Key Discussion: Peneliti sebut perubahan iklim tekan ekonomi kelompok rentan
Perubahan Iklim Memberi Tekanan Ekonomi pada Kelompok Rentan
Key Discussion – Makassar, Rabu — Dalam sebuah workshop dan diskusi panel di kota ini, para peneliti dari Program Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Kemitraan (KONEKSI) menyampaikan temuan bahwa perubahan iklim semakin mengancam ekonomi kelompok rentan, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia. Dr. Welmince Djulete, salah satu peneliti asal Kupang, menyoroti bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada lingkungan, tetapi juga merambah ke sektor-sektor ekonomi yang kritis bagi masyarakat. Fenomena ini, menurutnya, berpotensi menyebabkan depresi ekonomi di tingkat keluarga, terutama di wilayah pesisir dan pertanian.
KONEKSI: Kolaborasi Riset untuk Meningkatkan Ketahanan Iklim
Program KONEKSI merupakan inisiatif riset bersama antara pemerintah Indonesia dan Australia. Proyek ini melibatkan Monash University Australia, Monash University Indonesia, Universitas Hasanuddin, serta organisasi-organisasi komunitas dan mitra strategis di wilayah Indonesia Timur. Riset yang dilaksanakan di beberapa daerah seperti Makassar, Maros, Gowa, Kupang, dan Lombok memiliki tujuan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim melalui pengembangan alternatif mata pencarian. Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah Model Ketahanan Iklim Berkelanjutan melalui Pelibatan Komunitas (MoFCREC), yang dirancang untuk meningkatkan daya tahan masyarakat rentan.
“Fenomena perubahan iklim memicu penurunan hasil tangkapan nelayan dan panen petani, yang berdampak signifikan pada ekonomi keluarga,” kata Welmince. Ia menambahkan, tekanan ini mengubah struktur kebutuhan ekonomi masyarakat, dengan kuantitas dan kualitas produksi yang menurun secara signifikan.
Menurut Welmince, kelompok rentan sering kali menghadapi kesulitan dalam mengakses pembiayaan karena stigma yang terus-menerus menghambat partisipasi mereka. “Penyandang disabilitas, misalnya, sering kali kesulitan mengambil kredit karena dianggap tidak memenuhi kriteria kepercayaan perbankan,” ujarnya. Situasi ini memaksa mereka memilih lembaga keuangan informal yang memiliki bunga lebih tinggi dan risiko lebih besar. Peneliti berpendapat bahwa kebijakan inklusif yang lebih baik diperlukan untuk mengatasi masalah ini, termasuk penganggaran yang memperhatikan kebutuhan spesifik kelompok rentan.
Strategi Adaptasi untuk Mengurangi Dampak Perubahan Iklim
Sebagai bagian dari upaya adaptasi, para peneliti KONEKSI menghadirkan lembaga keuangan formal dan koperasi untuk membahas mekanisme pembiayaan yang lebih inklusif. Inisiatif ini bertujuan memperkuat akses kelompok rentan terhadap sumber dana yang aman, terjangkau, dan berbiaya rendah. Dengan adanya program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pendampingan yang tepat, para peneliti berharap masyarakat terdampak perubahan iklim bisa mengembangkan usaha alternatif guna memulihkan kestabilan ekonomi.
Dalam survei lapangan yang dilakukan di beberapa daerah, kelompok rentan ditemukan masih mengalami hambatan besar dalam mengakses sumber daya ekonomi. “Kami mengamati bahwa pendapatan keluarga yang berasal dari sektor pertanian atau perikanan berkurang drastis akibat kerusakan lingkungan dan kegagalan panen,” jelas Welmince. Kondisi ini memperparah kemiskinan dan ketidakseimbangan ekonomi, terutama bagi individu yang tidak memiliki kemampuan untuk memulai usaha baru atau memperluas pendapatan.
“Perubahan iklim berdampak langsung pada mata pencaharian masyarakat. Tekanan ekonomi akibat penurunan hasil produksi bisa berujung pada krisis keuangan, yang berpotensi memicu konflik dalam rumah tangga,” tambah Welmince. Ia menekankan bahwa program MoFCREC dirancang untuk mengatasi tantangan ini, dengan memprioritaskan kebutuhan kelompok rentan dalam pengambilan keputusan politik dan keuangan.
Persoalan Sosial Akibat Tekanan Ekonomi
Sementara itu, Rosmiati Sain dari LBH APIK Sulawesi Selatan mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi yang ditimbulkan oleh perubahan iklim juga memicu berbagai masalah sosial baru. “Kesulitan pendapatan dapat berdampak pada peningkatan utang, kekerasan ekonomi, hingga tindakan hukum,” katanya. Rosmiati menjelaskan bahwa ketidakmampuan mengembalikan utang tepat waktu sering kali menyebabkan laporan penipuan atau penggelapan, bahkan menciptakan kasus pencurian untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Krisis ekonomi akibat perubahan iklim bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal kesejahteraan sosial. Masalah domestik ini bisa meluas menjadi kasus pidana jika tidak ditangani secara dini,” ujar Rosmiati. Ia menekankan bahwa adanya peningkatan akses ke pembiayaan inklusif adalah kunci untuk mencegah konflik yang lebih luas di tengah masyarakat.
Para peneliti juga menyoroti bahwa dampak perubahan iklim tidak bisa diatasi hanya dengan intervensi teknis, tetapi membutuhkan perubahan struktur kebijakan dan partisipasi masyarakat. Dalam studi mereka, kelompok rentan ditemukan masih bergantung pada sumber daya ekonomi yang rentan terhadap fluktuasi lingkungan, seperti hasil pertanian atau perikanan. Ketahanan ekonomi menjadi prioritas, karena tergantung pada ekosistem yang terus mengalami tekanan.
Peluncuran Buku Saku Strategi Adaptasi
Sebagai tindak lanjut dari riset tersebut, tim KONEKSI telah menyusun buku saku yang mencakup strategi adaptasi dan rencana aksi mandiri bagi kelompok rentan. Buku ini terdiri dari 54 halaman dan menjadi panduan untuk masyarakat serta pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim. Hasil penelitian ini juga telah diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan agenda nasional, sehingga bisa menjadi dasar kebijakan yang lebih holistik.
Welmince menyampaikan bahwa buku saku ini dirancang agar masyarakat memiliki alat untuk merespons dampak perubahan iklim secara mandiri. “Dengan memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi mata pencaharian, komunitas bisa mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko ekonomi,” ujarnya. Selain itu, buku ini juga mencakup contoh-contoh inovasi yang bisa diadopsi, seperti pengembangan usaha alternatif berbasis sumber daya lokal dan teknologi sederhana.
Riset ini menggarisbawahi pentingnya integrasi antara kebijakan lingkungan dengan kebijakan sosial dan ekonomi. “Ketahanan iklim tidak bisa terpisah dari ketahanan ekonomi, terutama bagi kelompok yang lebih rentan,” kata Welmince. Ia menegaskan bahwa penganggaran yang lebih inklusif akan menjadi solusi jangka panjang untuk memastikan masyarakat tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang meskipun menghadapi tantangan iklim.
Kemitraan dan Kebijakan yang Menyeluruh
Program KONEKSI berharap hasil penelitian mereka bisa menjadi referensi untuk pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih
