Tiga legenda penyanyi dan musisi jazz Indonesia tampil pada BuitenJazz Meet The Legends di Kota Bogor
Tiga Legenda Penyanyi dan Musisi Jazz Indonesia Hadirkan Koleksi Karya dalam Konser BuitenJazz Meet The Legends
Tiga legenda penyanyi dan musisi jazz – Kota Bogor, Jawa Barat, menjadi tujuan penting bagi penggemar musik jazz pada akhir pekan lalu, 20 Juni 2026. Di Grand Ballroom Puri Begawan, tiga tokoh besar dalam dunia musik jazz nasional—Ermy Kullit, Mus Mujiono, dan Deddy Dhukun—beraksi secara bersamaan dalam acara eksklusif yang dinamai BuitenJazz Meet The Legends. Konser ini tidak hanya mempersembahkan karya-karya terbaik dari ketiga legenda tersebut, tetapi juga menjadi momen langka di mana mereka tampil bersama di satu panggung sekaligus.
“An Intimate Jazz Rendezvous” adalah tema yang menerapkan nuansa hangat dan personal, memperlihatkan kekayaan tradisi jazz Indonesia yang telah berkembang seiring waktu,”
kata penata acara BuitenJazz dalam pernyataan resmi.
Berawal dari Kebudayaan Global, Jazz Menjadi Bagian dari Identitas Lokal
Jazz, yang berasal dari Amerika Serikat, telah menempati posisi unik dalam kehidupan musik Indonesia sejak akhir abad ke-19. Melalui perjalanan panjang, genre ini terus berkembang, mengakar dalam masyarakat lokal, dan menjadi salah satu representasi seni kreatif yang tidak tergantikan. BuitenJazz Meet The Legends, sebuah inisiatif yang diselenggarakan oleh organisasi seni kota Bogor, berupaya mengangkat kembali nilai-nilai keaslian jazz Indonesia sekaligus memberikan ruang bagi para legenda untuk menunjukkan ciptaan terbaik mereka. Dalam konser tersebut, para peserta bukan hanya menampilkan lagu-lagu pilihan, tetapi juga membagikan cerita di balik karya-karya yang telah menginspirasi generasi musisi selama beberapa dekade.
Ermy Kullit, salah satu pendiri majalah jazz “Jazz Indonesia” pada tahun 1980-an, dikenal sebagai penyanyi yang mampu menggabungkan aliran tradisional dan modern. Dengan suaranya yang berirama lembut dan tata musik yang khas, ia telah menciptakan genre “jazz folk” yang terkenal. Mus Mujiono, seorang pemain gitar jazz legendaris, berkontribusi besar dalam memperkenalkan instrumen ini ke Indonesia melalui penampilan di berbagai festival dan konser nasional. Deddy Dhukun, sementara itu, lebih dikenal sebagai musisi multi-instrumen yang memiliki keterampilan dalam berbagai alat musik seperti gitar, piano, dan perkusi. Kehadiran ketiga tokoh ini dalam satu panggung dianggap sebagai penghargaan terhadap dedikasi mereka terhadap perkembangan jazz di negeri ini.
Para Legenda Kembali Membawakan Lagu-Lagu yang Tetap Relevan
Konser yang berlangsung pada Sabtu (20/6/2026) tersebut memperlihatkan perpaduan antara teknik dan emosi, menggambarkan bagaimana jazz bisa menjadi medium ekspresi yang universal. Ermy Kullit, dalam lagu-lagunya, menunjukkan kemampuan untuk mengubah nuansa musik yang biasanya dinamis menjadi sesuatu yang harmonis dan bernuansa keragaman budaya. Mus Mujiono, dengan lantunan gitarnya yang khas, memberikan rasa nostalgia sekaligus mengundang kebahagiaan yang berirama. Deddy Dhukun, dengan berbagai penampilan musiknya, menciptakan suasana yang hidup dan interaktif, membuat penonton merasa terlibat langsung dalam karya-karya yang dibawakannya.
Dalam wawancara sebelum acara, Mus Mujiono mengatakan, “Jazz bukan sekadar musik, tapi juga cerminan dari jiwa masyarakat. Konser ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana genre ini bisa beradaptasi dengan lingkungan lokal sekaligus mempertahankan esensinya.” Deddy Dhukun, di sisi lain, menyatakan bahwa kolaborasi antar legenda merupakan upaya untuk mengangkat kembali semangat kreativitas yang mungkin terabaikan di tengah kehidupan musik pop yang dominan. Ermy Kullit menambahkan, “Dengan tampil bersama, kami ingin menunjukkan bahwa jazz Indonesia mampu bersaing secara global sekaligus menjaga akar budaya yang mendasari.” Semua pernyataan ini mencerminkan komitmen para musisi untuk memperkuat identitas seni nasional.
