Facing Challenges: Potensi penyebab mobil listrik bisa mati saat lintasi rel KA

Potensi Penyebab Mobil Listrik Bisa Mati Saat Lintasi Rel KA

Facing Challenges – Jakarta, 29 April 2023 – Mengapa mobil listrik (electric vehicle/EV) terkadang mengalami gangguan saat melintasi rel kereta api? Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, menjelaskan bahwa masalah ini disebabkan oleh faktor-faktor teknis tertentu, seperti kegagalan pada sistem kelistrikan dan proteksi. “Berbeda dengan mobil bahan bakar minyak (ICE) yang mati karena kelalaian pasokan bahan bakar atau masalah pengapian, mobil listrik umumnya kehilangan tenaga karena kegagalan pada manajemen energi atau sirkit proteksi,” ujar Agus dalam wawancara di Jakarta, Kamis (5/4).

Sistem Baterai 12 Volt Jadi Titik Kritis

Akhirnya, Agus mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan mobil listrik saat melintasi rel kereta api adalah kegagalan baterai 12 volt (auxiliary battery) yang juga dikenal sebagai aki. Meski mobil listrik memiliki baterai utama dengan tegangan tinggi (HV) untuk menggerakkan motor, komponen-komponen kritis seperti sistem komputer, sensor, dan perangkat kelistrikan dasar bergantung pada baterai kecil ini. “Baterai 12V merupakan pendukung utama bagi sistem pengoperasian mobil listrik, meskipun baterai traksi HV adalah sumber daya utama,” tambah Agus.

Menurut Agus, jika baterai 12V mengalami penurunan tegangan atau kehilangan daya, main relay tidak dapat menutup, sehingga aliran listrik dari baterai tinggi tidak bisa sampai ke komponen motor. “Pada kasus seperti ini, mobil bisa mati total meskipun baterai utama masih memiliki 80 persen daya,” jelasnya. Main relay, sebagai komponen saklar listrik, memainkan peran penting dalam menghubungkan baterai tinggi ke sistem kendaraan. Ketika komponen ini gagal, keseluruhan operasi mobil listrik terganggu, bahkan saat kondisi baterai utama tidak perlu dikhawatirkan.

Sistem Manajemen Baterai dan Dampak Panas Berlebih

Di samping baterai 12V, sistem manajemen baterai (Battery Management System/BMS) juga menjadi faktor kritis. Agus menambahkan bahwa BMS bertugas memantau kondisi inverter dan baterai utama. “Jika terjadi kepanasan berlebih pada inverter atau baterai, sistem akan memutus aliran daya secara otomatis untuk mencegah kerusakan lebih parah,” ujar Agus.

Dalam situasi tertentu, seperti kegagalan pompa pendingin atau pengaruh cuaca ekstrem, BMS akan merespons dengan mematikan sistem dalam hitungan milidetik. “Overheating pada komponen kritis ini bisa memicu shutdown mendadak, sehingga mobil listrik mengalami kehilangan tenaga meskipun baterai utamanya masih dalam kondisi baik,” terangnya. Ini berbeda dengan mobil konvensional, yang biasanya tidak terlalu rentan terhadap perubahan suhu komponen internal.

Kemungkinan Gangguan Elektromagnetik

Agus juga menyebutkan bahwa medan elektromagnetik (EMI) di sekitar rel kereta api bisa memengaruhi kinerja mobil listrik. “Area perlintasan kereta api memiliki medan elektromagnetik yang kuat akibat kabel transmisi atas pada kereta rel listrik (KRL) dan rel jalur balik,” jelas Agus. Pada mobil dengan sistem pelindung shielding yang kurang optimal, EMI ekstrem bisa mengganggu komunikasi data internal, seperti Controller Area Network (CAN), sehingga komputer salah membaca input dan mematikan operasi sebagai bentuk perlindungan.

Kemungkinan gangguan ini, meskipun rendah, tetap perlu diperhatikan. “EMI bukanlah faktor utama, tapi dalam kondisi tertentu, seperti kegagalan koneksi soket kabel tegangan tinggi atau guncangan rel yang tidak rata, gangguan ini bisa memicu respons emergency shut-off dari sistem proteksi mobil,” terang Agus. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa mobil listrik harus dirancang dengan proteksi tambahan terhadap medan elektromagnetik.

Ketahanan Mobil Listrik Terhadap EMI

Pakar otomotif lain dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, memberikan perspektif serupa. “Secara teknis, mobil listrik memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik, sehingga kemungkinan mati mendadak saat melintasi rel KA relatif kecil,” kata Yannes saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu (29/4). Ia menjelaskan bahwa teknologi modern mobil listrik sudah dirancang untuk melalui serangkaian uji kompatibilitas elektromagnetik, memastikan kinerjanya stabil di lingkungan yang penuh medan listrik.

Sistem pengamanan seperti High Voltage Interlock Loop (HVIL) juga menjadi pendukung penting. “HVIL mampu mendeteksi kebocoran arus ke sasis atau kabel tegangan tinggi yang longgar, lalu langsung mematikan sumber daya listrik,” ujar Yannes. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada risiko, mobil listrik sudah dilengkapi mekanisme yang meminimalkan dampak negatif dari lingkungan rel KA.

Agus menegaskan bahwa kegagalan pada sistem kelistrikan EV saat lintasi rel KA bukanlah fenomena yang wajar, tapi lebih merupakan kasus ekstrem. “Dengan perancangan yang matang, mobil listrik seharusnya bisa mengatasi gangguan tersebut tanpa mengalami kehilangan tenaga yang signifikan,” imbuhnya. Kombinasi antara sistem proteksi internal, kelistrikan yang terkendali, dan penggunaan material shielding modern membuat EV lebih aman dibandingkan mobil konvensional.

Dengan demikian, meskipun terdapat potensi gangguan, mobil listrik tidak sepenuhnya rentan. Para ahli menggarisbawahi bahwa kegagalan pada rel KA sebagian besar tidak akan mengganggu operasi mobil listrik, kecuali dalam kondisi yang sangat spesifik. “Mobil listrik modern dirancang untuk bertahan di lingkungan yang rentan gangguan, termasuk medan elektromagnetik yang sering ditemukan di jalur KA,” tukas Yannes. Ini memberikan kepastian bahwa masalah kegagalan tiba-tiba saat lintasi rel KA bukanlah hal yang sering terjadi.