Main Agenda: Gubernur Sumut ajak BNNP perkuat kolaborasi berantas narkoba

273e5421-13f5-4264-8aec-aa7a3bde2800-0

Gubernur Sumut Dorong Kerja Sama dengan BNNP untuk Mengatasi Masalah Narkoba

Main Agenda – Medan – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution mengajak Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut untuk meningkatkan kerja sama dalam pemberantasan narkoba. Pada pertemuan yang berlangsung di Kantor Gubernur Sumut, Selasa, Bobby menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga anti-narkoba untuk menyelesaikan masalah ini secara efektif. “Saya berharap ada upaya yang lebih intensif dalam menangani narkoba, dengan pendekatan terpusat dan kolaboratif,” ujarnya setelah menerima kunjungan Kepala BNNP Sumut, Brigjen Pol Tatar Nugroho.

Pertemuan dan Langkah Kolaborasi

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mendiskusikan strategi pemberantasan narkoba, dengan fokus pada wilayah yang rentan menjadi titik masuk dan pusat peredaran. Bobby menegaskan bahwa Pemprov Sumut siap memberikan dukungan finansial untuk memperkuat tindakan-tindakan yang diambil. “Kita perlu memastikan program pemberantasan narkoba dilakukan dengan serius dan berkelanjutan,” tambahnya.

Kepala BNNP Sumut, Brigjen Pol Tatar Nugroho, mengakui bahwa keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama. “Meski anggaran terbatas, kita tetap berupaya menekan narkoba di daerah rawan,” jelasnya. Bobby mengungkapkan kekhawatirannya terhadap generasi muda yang rentan terhadap narkoba. “Karena harganya semakin terjangkau, narkoba sudah mengancam usia muda, terutama di sekolah-sekolah,” katanya.

Sebagai upaya mengantisipasi ancaman tersebut, Pemprov Sumut menargetkan pengembangan kegiatan masyarakat dan program edukasi yang lebih luas. Bobby menyebutkan bahwa langkah ini bertujuan untuk memutus rantai penyalahgunaan di kalangan remaja. “Dengan memperbanyak aktivitas positif, kita bisa mengurangi daya tarik narkoba pada generasi muda,” tuturnya.

Data dan Tren Penyalahgunaan

Dari laporan Kepolisian Daerah Sumut, angka penyalahgunaan narkoba di provinsi ini terus meningkat. Pada 2025, total narkotika sabu-sabu yang masuk ke wilayah Sumut mencapai 1,6 ton, naik dari tahun sebelumnya yang sekitar 1,2 ton. “Ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba semakin menguat, terutama di daerah-daerah yang rawan,” ungkap Tatar.

Tatar juga menjelaskan bahwa Sumut masih menempati posisi pertama di Indonesia dalam jumlah pengguna narkoba. Dari 15 juta penduduk, sekitar 10 persen di antaranya terlibat dalam penggunaan narkoba. “Tren penyebaran ini sudah mencapai tingkat desa-desa, jadi perlu tindakan lebih luas,” katanya. Ia menambahkan bahwa faktor geografis Sumut menjadi salah satu penyebab utama, karena daerah ini merupakan jalur utama pengiriman narkoba ke dalam negeri.

BNNP Sumut juga menyoroti dominasi pengguna narkoba usia produktif, yaitu 15 hingga 45 tahun. Namun, Tatar menyatakan bahwa tren ini mulai berubah, dengan peningkatan jumlah pengguna yang termasuk anak-anak usia sekolah. “Kita harus memperketat pengawasan di lingkungan sekolah dan komunitas untuk mencegah penyebaran lebih lanjut,” tegasnya.

Upaya dan Tantangan

Di tengah tantangan anggaran, BNNP Sumut tetap berkomitmen untuk menekan peredaran narkoba. Tatar mengatakan bahwa upaya yang dilakukan, seperti penguatan penegakan hukum dan edukasi, mulai menunjukkan hasil. “Angka peredaran narkoba di beberapa wilayah Sumut telah menurun, terutama di area pedesaan,” jelasnya.

Bobby Nasution menyambut baik upaya BNNP dan berharap sinergi ini dapat berlanjut. “Dengan kerja sama yang kuat, kita bisa membuat Sumut menjadi provinsi bebas narkoba,” tuturnya. Ia menekankan pentingnya pendekatan terpadu, mulai dari pemerintah, lembaga, hingga masyarakat, untuk menekan penyebab utama penyalahgunaan narkoba.

BNNP Sumut juga berharap dukungan pemerintah daerah dalam memberikan akses ke program-program edukasi dan rehabilitasi. “Kita perlu mengintegrasikan pesan anti-narkoba ke berbagai kegiatan pemerintahan, agar masyarakat lebih menyadari bahayanya,” kata Tatar. Ia menambahkan bahwa komitmen bersama sangat diperlukan untuk mencapai target penanggulangan narkoba secara tuntas.

Perspektif Masa Depan

Kepala BNNP Sumut menyoroti bahwa masalah narkoba tidak hanya menjadi tantangan saat ini, tetapi juga ancaman bagi masa depan. “Jika tidak diatasi segera, generasi muda bisa menjadi korban utama,” ungkapnya. Bobby Nasution sependapat dengan pandangan tersebut dan berjanji akan terus berupaya meningkatkan kemampuan Pemprov Sumut dalam menangani narkoba. “Kita harus bergerak cepat dan konsisten agar Sumut benar-benar bebas dari narkoba,” pungkasnya.

Dalam rangka mendukung langkah-langkah ini, Pemprov Sumut juga berencana mengembangkan sistem pengawasan yang lebih canggih di daerah-daerah rentan. “Kita akan meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi, termasuk sekolah dan media massa, untuk menyebarkan kesadaran akan bahaya narkoba,” jelas Bobby. Ia berharap kebijakan yang diambil dapat mengurangi dampak negatif dari narkoba pada masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja.

Kepala BNNP Sumut menyampaikan apresiasi terhadap perhatian Gubernur. “Kunjungan Bapak Gubernur memberikan semangat baru untuk memperkuat kerja sama dalam menangani narkoba,” katanya. Tatar menegaskan bahwa BNNP akan terus berupaya menghadapi tantangan, meski harus mengakui bahwa sumber daya manusia dan anggaran tetap menjadi kendala utama. “Namun, dengan dukungan pemerintah daerah, kita bisa mengatasi masalah ini secara bertahap,” tutupnya.

Dalam jangka panjang, langkah kolaboratif antara Gubernur dan BNNP diharapkan bisa menjadi contoh bagi provinsi lain. “Sumut memiliki potensi untuk menjadi model pemberantasan narkoba yang efektif,” kata Bobby. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada lembaga anti-narkoba, tetapi juga pada peran aktif seluruh elemen masyarakat. “Kita harus bersatu untuk memastikan generasi muda Sumut tidak terjebak dalam kecanduan,” pungkasnya.