Latest Program: BPOM: PMR kuatkan daya saing pangan olahan nasional

1782887986827

BPOM: PMR kuatkan daya saing pangan olahan nasional

Latest Program – Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan bahwa Program Manajemen Risiko (PMR) Keamanan Pangan berperan penting dalam meningkatkan daya saing industri pangan olahan nasional. Menurut Kepala BPOM, Taruna Ikrar, keamanan pangan tidak hanya tentang kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga menjadi investasi untuk melindungi konsumen dan mendukung pertumbuhan ekonomi bangsa. “PMR merupakan alat strategis dalam menciptakan budaya keamanan pangan yang konsisten di sektor pangan,” jelas Taruna dalam wawancara di Jakarta, Rabu.

Perkembangan PMR selama 10 Tahun

Program ini telah berkembang pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Awalnya, PMR hanya diterapkan pada industri pangan untuk keperluan gizi khusus bayi dan anak, namun kini cakupannya meluas ke berbagai kategori, termasuk pangan steril komersial yang diproses melalui teknik sterilisasi panas. Hal ini memungkinkan pengusaha untuk mengendalikan titik kritis produksi secara lebih efektif. “Dengan PMR, kita bisa memastikan kualitas dan keamanan produk sejak tahap awal hingga akhir proses,” lanjut Taruna.

Dalam konteks ini, pangan steril komersial menjadi fokus utama pengembangan. Produk seperti rendak kemasan, gudeg siap santap, dan sup ayam steril kini menawarkan peluang pasar yang semakin luas. Taruna menyoroti bahwa PMR membantu memperpanjang masa simpan produk, memudahkan distribusi, dan mempertahankan standar kualitas tanpa perlu menggunakan bahan pengawet. “Ini memungkinkan ekspor serta pemanfaatan produk di berbagai situasi, seperti darurat bencana atau kebutuhan jemaah haji,” tambahnya.

Manfaat Teknologi Modern untuk Pangan Lokal

Perkembangan teknologi sterilisasi termal dan kemasan kedap udara membuka jalan baru bagi produk pangan tradisional dan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Kini, makanan yang sebelumnya hanya bisa dijual lokal bisa bertahan lebih lama, menjangkau pasar modern, dan bahkan ekspor ke luar negeri. “Teknologi ini tidak mengurangi rasa autentik produk, sebaliknya justru memperkuat nilai tambahnya,” ujar Taruna.

BPOM juga mengembangkan skema fasilitasi untuk mendukung UMKM dalam menerapkan PMR. Mulai dari Izin Penerapan Program Manajemen Risiko hingga pedoman teknis yang bisa diikuti bertahap. “Dengan cara ini, pelaku usaha bisa beradaptasi tanpa mengorbankan kualitas produk,” kata Taruna. Ia menekankan bahwa kesiapan industri dalam menjaga standar mutu tetap menjadi kunci keberhasilan.

“PMR adalah upaya mendorong kemandirian industri pangan olahan, memastikan produk yang dihasilkan aman dan terpercaya,” ujar Taruna Ikrar.

Dalam wawancara terpisah, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan, Ishartini, menyampaikan bahwa pendekatan berbasis risiko yang diterapkan BPOM sangat relevan untuk sektor perikanan. “PMR memberikan dampak signifikan pada pengelolaan ikan segar dan olahan, karena memungkinkan kita mengendalikan risiko sejak awal,” katanya. Ishartini mengungkapkan komitmen untuk menerapkan pendekatan ini pada seluruh produk perikanan.

Di sisi lain, Ketua Pengurus Harian Forum Proses Termal Pangan Indonesia (FPTPI), Feri Kusnandar, menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) adalah fondasi utama keberlanjutan industri. “Kita sedang mengumpulkan banyak pemangku kepentingan untuk meningkatkan kompetensi di bidang PMR, terutama dalam produksi pangan steril komersial,” jelas Feri. Ia menambahkan bahwa SDM yang terlatih akan membentuk ekosistem yang mendukung inovasi.

“Dengan PMR, masyarakat semakin percaya pada produk pangan olahan nasional, dan industri bisa bersaing secara lebih kuat di pasar internasional,” ujar Feri Kusnandar.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, mengungkapkan bahwa keamanan pangan menjadi fondasi ketahanan nasional. “Perluasan PMR akan memperkuat kepercayaan masyarakat dan meningkatkan daya saing industri,” ujarnya. Adhi menyoroti peran PMR dalam menjaga standar kualitas selama produksi.

Pangan olahan nasional kini menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, mulai dari makanan siap santap hingga produk bergizi khusus. PMR tidak hanya memastikan keselamatan konsumen, tetapi juga mengurangi risiko kerusakan produk selama distribusi. “Dengan PMR, kita bisa menjamin bahwa makanan yang sampai ke tangan konsumen tetap memenuhi standar,” kata Taruna.

Perkembangan ini sejalan dengan target pemerintah dalam membangun ekonomi berkelanjutan. Pangan steril komersial, misalnya, bisa menjadi solusi untuk kebutuhan strategis seperti cadangan pangan keluarga atau makanan di lokasi bencana. “Industri harus terus beradaptasi dengan teknologi modern untuk tetap relevan,” tambah Feri. Kesiapan SDM dan peralatan produksi menjadi faktor utama.

“PMR memastikan bahwa produk pangan olahan nasional bisa dipasarkan secara luas tanpa mengorbankan rasa atau nutrisi,” ujar Adhi S. Lukman.

Kebutuhan pasar terus meningkat, dan PMR menjadi instrumen penting dalam menjawabnya. Selain itu, program ini membantu mengurangi ketergantungan pada bahan kimia pengawet, sehingga lebih ramah lingkungan. “Kita perlu terus mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan PMR sebagai alat penguatan ekonomi,” tegas Taruna.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, BPOM bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya manajemen risiko. Feri Kusnandar menegaskan bahwa kolaborasi dengan stakeholder di sektor pangan olahan akan memperkuat kapasitas industri. “Kami berkomitmen untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan pangan nasional,” katanya.

Adhi S. Lukman menambahkan bahwa PMR tidak hanya menjaga kualitas produk, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar internasional. “Konsumen dunia semakin memilih produk yang aman dan terjamin, dan PMR memberikan jaminan tersebut,” ujarnya. Dengan memperkuat manajemen risiko, industri pangan olahan Indonesia bisa bersaing di tingkat global.