Info Terbaru: Suriah, Irak, dan Bahrain kembali buka wilayah udara
Suriah, Irak, dan Bahrain kembali buka wilayah udara
Dari Istanbul – Tiga negara, Suriah, Irak, dan Bahrain, mengumumkan pembukaan kembali wilayah udara mereka setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Informasi ini disampaikan oleh otoritas penerbangan sipil. Kepala Otoritas Umum Penerbangan Sipil dan Transportasi Udara Suriah, Omar Hosari, menyatakan bahwa semua jalur penerbangan yang ditutup sebelumnya kini kembali dibuka, dengan lalu lintas udara di negara tersebut telah stabil kembali.
Aktivitas di Bandara Internasional Damaskus kembali normal, dengan kedatangan dan keberangkatan penerbangan berjalan sesuai jadwal yang disepakati serta memenuhi standar keselamatan internasional, tambah Omar dalam pernyataan yang dilaporkan oleh Kantor Berita SANA. Sebelumnya, otoritas penerbangan sipil Irak juga memberikan konfirmasi bahwa wilayah udara negara itu kembali dibuka setelah penutupan sementara yang dilakukan sebagai langkah pencegahan di tengah ketegangan regional.
“Kami menekankan komitmen untuk menjaga kelancaran penerbangan sesuai standar keselamatan dan keamanan tertinggi,” ujar BNA, yang merujuk pada kantor berita Bahrain. Departemen Urusan Penerbangan Sipil Kementerian Transportasi dan Telekomunikasi Bahrain mengumumkan pembukaan kembali wilayah udara negara tersebut setelah penutupan yang berlangsung beberapa minggu.
Keputusan ini muncul setelah penutupan wilayah udara yang dilakukan sebagai langkah antisipasi akibat meningkatnya konflik regional. Para pejabat sering kali menyoroti risiko keamanan terhadap penerbangan sipil selama masa penutupan. Pada Selasa (7/4), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan persetujuan untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Pengumuman ini dilakukan kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi ancaman kehancuran “seluruh peradaban”.
Ketegangan regional memuncak sejak AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang, termasuk Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Sampai hari ini, otoritas Iran belum mengungkapkan jumlah korban terkini. Teheran membalas serangan dengan tindakan rudal dan drone yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menyimpan aset militer AS. Tindakan ini juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.

