Special Plan: Rupiah tertekan seiring eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz
Rupiah Mengalami Penurunan Akibat Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz
Special Plan – Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah menunjukkan penurunan yang signifikan, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Jumat pagi, mata uang Indonesia tercatat melemah sebanyak 24 poin atau 0,14 persen, mencapai Rp17.357 per dolar AS. Angka ini mengalami perubahan dari level penutupan sebelumnya di Rp17.333 per dolar AS. Meski diperkirakan akan menguat dalam kisaran sempit antara Rp17.320 hingga Rp17.370, para ahli menyoroti bahwa faktor eksternal masih memengaruhi dinamika pasar.
Analisis oleh Rully Nova: Konflik Global Memengaruhi Rupiah
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa kekhawatiran mengenai eskalasi konflik antara AS dan Iran menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, peristiwa di Selat Hormuz memicu ketidakpastian yang berdampak pada kepercayaan investor terhadap mata uang lokal. Rully menambahkan bahwa kondisi ini mengingatkan akan kembali terjadi volatilitas, terutama jika perang dagang atau krisis energi global berlangsung lebih lama.
“Data NFP diperkirakan turun menjadi tambahan 60 ribu pekerja dibanding kenaikan 178 ribu periode sebelumnya,” kata Rully kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Konflik AS-Iran: Perang Balik dalam Wilayah Strategis
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai puncaknya saat pasukan AS melakukan serangan ke beberapa wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik, dan Pulau Qeshm. Dalam pernyataan kepada Sputnik, Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyebutkan bahwa tindakan AS melanggar gencatan senjata, dengan menargetkan dua kapal Iran dan fasilitas militer lainnya. Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran segera membalas dengan menyerang kapal perang AS di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan.
Menurut Rully, meski situasi di Selat Hormuz dan kota-kota pesisir Iran telah kembali stabil setelah pertukaran tembakan antara kedua belah pihak, dampaknya tetap terasa. “Situasi ini memberikan sinyal negatif terhadap keberhasilan negosiasi antara AS dan Iran,” tambahnya. Tindakan militer yang terjadi di daerah strategis tersebut memicu kecemasan pasar, terutama karena pelabuhan Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi eksportir minyak global.
Perubahan Sentimen Pasar: Faktor Global dan Data Ekonomi
Dalam konteks pasar keuangan, para investor mulai memperhatikan faktor global yang memengaruhi nilai tukar rupiah. Naiknya harga minyak setelah konflik di Selat Hormuz menciptakan tekanan baru, karena pasokan energi bisa terganggu jika ketegangan berlangsung lebih lama. Rully Nova menegaskan bahwa peningkatan harga minyak menjadi salah satu elemen yang tidak boleh diabaikan, terutama dalam situasi ekonomi yang dinamis.
Seiring dengan itu, pasar juga menunggu pengumuman data Non Farm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis Jumat malam. Data ini menjadi indikator penting dalam menentukan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Rully menilai bahwa NFP mungkin menunjukkan penurunan, dengan pertumbuhan pekerjaan yang diperkirakan sebanyak 60 ribu, dibandingkan dengan kenaikan 178 ribu di periode sebelumnya. Dengan adanya data tersebut, Sentimen pasar akan bergeser, tergantung apakah angka NFP menunjukkan keberhasilan ekonomi AS atau sebaliknya.
Pengaruh Cadangan Devisa BI pada Stabilitas Rupiah
Selain data NFP, Bank Indonesia (BI) juga akan mengungkapkan data cadangan devisa (cadev) pada bulan April 2026. Rully Nova memperkirakan bahwa kenaikan cadev akan terjadi, dengan nilai yang mungkin melebihi 150 miliar dolar AS. Ini menjadi indikator utama mengenai kesiapan Indonesia dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar, terutama di tengah ketidakpastian global. Cadangan devisa yang tinggi diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah, meski dampak dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor utama.
Menurut Rully, BI sedang berusaha memperkuat posisi rupiah melalui kebijakan yang tepat, tetapi tantangan tetap ada. “Situasi global yang tidak menentu dan ekspektasi pasar mengenai inflasi serta pertumbuhan ekonomi terus memengaruhi dinamika nilai tukar,” jelasnya. Dia menyoroti bahwa keberhasilan BI dalam menjaga stabilitas cadev akan menjadi penentu dalam upaya memperkuat rupiah di tengah tekanan dari krisis geopolitik.
Krisis Selat Hormuz: Dampak pada Pasar Global
Konflik di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi rupiah, tetapi juga berdampak luas pada pasar keuangan dunia. Sebagai jalur utama pengangkutan minyak, area ini menjadi target utama bagi kebijakan AS dalam memastikan keamanan pasokan energi. Aksi militer oleh kedua pihak, baik dari AS maupun Iran, berpotensi mengganggu aliran minyak ke Eropa dan Asia, yang memicu kekhawatiran mengenai kenaikan harga energi.
Menurut Rully, pasar keuangan internasional mulai memperhatikan perubahan pola harga minyak, karena konflik tersebut bisa mempercepat kenaikan biaya produksi. Selain itu, konflik ini juga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat, sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang muncul dari kenaikan harga energi. “Ini memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara-negara berpenghasilan tinggi seperti rupiah,” kata dia.
Perspektif Jangka Panjang: Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi
Dalam perspektif jangka panjang, Rully Nova menilai bahwa penguatan rupiah tergantung pada beberapa faktor kunci, antara lain pertumbuhan ekonomi domestik dan keberhasilan negosiasi AS-Iran. Meski saat ini situasi di Selat Hormuz terlihat kembali normal, terus-menerus terjadi peristiwa serupa bisa memicu lonjakan harga minyak yang berdampak pada inflasi dan investasi.
Lebih lanjut, Rully menekankan pentingnya kebijakan moneter BI dalam
