{"id":13573,"date":"2026-10-16T11:45:44","date_gmt":"2026-10-16T11:45:44","guid":{"rendered":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/?p=13573"},"modified":"2026-10-16T11:45:55","modified_gmt":"2026-10-16T11:45:55","slug":"gubernur-jabar-siapkan-program-desa-bahasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/?p=13573","title":{"rendered":"Gubernur Jabar siapkan program desa bahasa asing, permudah cari kerja"},"content":{"rendered":"<h2>Program Desa Bahasa Asing Disiapkan untuk Membuka Peluang Kerja Warga Jabar<\/h2>\n<p>Menggalangkebaikan.com &ndash; Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan program desa bahasa asing di seluruh kabupaten dan kota sebagai upaya memperkuat kesiapan warga memasuki dunia kerja. Program tersebut diarahkan untuk memberi keterampilan komunikasi yang relevan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri dan berhadapan dengan aktivitas investasi asing.<\/p>\n<p>Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa setiap kabupaten dan kota direncanakan memiliki empat desa pembelajaran bahasa. Masing-masing desa akan berfokus pada Bahasa Arab, Inggris, Mandarin, atau Jepang. Seluruh warga di desa yang ditetapkan akan mendapat kesempatan mengikuti kursus sesuai bahasa yang menjadi fokus lokasi tersebut.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cSetiap kabupaten dan kota akan memiliki empat desa yang seluruh warganya mengikuti kursus Bahasa Arab, Inggris, Mandarin, dan Jepang,\u201d kata Gubernur Dedi Mulyadi dalam keterangannya di Indramayu, Jumat.<\/p><\/blockquote>\n<p>Skema ini dirancang dengan pembagian peran antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten maupun kota. Pemprov Jabar akan menyiapkan tenaga pengajar, sedangkan pemerintah daerah menentukan desa yang paling sesuai untuk dijadikan tempat pelaksanaan pembelajaran. Penentuan lokasi dipandang penting agar pelatihan bahasa dapat menjawab kebutuhan lingkungan kerja di sekitarnya.<\/p>\n<h3>Desa Muntur Diproyeksikan Menjadi Desa Bahasa Mandarin<\/h3>\n<p>Di Kabupaten Indramayu, Desa Muntur di Kecamatan Losarang dipilih sebagai lokasi pembelajaran Bahasa Mandarin. Desa itu berada tidak jauh dari Kawasan Industri Losarang, yang memiliki investor dari China. Kedekatan dengan kawasan industri membuat penguasaan Bahasa Mandarin dinilai berpotensi membantu warga ketika mencari maupun menjalani pekerjaan di area tersebut.<\/p>\n<p>Keterampilan bahasa tidak hanya dapat dipakai dalam percakapan sehari-hari di tempat kerja. Dalam konteks kegiatan produksi, kemampuan memahami Bahasa Mandarin juga dapat membantu pekerja lokal mengikuti arahan atau penjelasan dari tenaga ahli asing. Hal ini menjadi relevan ketika proses pelatihan dan penerapan standar produksi melibatkan tenaga kerja dari negara lain.<\/p>\n<p>PT Food Packaging Jaya yang berada di Kawasan Industri Losarang tercatat mempekerjakan 158 tenaga kerja asing asal China. Mereka menjalankan tugas pelatihan bagi pekerja lokal agar produk dapat dihasilkan sesuai standar dan kebutuhan pembeli. Kondisi tersebut memperlihatkan alasan pemilihan Desa Muntur sebagai desa dengan fokus pembelajaran Bahasa Mandarin.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDesa Muntur ini cocok dijadikan desa Bahasa Mandarin, karena lokasinya di Kawasan Industri Losarang, dan terdapat investor asing asal China, sehingga skill tersebut akan bermanfaat untuk bekerja di sini,\u201d ujar Dedi Mulyadi.<\/p><\/blockquote>\n<p>Rencana program tidak berhenti pada penyediaan kelas di tingkat desa. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga akan melibatkan lembaga pendidikan yang telah memiliki pengalaman mengajarkan bahasa asing. Keterlibatan lembaga tersebut diharapkan mendukung ketersediaan pengajar bagi desa-desa yang nantinya ditetapkan di berbagai wilayah.<\/p>\n<h3>Kursus Bahasa dan Akses Kerja Lokal<\/h3>\n<p>Desa bahasa asing menjadi bagian dari upaya mempertemukan kemampuan warga dengan kebutuhan lapangan kerja. Bagi masyarakat di sekitar kawasan industri, penguasaan bahasa tambahan dapat menjadi nilai pendukung di samping pendidikan, keterampilan teknis, dan kompetensi yang disyaratkan perusahaan. Pelatihan ini tidak menggantikan persyaratan utama rekrutmen, tetapi dapat memperluas kesiapan warga untuk menghadapi lingkungan kerja yang lebih beragam.