Solusi untuk: Teka-teki Penyiram Air Keras Aktivis KontraS
Teka-teki Penyiram Air Keras Aktivis KontraS
Kamis (12/3), seorang wakil koordinator dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban aksi penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal. Kejadian berlangsung di kawasan Jakarta Pusat, sekitar pukul 23.00 WIB. Menurut Dimas Bagus Arya, koordinator KontraS, peristiwa tersebut terjadi saat Andrie sedang menghadiri acara podcast di kantor YLBHI.
“Andrie mengalami serangan penyiraman air keras yang menyebabkan luka berat di seluruh tubuh, khususnya tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta mata,” kata Dimas dalam pernyataan tertulis, Jumat (13/3).
Dari laporan KontraS, insiden dimulai saat Andrie mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I–Talang. Tiba-tiba, dua pelaku berboncengan motor matik—diduga Honda Beat—datang dari arah berlawanan. Pelaku pertama berperan sebagai pengemudi, sementara pelaku kedua bertindak sebagai penumpang.
Ciri-ciri pelaku yang teridentifikasi: pengemudi mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap berbahan jeans, serta helm hitam. Penumpang, di sisi lain, menggunakan masker hitam, kaus biru tua, dan celana panjang jeans yang dilipat pendek. Serangan terjadi secara mendadak, menyebabkan Andrie terjatuh dan berteriak kesakitan.
Langkah Penyidikan oleh Polri
Kadiv Humas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir, menyatakan bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. “Polri telah mengambil langkah-langkah, termasuk olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan berdasarkan Laporan Polisi Model A Nomor 222/III/2026/Satreskrim/Restro Jakarta Pusat/Polda Metro Jaya,” jelas Johnny kepada wartawan, Jumat (13/3).
Dalam penyidikan, Polres Jakarta Pusat bersama Polda Metro Jaya dan Bareskrim Mabes Polri melakukan investigasi. Karena kejadian masih terjadi di awal, polisi membutuhkan informasi tambahan dari masyarakat. “Kami berharap warga yang mengetahui detail peristiwa ini dapat membantu memberikan data kepada penyidik, dengan perlindungan yang pasti,” tegas Johnny.
Komentar dari Tokoh Politik
Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni, mengkritik insiden serupa yang terjadi di tahun 2026. “Teror seperti ini merusak iklim demokrasi, terutama jika terkait aktivitas korban,” katanya dalam keterangan, Jumat (13/3). Sahroni menekankan pentingnya pengungkapan motif serta dalang penyerangan.
Anggota Komisi III, Soedeson Tandra, menyatakan bahwa kasus ini wajib diusut secara tuntas. “Ini bukan hanya soal KontraS, tapi soal perlindungan warga negara. Pihak berwajib harus menangkap pelaku dan menjelaskan alasan serangan tersebut secara jelas,” ujarnya.

