Main Agenda: Angin duduk berisiko bisa jadi sinyal gangguan pada otot jantung

image0-10.v1

Angin Duduk Berisiko Menjadi Tanda Peringatan Gangguan Otot Jantung

Main Agenda – Dalam sebuah diskusi yang diadakan di Jakarta, Selasa, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, menjelaskan bahwa angin duduk—yang secara medis dikenal sebagai Angina Pektoris—bisa menjadi pertanda awal adanya masalah pada otot jantung. Menurut Febtusia, kondisi ini terjadi ketika otot jantung tidak menerima pasokan darah dan oksigen secara cukup. Hal ini berpotensi mengganggu fungsi jantung yang vital bagi kehidupan manusia.

Penyebab dan Mekanisme Angina Pektoris

Febtusia menjelaskan bahwa Angina Pektoris adalah gejala yang muncul ketika aliran darah ke otot jantung terhambat. Jantung membutuhkan suplai oksigen dan nutrisi yang baik dari pembuluh darah koroner untuk tetap beroperasi optimal. Ketika aliran tersebut terganggu, otot jantung mengalami ketidaknyamanan, yang sering dirasakan sebagai rasa nyeri atau tekanan. “Pembuluh darah yang terhambat berarti ada bagian otot jantung yang tidak mendapat pasokan oksigen secara lengkap. Kekurangan oksigen ini membuat otot mengalami ‘krisis,’ sehingga muncul rasa nyeri,” kata Febtusia.

Makna Etimologis dan Asal Usul Istilah “Angin Duduk”

Istilah Angina Pektoris berasal dari bahasa Yunani Kuno, di mana “angina” mengacu pada rasa mencekik atau menyempit, sementara “pektoris” merujuk pada dada. Febtusia menambahkan bahwa istilah “angin duduk” mungkin muncul dari perilaku penderita yang sering memilih posisi duduk saat mengalami gejala. “Orang yang menderita angina sering kesulitan tidur atau bernapas nyaman. Mereka cenderung duduk untuk meredakan rasa tidak nyaman, sehingga istilah ini mungkin berasal dari kebiasaan tersebut,” jelasnya.

Faktor Risiko Utama yang Memicu Angina Pektoris

Dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) ini menyebutkan bahwa beberapa faktor meningkatkan risiko terkena angina pektoris. Salah satunya adalah kadar kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) yang tinggi. Febtusia menjelaskan bahwa LDL dapat menumpuk di dinding pembuluh darah, mirip dengan pembentukan lapisan batu bata yang rapuh. “Ketika dinding pembuluh darah rusak, lemak dan zat-zat lain mudah menempel, membentuk plak yang menghambat aliran darah,” tuturnya.

Penyakit hipertensi juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap risiko angina. Tekanan darah tinggi dapat merusak struktur dinding pembuluh darah, membuatnya lebih rentan terhadap pengendapan zat berbahaya. Febtusia menambahkan bahwa tekanan darah yang ideal adalah 130/80. Jika tekanan darah melebihi angka tersebut, dinding pembuluh darah mulai mengalami disfungsi, yang berpotensi memperburuk kondisi.

Dampak Diabetes dan Kebiasaan Merokok pada Kesehatan Jantung

Diabetes menjadi faktor risiko lain yang perlu diperhatikan. Febtusia menyatakan bahwa kadar gula darah yang tinggi dapat merusak lapisan pembuluh darah dan mengurangi kemampuan jantung untuk berfungsi secara optimal. Selain itu, kebiasaan merokok juga memberi dampak negatif pada kualitas pembuluh darah. “Rokok mengandung zat-zat beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang mengikat sel darah merah, sehingga mengurangi kapasitasnya mengangkut oksigen. Ini membuat otot jantung lebih mudah mengalami kekurangan pasokan,” tambah Febtusia.

Pencegahan dan Pentingnya Deteksi Dini

Febtusia menekankan bahwa angina pektoris bisa menjadi tanda awal penyakit jantung koroner yang lebih serius. Jika tidak diperhatikan, kondisi ini dapat berkembang menjadi serangan jantung atau gagal jantung. “Angina adalah peringatan bahwa pembuluh darah sedang mengalami gangguan, sehingga perlu diatasi segera. Deteksi dini bisa mencegah komplikasi yang lebih parah,” kata Febtusia. Ia juga menyarankan untuk mengadakan gaya hidup sehat, seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak, berolahraga rutin, dan menghindari rokok.

Peran Kolesterol dan Faktor Lain dalam Membentuk Plak

Febtusia menjelaskan bahwa keberadaan kolesterol jahat dalam tubuh menyebabkan pembentukan timbunan lemak di dinding pembuluh darah. Proses ini disebut fatty streak, yang merupakan awal dari penyumbatan. “Sel-sel pembuluh darah yang rusak memberi ruang bagi LDL untuk menumpuk. Dengan waktu, plak ini bisa mengeras dan membatasi aliran darah, memicu nyeri dada yang khas,” ujar Febtusia.

Sementara itu, stress dan pola makan tidak sehat juga turut memperparah kondisi. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan tekanan darah dan mempercepat penumpukan lemak. “Pola hidup yang buruk mengakibatkan pembuluh darah menjadi lebih lemah, sehingga rentan terhadap penyumbatan,” tambahnya. Febtusia berharap masyarakat lebih waspada terhadap gejala awal, seperti nyeri dada yang berulang atau sesak napas, agar bisa mengambil langkah preventif.

Respon Tubuh dan Perubahan Dalam Pembuluh Darah

Febtusia menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme untuk mengatasi tekanan darah tinggi. Namun, jika tekanan darah terus meningkat, mekanisme tersebut tidak cukup efektif. “Tubuh bisa mengompensasi tekanan darah sampai batas tertentu, tetapi jika melebihi 130/80, dinding pembuluh darah mulai terganggu. Ini berdampak pada kemampuan darah untuk mengalir lancar ke otot jantung,” kata Febtusia.

Keluhan nyeri dada yang disebut angina bisa berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam. Febtusia menekankan bahwa rasa nyeri ini sering diikuti oleh keringat dingin, kembung, atau perasaan lelah yang berlebihan. “Gejala ini perlu diperhatikan karena bisa menunjukkan adanya gangguan di pembuluh darah,” ujarnya.

Kesimpulan dan Pemantauan Kesehatan Jantung

Febtusia mengingatkan bahwa angina pektoris adalah pertanda yang penting. Ia menyarankan untuk rutin memeriksa kesehatan jantung, terutama