Ribuan jamaah haji dari berbagai negara padati Mina usai lempar jumrah

ac59f501-a848-451d-966e-5acc82e1c602-0

Ribuan Jamaah Haji dari Berbagai Negara Padati Mina Usai Lempar Jumrah

Ribuan jamaah haji dari berbagai negara – Rabu, 28 Mei 2026, sejumlah besar jamaah haji yang berasal dari berbagai belahan dunia meninggalkan Mina, Makkah, Arab Saudi, setelah menyelesaikan ritual melempar jumrah. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji yang paling dinanti-nantikan, dengan partisipasi peserta dari berbagai negara yang terus meningkat setiap tahunnya. Jumlah jamaah yang hadir di Mina mencapai ratusan ribu, menciptakan suasana yang penuh semangat dan keharmonisan dalam menjalani ibadah yang sakral.

Kegiatan Lempar Jumrah: Simbol Ibadah yang Bersejarah

Lempar jumrah menjadi salah satu tanda penting dalam prosesi haji, yang memiliki makna mendalam dalam keagamaan Islam. Ritual ini dilakukan dengan melempar batu ke tiga batu berdiri, yaitu Jumrah Al-Suwwa, Jumrah Al-rahmah, dan Jumrah Al-Kautsar, sebagai bentuk penghapusan dosa. Dalam tahun ini, jamaah haji memilih antara dua waktu pelaksanaan, yaitu Nafar Awal (11–12 Zulhijah) dan Nafar Tsani (11–13 Zulhijah). Kedua opsi ini mengacu pada periode yang berbeda dalam rangkaian ibadah haji, dimana jamaah diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan kondisi pribadi atau kelompok.

“Lempar jumrah adalah momen yang menggambarkan kesatuan jamaah haji dalam menyatukan semangat ibadah,” kata salah satu imam yang hadir di Mina, dalam wawancara dengan ANTARA FOTO.

Dalam penerapan Nafar Awal, jamaah haji mengikuti jadwal yang lebih awal, sementara Nafar Tsani menawarkan kesempatan untuk melaksanakan ritual di waktu yang lebih pasca. Pemilihan waktu ini memperhatikan kemungkinan kepadatan jumlah jamaah di Mina, sehingga mencegah antrean yang terlalu panjang. Jumlah peserta yang terdaftar mencapai sekitar 2,5 juta orang, yang terdiri dari jamaah dari negara-negara seperti Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Turki, dan sejumlah lainnya.

Kondisi Kepadatan dan Pengelolaan Kebersamaan

Usai melempar jumrah, Mina dipenuhi oleh jamaah haji yang berasal dari berbagai belahan dunia. Suasana yang terlihat penuh keharmonisan, dengan jamaah saling berbagi pengalaman dan menjaga keteraturan dalam bergerak. Pihak penyelenggara memastikan kebersihan serta kenyamanan tempat, mengingat jumlah peserta yang sangat besar. Sejumlah ribuan jamaah menggunakan jasa transportasi umum, seperti bus dan angkutan khusus, untuk kembali ke Mekah atau ke hotel masing-masing.

Proses melempar jumrah dimulai sejak fajar dan berlangsung hingga matahari terbenam. Setiap jamaah diberikan batu untuk dilempar ke arah batu berdiri, yang merupakan simbol dari upaya untuk menghapus dosa. Kegiatan ini diiringi oleh nyanyian azan, doa, serta ekspresi kegembiraan para jamaah. Sebagai pengingat, pelaksanaan jumrah di Nafar Awal dan Tsani berbeda dalam tanggalnya, tetapi sama-sama memiliki nilai ibadah yang luar biasa.

Analisis Perbedaan Waktu dan Dampaknya

Perbedaan antara Nafar Awal dan Nafar Tsani tidak hanya terletak pada tanggal, tetapi juga pada kepadatan dan pengaturan waktu. Nafar Awal, yang berlangsung pada tanggal 11–12 Zulhijah, cenderung lebih sepi dibandingkan Nafar Tsani yang berlangsung pada 11–13 Zulhijah. Hal ini karena jumlah jamaah yang lebih besar pada Nafar Tsani, sehingga menyebabkan pergerakan yang lebih intensif. Meskipun demikian, kedua waktu tersebut tetap menjadi pilihan yang populer, tergantung pada kebutuhan dan kondisi setiap jamaah.

Pelaksanaan lemparan jumrah juga memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan. Pihak pengelola menyediakan jalur khusus, serta mengatur kepadatan melalui penerapan sistem antrian. Jamaah haji dari berbagai negara terlihat saling bantu-membantu, seperti saling berbagi air atau makanan, menciptakan suasana yang hangat dan solidaritas. Selain itu, pengunjung juga menikmati suasana penuh kegembiraan, dengan suara berteriak, tawa, dan doa yang menggema di seantero Mina.

Kegiatan Pasca-Ibadah dan Persiapan untuk Tahap Selanjutnya

Setelah selesai melempar jumrah, jamaah haji langsung mempersiapkan diri untuk tahap berikutnya dalam ibadah haji, yaitu melepas pakaian ihram dan bergerak ke Mekah. Kegiatan ini dianggap sebagai penutup dari ritual-ritual utama dalam perjalanan haji, yang mengarah ke momen-momen penting seperti akhir ibadah di Arafat dan bertahal di Muzdalifah. Para jamaah mengambil kesempatan ini untuk beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah.

Pengelolaan penerapan jumrah juga mendapat apresiasi dari jamaah haji yang hadir. Pemenuhan kebutuhan logistik seperti batu, bahan makanan, dan peralatan kesehatan telah dilakukan secara terencana. Selain itu, pihak penyelenggara berupaya menjaga suasana tenang, agar jamaah dapat fokus pada ibadah dan menghindari kejadian kecelakaan akibat kerumunan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa haji bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kebersamaan dan keharmonisan antar jamaah.

Dalam catatan ANTARA FOTO/Citro Atmoko/nym, kehadiran ribuan jamaah haji di Mina menunjukkan semangat ibadah yang tinggi. Selama prosesi, jamaah menunjukkan kepatuhan dan kerja sama, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mereka yakini. Pemilihan Nafar Awal atau Tsani menjadi refleksi keinginan jamaah untuk mengikuti ibadah sesuai dengan kondisi mereka, baik secara fisik maupun spiritual. Keberhasilan pelaksanaan lemparan jumrah pada hari tersebut diharapkan dapat memberikan kesan yang mendalam bagi setiap peserta, sebagai awal dari pengalaman haji yang bermakna.

Proses melempar jumrah di Mina, Arab Saudi, adalah bagian dari kegiatan yang melibatkan ribuan jamaah haji dari berbagai negara. Dengan dua opsi waktu, pihak penyelenggara memberikan kebebasan bagi jamaah untuk memilih sesuai dengan kebutuhan mereka. Apakah itu karena kondisi cuaca, jadwal pribadi, atau keharmonisan dengan kelompok, pilihan ini memperlihatkan fleksibilitas dalam menjalani ibadah yang sakral. Meski ada perbedaan antara Nafar Awal dan Tsani, keduanya tetap mempertahankan makna ibadah yang sama.