Rencana Khusus: Dokter anak sarankan orang tua batasi screen time anak
Dokter Anak Sarankan Orang Tua Batasi Durasi Menonton Anak
Makassar, Sulawesi Selatan — Dr. Nilla Mayasari, seorang konsultan pediatri-anak di RS Hermina, menekankan pentingnya batasan pada waktu layar anak. Menurutnya, hal ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan fisik. “Screen time tidak hanya melibatkan perangkat gadget, tapi juga televisi dan berbagai media lainnya,” jelasnya. Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan layar secara berlebihan bisa menimbulkan risiko 2,7 kali lipat gangguan komunikasi, tambahnya.
Kebijakan Pemerintah sebagai Langkah Perlindungan
Kebijakan pembatasan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, yang diatur dalam Peraturan Menteri Komdigi nomor 9 tahun 2026, mendapat dukungan dari Nilla. Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini selaras dengan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang telah meneliti dampak penggunaan media digital. “Batasan penggunaan media, baik gadget maupun televisi, sudah dianggap penting dalam mencegah masalah pertumbuhan anak,” ujarnya.
“Anak di bawah dua tahun hanya boleh menonton selama satu jam per hari, dibagi menjadi 30 menit di pagi dan sore. Sementara anak di atas tujuh tahun juga disarankan menghabiskan waktu layar maksimal satu jam,” katanya.
Nilla menyoroti bahwa anak di bawah satu tahun tidak disarankan menyentuh gadget karena riset multi-center mengungkapkan dampak negatifnya. Meski demikian, kebiasaan ini masih sering dilakukan orang tua, terutama saat anak sulit makan atau menangis terus-menerus. Ia mengingatkan bahwa keputusan pemerintah memberikan solusi untuk memastikan anak aktif secara fisik di luar ruang rumah.
Proses Belajar yang Lebih Efektif
Dalam kesempatan yang sama, Nilla menjelaskan bahwa interaksi langsung dengan lingkungan lebih baik daripada media. “Bermain di luar memfasilitasi sensori dan komunikasi antarmanusia, bukan hanya keterlibatan dengan konten digital,” imbuhnya. Ia juga menekankan bahwa keluarga harus memastikan anak mencapai tahapan perkembangan sesuai usianya. “Buku pink atau buku capaian usia anak bisa menjadi acuan untuk memantau progresnya,” lanjutnya.
“Fase emas anak adalah waktu untuk belajar, dan ini harus didukung oleh aktivitas fisik serta interaksi sosial yang sehat,” papar Nilla.
Menurut Nilla, keterlibatan orang tua dalam pengawasan tetap menjadi faktor utama. Ia menyarankan penggunaan waktu bersama keluarga sebagai alternatif untuk memperkaya pengalaman belajar anak. “Dengan family time, anak tidak hanya belajar di sekolah, tapi juga di lingkungan keluarga,” tuturnya. Hal ini sejalan dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan beberapa organisasi profesi lainnya.

