{"id":12704,"date":"2026-09-13T18:50:18","date_gmt":"2026-09-13T18:50:18","guid":{"rendered":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/?p=12704"},"modified":"2026-09-13T18:50:44","modified_gmt":"2026-09-13T18:50:44","slug":"seskab-teddy","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/?p=12704","title":{"rendered":"Seskab Teddy: Prabowo bawa tiga pesan utama di KTT BRICS"},"content":{"rendered":"<h2>Prabowo Tekankan Kemandirian Indonesia dan Soliditas Global South di Forum BRICS<\/h2>\n<p>Menggalangkebaikan.com &ndash; Presiden RI Prabowo Subianto membawa agenda tentang ketahanan nasional, persatuan negara-negara Global South, serta kerja sama yang lebih nyata di antara anggota BRICS dalam KTT BRICS 2026. Tiga pokok pandangan itu disampaikan pada sesi terbatas bertema <em>\u201cInclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism\u201d<\/em> yang berlangsung Sabtu (12\/9).<\/p>\n<p>Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa penekanan Presiden berangkat dari kebutuhan Indonesia untuk memperkuat kemampuan sendiri dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Pangan, energi, dan pendidikan ditempatkan sebagai dasar penting agar sebuah negara memiliki ruang yang lebih besar dalam menentukan arah pembangunannya.<\/p>\n<h3>Kebutuhan Dasar sebagai Fondasi Ketahanan Negara<\/h3>\n<p>Pesan pertama yang dibawa Presiden berfokus pada kemandirian dan daya tahan nasional. Dalam pandangan ini, kemampuan menyediakan kebutuhan dasar bukan sekadar urusan pelayanan dalam negeri, melainkan bagian dari posisi strategis suatu negara di tengah dinamika global.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,\u201d kata Teddy.<\/p><\/blockquote>\n<p>Penekanan terhadap tiga sektor tersebut menggambarkan hubungan langsung antara kesejahteraan rakyat dan kebijakan luar negeri yang mandiri. Ketahanan pangan membantu menjaga ketersediaan kebutuhan pokok, sementara ketahanan energi berhubungan dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Pendidikan, pada saat yang sama, menjadi unsur penting untuk membangun kapasitas manusia dan kemampuan bangsa menghadapi perubahan.<\/p>\n<p>Bagi Indonesia, penguatan fondasi domestik memberi arti lebih luas daripada sekadar pencapaian ekonomi. Negara yang mampu menjaga kebutuhan mendasar warganya akan memiliki pilihan kebijakan yang lebih kuat, termasuk ketika menghadapi tekanan, persaingan, atau ketidakpastian di tingkat internasional.<\/p>\n<h3>Semangat Persatuan bagi Global South<\/h3>\n<p>Dalam pesan kedua, Presiden Prabowo menggarisbawahi perlunya negara-negara Global South memperkuat kebersamaan. Dunia saat ini menghadapi beragam tantangan, mulai dari persoalan ekonomi hingga perubahan peta geopolitik, sehingga kerja bersama dinilai menjadi semakin penting bagi negara berkembang.<\/p>\n<p>Teddy menjelaskan bahwa Kepala Negara mengaitkan seruan tersebut dengan nilai persatuan yang telah lama dikenal di Indonesia, sekaligus dengan semangat Konferensi Asia-Afrika. Konferensi tersebut menjadi salah satu tonggak penting bagi solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam memperjuangkan kedudukan yang setara di panggung dunia.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cMengutip pepatah \u2018Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh\u2019, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,\u201d ungkap Teddy.<\/p><\/blockquote>\n<p>Relevansi semangat Konferensi Asia-Afrika kembali terlihat ketika negara-negara berkembang semakin memiliki peran dalam perekonomian dan geopolitik global. Persatuan tidak hanya dipahami sebagai simbol diplomasi, tetapi juga sebagai cara untuk memperbesar daya tawar dan memperjuangkan kepentingan bersama di dalam sistem internasional.<\/p>\n<p>Pesan ini menempatkan Global South sebagai kelompok negara yang memiliki kepentingan beragam, namun dapat menemukan titik temu dalam isu pembangunan, akses terhadap sumber daya, peluang investasi, teknologi, serta tata kelola dunia yang lebih seimbang. Kolaborasi yang kuat dapat membuka ruang lebih luas bagi negara-negara berkembang untuk menyuarakan kepentingan mereka sendiri.<\/p>\n<h3>Potensi BRICS Harus Berbuah Kerja Sama Nyata<\/h3>\n<p>Pesan ketiga Presiden menyoroti bobot BRICS dalam tatanan global. Kelompok ini disebut mewakili sekitar separuh populasi dunia, sebuah besaran yang dinilai harus digunakan untuk memperluas manfaat pembangunan bagi anggota dan negara berkembang secara lebih luas.<\/p>\n<p>Potensi demografis dan ekonomi BRICS, dalam pandangan Presiden, perlu diwujudkan dalam program dan hubungan kerja yang konkret. Fokus kerja sama dapat mencakup peningkatan ketahanan pangan dan energi, penguatan konektivitas pasar, serta pertukaran modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cBRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,\u201d tutur Teddy.<\/p><\/blockquote>\n<p>Penegasan tersebut memberi penekanan bahwa besarnya jumlah penduduk dan kapasitas anggota BRICS perlu menghasilkan dampak yang dapat dirasakan. Kerja sama tidak cukup berhenti pada pernyataan bersama, melainkan perlu diarahkan pada peluang pembangunan, perluasan akses, dan penguatan kemampuan negara berkembang dalam menjawab kebutuhan warganya.<\/p>\n<h3>Tata Kelola Dunia yang Lebih Inklusif<\/h3>\n<p>Selain tiga agenda utama itu, Presiden Prabowo juga mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil dan terbuka. Perserikatan Bangsa-Bangsa tetap dipandang sebagai pusat mekanisme multilateral dunia, namun lembaga tersebut perlu diperkuat agar dapat bekerja lebih representatif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat internasional.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cPBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia,\u201d lanjut Teddy.<\/p><\/blockquote>\n<p>Gagasan tersebut memperlihatkan dukungan Indonesia terhadap multilateralisme, sambil menekankan perlunya pembaruan agar sistem global mampu menjawab perubahan zaman. Keterwakilan yang lebih baik dan hasil yang lebih nyata menjadi dua unsur penting dalam upaya membangun kepercayaan terhadap lembaga internasional.<\/p>\n<p>Melalui keanggotaan di BRICS, Indonesia terus mengambil peran dalam mendorong tatanan dunia yang setara, damai, dan berkeadilan. Pesan yang dibawa Presiden di KTT BRICS 2026 mempertemukan kepentingan penguatan dalam negeri dengan kerja sama internasional: Indonesia ingin membangun fondasi nasional yang kokoh, sekaligus ikut memperluas ruang kolaborasi bagi negara-negara berkembang.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/menggalangkebaikan.com\">Latest articles and updates: Seskab Teddy<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Seskab Teddy?<\/summary>\n<p>Seskab Teddy is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Seskab Teddy matter?<\/summary>\n<p>Seskab Teddy matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Presiden RI Prabowo Subianto membawa agenda tentang ketahanan nasional, persatuan negara-negara Global South, serta kerja sama yang lebih nyata di antara<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":12703,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[192],"tags":[],"class_list":["post-12704","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12704","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12704"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12704\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12705,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12704\/revisions\/12705"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12704"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12704"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/menggalangkebaikan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12704"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}