Agenda Utama: Wagub nilai Ketog Semprong Muslim Candikuning sejalan visi Bali

Wagub Apresiasi Acara Ketog Semprong Sebagai Bagian Dari Visi Bali

Denpasar – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, mengungkapkan bahwa festival Ketog Semprong yang diadakan oleh komunitas Muslim di Desa Candikuning, Tabanan, selaras dengan visi provinsi Bali. “Ketog Semprong Festival mencerminkan upaya membangun kesatuan dalam keberagaman, sesuai dengan prinsip Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” terang Giri Prasta dalam pernyataan resmi Pemprov Bali, Minggu. Menurutnya, acara ini telah mengakomodasi berbagai nilai seperti Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, hingga Jagat Kerthi.

Nilai Budaya Dalam Aktivitas Keagamaan

Ketog Semprong, yang berasal dari kata Bali yang berarti tumpah ruah, digelar di Kebun Raya Bedugul. Acara ini menjadi ajang silaturahmi umat Muslim, di mana mereka berkumpul untuk berbagi makanan, mempererat hubungan, dan melestarikan tradisi lokal. “Tradisi Ketog Semprong telah diwujudkan secara turun-temurun oleh masyarakat Candikuning,” tambahnya. Giri Prasta menegaskan bahwa menjaga keharmonisan nilai Bali adalah tanggung jawab bersama, termasuk kelompok Muslim yang dikenal dengan sebutan nyama selam.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Bali dibangun oleh orang-orang suci, oleh karena itu menjaga keutuhan Bali merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Wagub Giri saat hadir di acara tersebut.

Sementara itu, tokoh kampung Islam Candikuning, Ariel Dimitri Azkacetta, menambahkan bahwa Ketog Semprong adalah bentuk kearifan lokal yang bertujuan memperkuat kerukunan. “Kita bertemu, bersalaman, dan saling mendoakan, baik antar-keluarga maupun masyarakat dengan pemimpin,” kata dia. Acara ini, menurutnya, menciptakan ruang dialog yang menyatukan generasi muda dan tua, serta sektor swasta dan pemerintah.

Dalam kesempatan tersebut, Giri Prasta menyerahkan sumbangan Rp50 juta dari dana pribadinya. Ia mengingatkan bahwa Kebun Raya Bedugul, tempat penyelenggaraan festival, menggabungkan dua simbol budaya: bedug (alat musik Muslim) dan kulkul (kentongan Bali). “Asal-usul nama Bedugul menjadi bukti harmoni antar-agama yang terjalin sejak lama,” tuturnya.

Ketog Semprong juga menjadi media untuk menjaga keasrian kawasan wisata Bedugul. Wagub Giri berharap kegiatan ini diintegrasikan ke dalam kalender resmi Pemprov Bali, sehingga bisa dilaksanakan setiap tahun. “Panitia Candikuning cukup menyiapkan tim, sementara pendanaan akan ditangani oleh pemerintah daerah,” pungkasnya. Dengan demikian, nilai menyama braya antara nyama selam dan nyama Bali terus dipertahankan melalui penampilan kesenian tradisional.