Strategi Penting: Bank Dunia: Lonjakan harga energi perlambat ekonomi Asia Timur-Pasifik
Bank Dunia: Kenaikan Harga Energi Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur-Pasifik
Jakarta – Dalam laporan terbaru, Bank Dunia memperkirakan bahwa wilayah Asia Timur dan Pasifik akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun ke depan. Proyeksi pertumbuhan kawasan ini turun menjadi 4,2 persen pada 2026, dibandingkan 5,0 persen di tahun 2025. Lonjakan harga energi global, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, menjadi faktor utama yang menghambat dinamika ekonomi di sana.
Konflik Timur Tengah Berdampak Luas
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur-Pasifik, Aaditya Mattoo, dalam taklimat media secara daring dari Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa konflik di wilayah Timur Tengah menjadi penyebab utama kenaikan harga energi global. Peristiwa tersebut memicu fluktuasi signifikan, yang berdampak pada kestabilan ekonomi negara-negara di kawasan.
“Dukungan yang terukur bagi masyarakat dan perusahaan dapat menyelamatkan lapangan kerja saat ini, sementara menghidupkan kembali reformasi struktural yang tertunda dapat memicu pertumbuhan di masa depan,” ujar Mattoo.
Laporan juga menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan bakar mencapai 50 persen berpotensi mengurangi pendapatan masyarakat hingga 3–4 persen. Negara-negara yang mengandalkan impor energi dianggap paling rentan, terutama menghadapi tekanan neraca perdagangan dan keterbatasan anggaran.
Konteks Ekspor dan Daya Tahan Ekonomi
Dari segi ekspor, kawasan Asia Timur-Pasifik menjadi pengekspor utama pupuk, aluminium, serta petrokimia. Qatar dan Arab Saudi, misalnya, berkontribusi lebih dari 10 persen pada ekspor pupuk nitrogen global. Namun, dampak lonjakan harga energi tergantung pada tingkat keterpaparan masing-masing negara terhadap fluktuasi harga minyak, kerentanan ekonomi, serta kebijakan responsif.
Negara-negara kepulauan Pasifik seperti Fiji, Mikronesia, Tonga, dan Vanuatu dinilai paling rentan. Sementara itu, negara-negara seperti Kamboja, Vietnam, dan Indonesia menunjukkan ketahanan yang lebih baik, didukung oleh cadangan strategis, kapasitas kilang domestik, serta penerimaan ekspor komoditas yang menjadi penyeimbang.
Lonjakan harga energi disebut memperparah hambatan perdagangan, meningkatkan ketidakpastian kebijakan internasional, serta menambah tantangan internal di sejumlah negara. Dengan gejolak geopolitik yang terus berlanjut, Bank Dunia memperingatkan bahwa dampaknya akan berbeda-beda, tergantung pada struktur ekonomi dan kebijakan setempat.

