Key Discussion: Indonesia dukung agenda China dorong transformasi digital di APEC 2026

Indonesia Dukung Agenda China Dorong Transformasi Digital di APEC 2026

Key Discussion – Shanghai menjadi panggung utama bagi pernyataan Pemerintah Indonesia yang menegaskan dukungan terhadap inisiatif Tiongkok sebagai ketua bergilir APEC 2026. Kementerian Luar Negeri RI melalui Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Santo Darmosumarto mengungkapkan, Indonesia akan bekerja sama dengan Tiongkok untuk mendorong implementasi transformasi digital yang menyentuh semua lapisan anggota forum ekonomi Asia-Pasifik tersebut. Pernyataan ini disampaikan seusai menghadiri pertemuan “Senior Officials’ Meeting” (SOM) yang diadakan pada 18-19 Mei 2026 di kota yang menjadi ibu kota provinsi Shanghai, Tiongkok.

Kerja Sama Digital yang Inklusif

Santo Darmosumarto menekankan bahwa Indonesia berkomitmen untuk menjaga konsistensi dalam mengakui kerja sama yang dipromosikan oleh Tiongkok. “Kita akan berusaha memperkuat dukungan terhadap pilar-pilar kerja sama yang diusung oleh Tiongkok, terutama dalam bidang transformasi digital,” tuturnya. Ia menambahkan, negara kepulauan ini menyoroti isu-isu prioritas yang menitikberatkan pada keberlanjutan dan inklusivitas dalam penerapan teknologi digital. Menurut Santo, pentingnya transformasi digital tidak hanya terletak pada pengembangan infrastruktur, tetapi juga pada kemampuannya memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisnis yang dijalankan oleh perempuan, serta pengusaha muda.

“Indonesia ingin menunjukkan bahwa transformasi digital dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Kami fokus pada bagaimana penerapan teknologi ini bisa memperkuat daya saing UMKM dan membuka peluang baru bagi pengusaha perempuan serta generasi muda,” kata Santo.

Ketahanan Rantai Pasok sebagai Prioritas

Selain digital transformation, Santo juga menyampaikan bahwa Indonesia memprioritaskan isu ketahanan rantai pasok. Hal ini mencakup dua aspek utama: supply chain resilience dan supply chain security. “Kita perlu memastikan bahwa sistem rantai pasok tidak hanya stabil tetapi juga aman, terutama dalam konteks situasi geopolitik yang terus berubah, seperti krisis di Timur Tengah yang memberikan dampak langsung terhadap ekonomi Indonesia,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa dengan situasi global yang dinamis, pengelolaan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

“Indonesia berpendapat bahwa ketahanan rantai pasok adalah jaminan utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kami juga ingin menyoroti bagaimana APEC dapat memperkuat koordinasi antaranggota untuk menghadapi tantangan-tantangan yang muncul dari perubahan iklim politik dan ekonomi,” papar Santo.

Kontribusi UMKM dan Inklusivitas Ekonomi

Santo Darmosumarto menyoroti peran kritis UMKM dalam perekonomian Indonesia. “UMKM tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga menjadi penggerak utama dalam pemerataan kesempatan kerja,” katanya. Ia menyatakan bahwa sektor ini menyumbang sekitar 60 persen dari total PDB dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja di negara ini. “Oleh karena itu, kita perlu memastikan bahwa transformasi digital tidak hanya mempercepat pertumbuhan industri besar, tetapi juga memberikan akses yang merata kepada UMKM dan kelompok masyarakat yang lebih rentan,” tambahnya.

Manfaat Langsung dari Partisipasi APEC

Dalam konteks APEC 2026, Santo menekankan bahwa Indonesia ingin menegaskan bagaimana norma-norma yang dibangun bersama dapat diimplementasikan dalam proyek-proyek konkret. “Kita berharap bahwa kerja sama antaranggota APEC bisa memberikan dampak langsung ke masyarakat Indonesia, terutama melalui program-program yang dirancang secara kolaboratif,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa partisipasi aktif Indonesia dalam kegiatan APEC akan menjadi bukti nyata dari komitmen negara untuk mengembangkan ekonomi regional secara inklusif.

“Selain itu, kita juga ingin menyoroti bagaimana APEC dapat menjadi platform untuk mendorong kebijakan yang mendukung transparansi perdagangan dan keterbukaan sistem ekonomi. Tiongkok, sebagai ketua bergilir, memiliki peran penting dalam memastikan agenda ini tercapai,” jelas Santo.

APEC dan Upaya Membangun Kemitraan Ekonomi

SOM APEC 2026 di Shanghai merupakan kegiatan kedua di Tiongkok sejak pemerintah kota tersebut menjadi tuan rumah forum ekonomi tersebut. Pertemuan pertama pada 1-10 Februari 2026 di Guangzhou, provinsi Guangdong, dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi yang memberikan sambutan resmi. Dalam pembukaan SOM di Shanghai, Wakil Menteri Luar Negeri Eksekutif Tiongkok Ma Zhaoxu menyatakan bahwa negara ini menargetkan pencapaian hasil nyata dalam empat agenda utama: perdagangan, konektivitas, inovasi, serta pembangunan bersama.

“Tiongkok berkomitmen untuk membangun kerangka kerja sama yang berkelanjutan dan dapat diandalkan. Kami percaya bahwa tindakan kolektif APEC bisa menjadi penggerak utama dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berdaya saing,” ujar Ma Zhaoxu.

Background APEC dan Pemikiran Indonesia

APEC, atau Asia-Pacific Economic Cooperation, merupakan forum kerja sama ekonomi yang melibatkan 21 entitas, termasuk negara-negara anggota dan wilayah ekonomi lainnya. Forum ini didirikan pada 1989 dengan tujuan memperkuat kerja sama antaranggota untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas di kawasan Samudera Pasifik. Anggota APEC mencakup Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, Tiongkok, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Santo Darmosumarto menekankan bahwa Indonesia menempatkan APEC sebagai alat penting untuk mendorong kebijakan ekonomi yang menguntungkan seluruh pihak. “Kita ingin menunjukkan bahwa norma-norma yang dibangun dalam forum ini bisa menjadi pedoman untuk pengembangan ekonomi nasional, sekaligus memberikan manfaat langsung kepada sektor swasta,” katanya. Ia menjelaskan bahwa penekanan pada perdagangan bebas, arus barang yang tidak terhambat, serta investasi menjadi bagian integral dari pandangan Indonesia dalam menjalankan agenda APEC.

Perspektif Indonesia dalam Kemitraan Global

Santo juga mengungkapkan bahwa partisipasi Indonesia dalam APEC tidak hanya sekadar menjaga hubungan bilateral, tetapi juga sebagai bentuk keikutsertaan dalam transformasi ekonomi global. “Kita berharap