Grand Ballroom Puri Begawan Jadi Ajang Kebudayaan Musik
Venue yang dipilih, Grand Ballroom Puri Begawan, menjadi pilihan strategis karena kenyamanannya dan kemampuan untuk menampung berbagai genre musik. Lokasi ini juga memiliki sejarah sebagai tempat pertunjukan seni yang cukup populer sejak tahun 2000-an. Dalam acara tersebut, suasana hangat dan antusiasme penonton menciptakan pengalaman yang luar biasa, memperkuat citra Kota Bogor sebagai pusat seni dan budaya. Para penonton, yang terdiri dari kalangan muda dan tua, terkesan dengan alur cerita yang terbentuk melalui musik dan dialog para musisi selama pertunjukan.
Konser BuitenJazz Meet The Legends ini berlangsung selama empat jam, dengan berbagai penampilan yang terdiri dari lagu-lagu klasik hingga ciptaan terbaru. Pemilihan lagu-lagu yang sengaja dibuat secara alami menjadikan acara ini lebih dari sekadar pertunjukan musik. Selain itu, para musisi juga berbagi cerita seputar pengalaman mereka, termasuk tantangan dalam mengembangkan jazz di Indonesia. Deddy Dhukun menyinggung bagaimana aliran musik ini sempat dianggap aneh oleh sebagian masyarakat pada awal perkenalannya, tetapi kini telah menjadi bagian dari budaya populer.
Kehadiran tiga legenda ini juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk memahami lebih dalam bagaimana jazz dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan sosial dan emosional. Mus Mujiono, dalam satu lagu klasiknya, menyampaikan tentang kehangatan kehidupan komunitas, sementara Ermy Kullit lebih fokus pada perasaan nostalgia melalui ciptaan lagunya. Deddy Dhukun, di sisi lain, menggambarkan hubungan antara musik dan kehidupan sehari-hari. Para penonton tampak antusias, dengan banyak yang menangis saat mendengar lagu-lagu yang dianggap sebagai bagian dari kenangan masa kecil mereka.
Konser Menjadi Sarana untuk Merayakan Kekayaan Budaya
Acara ini juga memberikan ruang bagi musisi muda untuk belajar langsung dari para legenda, mengambil inspirasi dari pengalaman mereka. Beberapa dari mereka mengakui bahwa pertunjukan tersebut membantu mereka memahami struktur dan inti dari jazz yang autentik. Pemilihan lagu-lagu yang dianggap sebagai warisan budaya juga menjadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai musik yang telah mengalami evolusi selama beberapa dekade.
“Kami ingin menunjukkan bahwa jazz Indonesia tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga memiliki karakteristik yang unik, seperti penggunaan bahasa daerah atau tembang tradisional,”
tutur salah satu pemain di panggung tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, para legenda seperti Ermy Kullit, Mus Mujiono, dan Deddy Dhukun sering diundang untuk mengisi acara khusus, tetapi pertunjukan bersama di satu panggung menjadi langka. Karena itu, BuitenJazz Meet The Legends dianggap sebagai kejutan besar bagi penggemar musik yang selama ini mengidamkan momen seperti ini. Selain itu, konser ini juga memperlihatkan peran penting Kota Bogor dalam mengembangkan seni musik, khususnya jazz, sejak era awal. Dengan bantuan organisasi seni dan pendukung lokal, pertunjukan tersebut menjadi bukti bahwa seni mampu berdiri sendiri dalam menghadirkan makna yang lebih dalam.
Antara persiapan dan penampilan, para musisi mengakui bahwa hubungan antara mereka memperkaya alur pertunjukan. Mus Mujiono mengungkapkan, “Kolaborasi ini seperti menciptakan harmoni yang baru, tetapi kami juga terbuka untuk menggabungkan gaya masing-masing.” Ermy Kullit menambahkan, “Kami berharap konser ini menjadi pengingat bahwa musik dapat menyatukan perbedaan, baik dalam aliran maupun latar belakang kehidupan.” Deddy Dhukun, sebagai musisi yang paling berpengalaman, menyatakan bahwa pertunjukan ini memperkuat
