun, Teheran harus membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap fasilitas minyak dan listriknya.”

Risiko Politik dan Operasi yang Berlangsung

Sejak operasi dimulai 28 Februari, AS telah menargetkan lebih dari 11.000 objek. Dalam proses ini, lebih dari 300 tentara terluka dan 13 anggota militer gugur. Namun, pengerahan pasukan darat, bahkan untuk tugas terbatas, dinilai membawa risiko signifikan bagi Trump.

Dukungan publik Amerika terhadap perang di Iran relatif rendah, sementara Trump sebelumnya berjanji untuk menghindari keterlibatan baru di wilayah tersebut. Meski demikian, pasukan yang dikirim berpotensi memperluas opsi militer hingga memasuki fase pengekstraksi uranium tinggi yang tersembunyi di bawah tanah Iran.