<\/p>\n<p>Di Indramayu, pemerintah daerah juga telah menggelar bursa kerja daring yang menyediakan 644 lowongan dari 23 perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Bursa kerja itu menggunakan sistem penilaian dalam proses rekrutmen. Salah satu unsur yang diperhitungkan ialah domisili pelamar, termasuk kesesuaian lokasi tempat tinggal dengan lokasi perusahaan serta data Nomor Induk Kependudukan atau NIK.<\/p>\n<p>Melalui mekanisme tersebut, pelamar yang tinggal di sekitar titik perusahaan memperoleh tambahan nilai. Namun, kedekatan domisili bukan satu-satunya unsur penentu. Pelamar tetap harus memenuhi ketentuan pendidikan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk posisi yang dibuka. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memberi ruang lebih besar bagi warga lokal tanpa mengabaikan standar kebutuhan perusahaan.<\/p>\n<p>Bupati Indramayu Lucky Hakim menjelaskan bahwa cara kerja sistem itu memiliki kemiripan dengan zonasi penerimaan murid baru, yaitu mempertimbangkan jarak domisili sambil tetap mempertahankan persyaratan dasar. Dengan pola penilaian tersebut, pelamar dari lingkungan sekitar perusahaan memiliki keunggulan tambahan apabila memenuhi kualifikasi jabatan.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cSistem pendaftarannya terbuka, tetapi ada scoring , sehingga jika pelamar merupakan warga lokal di titik perusahaan berdiri maka akan mendapatkan poin plus,\u201d kata Lucky Hakim.<\/p><\/blockquote>\n<h3>Menyesuaikan Pelatihan dengan Kebutuhan Wilayah<\/h3>\n<p>Pemilihan bahasa yang berbeda untuk setiap desa membuka ruang penyesuaian dengan karakter wilayah masing-masing. Bahasa Arab, Inggris, Mandarin, dan Jepang memiliki fungsi yang dapat berbeda sesuai kebutuhan masyarakat dan lingkungan ekonominya. Untuk Desa Muntur, fokus Bahasa Mandarin dikaitkan langsung dengan keberadaan investasi asal China di kawasan industri terdekat.<\/p>\n<p>Program ini juga menempatkan desa sebagai ruang belajar yang dekat dengan kehidupan warga. Ketika pembelajaran diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal, akses kursus dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat yang ingin meningkatkan kemampuan tanpa harus bergantung pada pusat pelatihan yang jauh dari desa mereka.<\/p>\n<p>Keberhasilan pelaksanaan nantinya akan berkaitan dengan kesiapan pengajar, penetapan desa yang tepat, partisipasi warga, serta keterhubungan materi kursus dengan kebutuhan kerja di daerah. Dengan dukungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, serta lembaga pendidikan yang berpengalaman, program desa bahasa asing diharapkan dapat memberi bekal tambahan bagi warga Jawa Barat dalam mencari peluang kerja, khususnya di wilayah industri.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/menggalangkebaikan.com\">Latest articles and updates: Gubernur Jabar siapkan program desa bahasa<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Gubernur Jabar siapkan program desa bahasa?<\/summary>\n<p>Gubernur Jabar siapkan program desa bahasa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Gubernur Jabar siapkan program desa bahasa matter?<\/summary>\n<p>Gubernur Jabar siapkan program desa bahasa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan program desa bahasa asing di seluruh kabupaten dan kota sebagai upaya memperkuat kesiapan warga memasuki dunia<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":13572,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-13573","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13573","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13573"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13573\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13574,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13573\/revisions\/13574"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13572"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}